
#57
Aku mematung. Untuk sesaat aku bahkan tidak menyadari bahwa tubuhku masih berada disini. Rasanya saat mendengar kalimat Hengky tadi, tiba-tiba aku seperti dibawa pergi ke dalam ruangan kosong tak berpenghuni, berdua bersama kebingungan dan ketakutan yang memeluk diri.
Ya, aku kebingungan mencari kata-kata yang tepat untuk menanggapi ucapannya. Aku memang telah menyiapkan hati untuk mendengar apapun ceritanya. Tapi, cerita tentang ia pernah membunuh seseorang, itu...itu diluar perkiraanku.
“O-okay... lalu?” hanya kata ini yang keluar dari mulutku.
Hengky menghela nafas, “Tenang, Sayang. Aku tidak sampai membunuhnya. Secara teknis, sampai saat ini orang tersebut masih bernafas.”
Aku menarik nafas lega. Sambil tertawa aku menepuk punggung tangannya, “Ya Tuhan... kamu hampir membuatku mati muda karena terkejut!”
“Saat itu hampir saja aku benar-benar membunuhnya jika Kak Andy tidak datang mencegahku.”
Aku tidak merespon ucapannya. Sengaja menunggu kelanjutan kalimat Hengky, membiarkan ia menyelesaikan ceritanya dengan lengkap tanpa menuduhnya sebelum mendengar cerita lengkap kejadian.
“Saat ini orang itu koma. Sudah hampir sepuluh tahun dan orang itu masih saja mengandalkan alat-alat aneh untuk bertahan hidup. Keluarga mereka luar biasa, bukan?” Hengky menyeringai, “Tidak, bukan keluarganya, tapi orang penting yang ada di belakangnya, yang sampai saat ini masih setia melindunginya.”
“Orang itu tidak mungkin kamu hajar habis-habisan tanpa alasan yang jelas, bukan?” Ah, aku tidak bisa menahan mulutku untuk tidak bertanya.
Sudut kanan bibir Hengky naik ke atas, pandangan matanya berkilat penuh emosi, “Orang sialan itu adalah selingkuhan papi. Saat itu mungkin mereka mengira aku sedang tidak ada dirumah jadi Papi membawa selingkuhannya ke rumah ini. Ah, sial! Kenapa aku harus mengotori mataku untuk melihat pemandangan menjijikkan mereka yang sedang bercumbu di dalam kolam renang ini?!”
Ia menghela nafas panjang, “Aku tidak bisa menahan emosi saat itu. Rasanya sampai sekarang pun aku ingin menghajar mereka lagi!”
“Lalu dimana wanita itu sekarang? Apa mereka masih berhubungan?” tanyaku hati-hati. Takut menyinggung atau terkesan memaksanya menceritakan detail pengalaman pahitnya.
__ADS_1
“Dia laki-laki.”
“Apa?’
“Selingkuhan ayahku, dia laki-laki.” Hengky mengulangi kalimatnya.
Seketika aku terdiam. Tanpa sadar mataku melebar, alis terangkat dan tanganku menutup mulut yang menganga. Tidak pernah terlintas sedikitpun saat membaca diary Hengky saat itu bahwa selingkuhan ayahnya adalah seorang laki-laki.
“Ya. Ekspresiku saat itu hampir sama sepertimu. Tidak percaya, merasa jijik, dan merasakan kemarahan yang luar biasa. Di depan mataku mereka dengan tidak tahu malu melakukan perbuatan kotor yang sangat menjijikkan. Ya Tuhan, sudah lebih dari sepuluh tahun tapi kemarahan yang kurasakan masih sama!”
Melihat Hengky yang mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan emosi membuat air mataku jatuh tanpa ku sadari. Aku segera berjalan mendekatinya lalu memeluknya dari belakang. Sungguh luar biasa ia menghadapi banyak permasalahan keluarga sendirian, ia sungguh bekerja dengan sangat baik menutupi dan melawan segala kemarahan. Semesta mengujinya dengan sangat luar biasa.
Hengky memegang tanganku sambil tertunduk. Ia menghela nafas panjang lalu berbisik pelan,
“Siapa bilang? Kamu manusia biasa, Sayang. Kamu boleh merasa lelah, kamu boleh sakit, kamu boleh menangis, kamu juga boleh mengadu padaku tentang apapun yang kamu rasakan.”
Aku berjalan pelan lalu berjongkok di sampingnya. Dengan lembut menghapus air mata dari pipinya sambil tersenyum, “Aku akan selalu ada disamping kamu. Aku janji.”
“Kamu belum mendengar seluruh ceritaku, Naya. Mungkin kamu akan berubah pikiran setelah mendengar seluruhnya.” Hengky menundukkan kepalanya.
Aku meraih wajah Hengky, membimbing wajahnya menatap ke arahku,
“Hey, tidak ada manusia yang sekuat dirimu, Sayang. Kamu lebih kuat dari yang kamu tahu. Lebih cakap dari yang pernah kamu impikan, dan kamu dicintai lebih dari yang bisa kamu bayangkan."
“Aku sayang kamu, Naya. Aku sayang banget sama kamu. Cuman kamu yang aku punya...” Hengky menggigit bibir, menahan air mata yang mulai berkabut.
__ADS_1
“Ya Tuhan, Hengky...”
Melihatku yang akan memeluknya, Hengky segera berdiri lalu menarik tubuhku terlebih dahulu ke dalam pelukannya. Ia terisak, suara tangisannya terdengar pilu.
Selama ini ia selalu berusaha tenang, meskipun sesekali ia mengakui kesulitan mengendalikan emosi namun menurutku ia berhasil mengatasinya dengan baik dalam beberapa kesempatan. Ia hanya merasa sangat kesepian dalam waktu yang sangat lama.
Setelah tangisannya reda, ia melepaskan pelukannya. Dengan kembut meraih wajahku sambil tidak mengalihkan tatapan matanya, secara perlahan pandangan matanya beralih ke bibirku.
“Rasanya aku ingin sekali mencium ini,” jarinya mengusap ujung bibirku lembut, “Tapi aku tahu, aku harus menahannya...”
Nafasku terasa sesak. Detak jantungku menjadi tidak beraturan. Aku menelan ludah sambil tanpa sengaja pandangan mataku justru ikut beralih ke bibir merahnya.
Aku... aku sangat ingin menciumnya. Bibir itu... rasanya sangat menggoda.
Tiba-tiba alarm kencang berdering sangat kencang di dalam pikiranku. Refleks aku memundurkan langkah, membuat tangannya terlepas dari wajahku.
“Ma-maaf... aku... aku...”
“Aku tahu, Naya. Aku tahu. Aku akan menunggu hingga kamu halal untukku. Hingga aku benar-benar layak untuk menjadi suamimu. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”
Hengky tersenyum lembut. Ia mengusap kepalaku lalu mengecup keningku yang tertutup jilbab,
“Love you, Naya.” Bisiknya lembut.
Wajahku menghangat. Dengan penuh keyakinan aku membalas ucapannya, “Love you more, Sayang...”
__ADS_1