
#35
Sudah hampir jam dua malam tapi mataku belum juga mau terpejam. Rasa kantuk seperti menjauhi ku malam ini, meninggalkanku bersama dengan ketakutan dan kecemasan yang tidak kunjung hilang.
Aku sebenarnya tidak terlalu ambil pusing dengan masalah peretasan akun media sosial ku. Tapi kejadian siang tadi membuatku perlahan mulai khawatir. Aku bahkan di panggil ke ruangan Ketua Jurusan yang sebenarnya kenal sangat baik denganku.
Karena itu Beliau memanggilku ke ruangannya. Ia sudah merasa curiga bahwa tidak mungkin aku yang mengirimkan status story seperti itu.
Setelah mendengar penjelasan ku, ia bersungut marah bahkan berjanji akan membantu ku untuk menyebarkan berita ke semua orang bahwa akun ku di retas, bahwa selama dua hari belakangan ini aku berlepas tangan dari segala postingan atau tindakan yang di lakukan akun media sosialku.
Hengky benar, ini bukan masalah sepele. Teman media sosial ku tidak hanya teman di sekitar ku saat ini, tapi juga teman sewaktu di Pondok Pesantren dulu, keluarga jauh (karena keluarga dekat sudah ku blokir akun nya), teman dari kampus berbeda, juga banyak orang yang sebenarnya tidak ku kenal.
Konfirmasi dari Hengky, Nisa, Alfian dan juga beberapa teman lain yang membantu menyebarkan berita bahwa akun media sosial ku di retas tidak akan menjangkau semua pengikut media sosial ku.
Apa yang harus ku lakukan?
Haruskah aku mencari Shinta dan memintanya menghentikan semua ini?
Atau, apakah aku laporkan kepada polisi saja?
Tapi ketika nanti Polisi meminta konfirmasi dari Orang Tua ku, maka segalanya akan makin kacau.
Orang Tua ku tidak akan membantu ku menyelesaikan masalah, mereka hanya akan memperburuk keadaan.
__ADS_1
Handphone ku bergetar.
Setengah ragu aku meraih handphone, namun kemudian bernafas lega saat melihat nama Hengky yang mengirimkan pesan.
...Pasti belum tidur ya?...
...Jangan khawatir, Sayang....
...Kita pasti bisa ngelewatin semua ini....
...Ini masalah kecil, bisa ku atasi dengan baik....
Tanpa ku sadari senyum ku langsung terukir sempurna bahkan sebelum selesai membaca isi pesan dari Hengky.
Bukankah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan biasanya adalah orang yang tidak pernah berbuat sesuatu?
Satu hal yang ku tahu pasti, jangan pernah menilai seseorang atas kesalahan yang ia perbuat, tapi nilailah bagaimana cara ia bisa memperbaiki kesalahan tersebut.
Dan menurutku, sejauh ini Hengky sudah berusaha dengan sangat baik untuk memperbaiki kesalahan yang pernah ia buat.
Aku merubah posisi tidur menghadap ke dinding lalu mengetik balasan pesan Hengky, bertanya apakah seharusnya aku melaporkan nya kepada polisi saja?
Bukankah saat ini ada Direktorat Tindak Pidana Siber yang bertugas untuk melakukan penegakan hukum terhadap kejahatan siber?
__ADS_1
Tidak sampai lima menit, balasan pesan Hengky masuk,
...Tugas kamu tidur, Sayang. Biar aku yang mikirin masalah ini....
...Jangan mikir macem-macem....
...Kamu punya aku, kamu bisa mengandalkan aku....
Aku kembali tersenyum.
Sepertinya aku bisa mengandalkannya kali ini.
Baiklah... haruskah ku coba tidur saja?
Saat akan memejamkan mata, handphone ku kembali bergetar.
Hengky... katanya tadi dia menyuruhku tidur? Kenapa mengirimkan pesan lagi?
Namun mata ku seketika terbelalak, aliran darah terasa terhenti, sambil gemetar aku mencoba membaca ulang isi pesan di layar.
...Besok siang Abah sama Ibu tunggu di rumah. Naik bis paling pertama....
...Abah tidak menerima alasan apapun. PULANG!...
__ADS_1