Penjara Cinta

Penjara Cinta
Itu Urusanmu


__ADS_3

#32


“Kenapa kamu datang?! Kamu mau menyumpahi aku sial seumur hidup?!”


Aku nyaris tidak mengenali sosok wanita di depanku saat ini.


Bagaimana mungkin hanya dalam waktu sebulan berat badan Shinta berkurang drastis seperti ini?


Ia yang awalnya stabil di angka 50 kg dengan tinggi badan 165 cm, kini mungkin berkurang drastis menyentuh angka 40 kg atau bahkan kurang.


Belum pernah aku melihanya se kurus ini. Pipinya nampak sangat tirus dan warna hitam tampak jelas di bawah matanya. Rambut panjang ikalnya kini sudah di potong pendek se-bahu.


Potongan rambut yang sangat di benci nya dulu.


“Kamu sehat, Ta?”


Entah kenapa pertanyaan itu yang keluar dari mulutku.


Padahal di dalam taksi tadi, aku sudah menyiapkan sumpah serapah, makian, juga berbagai kalimat ancaman untuknya.


Namun begitu sudah duduk di depan nya, melihat wajah nya, hati ku mendadak luluh.


Aku kasihan padanya. Ia terlihat sangat tersiksa.


Shinta tersenyum sinis, ia mengeluarkan rokok dari sakunya, “Apa perduli mu? Bukannya kamu senang melihat hidup ku hancur seperti ini?”


"Menurut mu siapa yang menghancurkan hidup mu?”


Aku tersenyum sambil memposisikan diriku agar jelas melihat wajahnya.


CTAK!


Shinta menyalakan rokoknya. Ia menghisap rokok nya lalu di hembuskan nya tepat di depan wajah ku. Ia menarik sudut bibirnya ke atas, menunggu reaksi ku.


Aku menutup mata namun tidak bergerak sedikit pun. Bersahabat dengannya selama tiga tahun membuat ku hafal di luar kepala kebiasaannya saat depresi atau kehilangan kepercayaan diri.

__ADS_1


Dan aku sangat yakin saat ini ia bukan sedang emosi, tapi menutupi rasa bersalah dengan sikap superior yang sangat ia kuasai.


“Apa kamu minum obat mu dengan baik?”


“Sekali lagi aku tanya, apa perduli mu, Naya?!”


“Kamu tidak suka?”


“Gak usah ber tele-tele! Cepat maki aku, keluarkan semua kemarahan mu lalu pergi dari hadapan ku!!”


Nafas Shinta terlihat memburu. Tangannya gemetar. Dari sorot matanya terlihat jelas bahwa ia mengaku bersalah. Namun bukan Shinta namanya jika ia dengan mudah mengakui kesalahannya. Jelas ia akan mati-mati-an menahan kesedihan yang sebenarnya ia rasakan.


“Aku kesini cuman untuk jenguk kamu, Ta. Masalah kamu yang memfitnah atau membenciku, itu urusanmu. Aku tidak mau melangkahi ranah urusanmu. Urusanku adalah benar-benar memastikan bahwa keadaanmu sudah baik-baik saja.


Oh, ya, bagaimana dengan rasa sesak di daerah dada? Sudah membaik?”


Shinta tertawa keras. Ia sampai terbatuk karena tersedak oleh asap rokoknya.


Sambil mengumpat, ia mematikan rokok.


“Ini yang membuatku sangat membencimu, Naya! Kamu merasa sok kuat! Kamu merasa hatimu yang sok paling tulus! Padahal aku tahu, kamu lemah dan kamu sangat pendendam!”


Apa kamu sudah bisa merelakan sesuatu yang memang bukan milik mu?”


Senyuman sinis di wajah Shinta mendadak hilang. Ia menatap mata ku lalu membelalakkan mata, “Kamu menyindirku?!!”


“Kamu merasa tersindir?”


“Kurang ajar kamu, Naya!!”


“Apa yang kamu bisa hanya marah dan menyalahkan orang lain, Ta? Hanya itu?”


Shinta yang sudah berdiri akan menarik jilbabku langsung terdiam. Ia mengangkat tangannya lalu ditaruh di belakang kepalanya. Beberapa kali ia berjalan mondar-mandir.


Dengan gemetar, tangannya menarik bungkus rokok keluar dari saku lalu berteriak mengumpat saat menyadari isinya sudah habis.

__ADS_1


“Shinta... andai kamu berbicara terus terang kepadaku, bilang bahwa kamu menyukai Andy waktu itu, semua ini gak akan terjadi, Ta. Apapun yang ku rasa saat itu, aku akan mundur dan meminta Andy pergi dariku.


Kamu bahkan ingat waktu kamu bilang tidak menyukai Hengky. Aku menangis datang kesini dan rela melepaskan Hengky jika itu bisa membuat mu kembali.


Persahabatan untukku gak main-main, Ta.


Aku gak pintar bersandiwara pura-pura baik atau berpura-pura menyukai seseorang. Bukannya kita sama, Ta? Bukannya itu salah satu hal yang membuat kita menjadi sahabat?


Lalu kenapa, kenapa cuman gara-gara Andy kamu menghancurkan hidupmu sendiri?”


Tidak ada jawaban dari Shinta. Kakinya sibuk bergerak, tumit kakinya di hentakkan berkali-kali ke lantai. Sorot matanya bergerak ke sana ke mari.


“Aku sedih kehilangan sahabat sebaik kamu, Ta. Aku sedih kamu menyianyiakan hidupmu hanya untuk laki-laki yang bahkan tidak layak untukmu.


Wanita itu berharga, Ta. Dalam agama pun jelas Allah memposisikan wanita dengan sangat mulia. Dengan kemampuan mu, kamu bahkan mampu mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Andy.


Bukannya kamu sendiri yang pernah bilang kalau wanita yang tidak membutuhkan pengakuan apapun dari orang lain adalah seorang individu yang paling ditakuti di planet ini?”


Shinta tertawa pelan. Ia menarik rambutnya lalu kembali mengumpat beberapa kali,


“Omong kosong, Naya. Kamu gak akan tahu gimana rasanya jadi aku. Satu hal yang harus kamu tahu, dari awal aku gak pernah menganggap kamu sahabat, Naya! Kamu yang sudah bodoh tertipu olehku!”


“Itu urusanmu. Apapun yang kamu rasa, yang kamu lakukan, itu urusanmu.


Apa yang aku sampaikan itu dari sudut pandang ku.


Satu hal yang harus kamu tahu, Ta. Tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada menipu orang yang telah mempercayaimu.”


Aku meraih tas ku lalu berdiri. Tidak ada gunanya berlama-lama disini.


Melihat hidup yang dijalani nya sekarang membuatku yakin bahwa aku sudah menang telak tanpa perlu melakukan apapun.


Sebelum pergi, aku menoleh padanya lalu berusaha tersenyum, “Kamu tahu, Ta? Hatimu akan kembali baik-baik saja saat kamu berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang membuat dadamu sesak, saat kamu berhasil merelakan sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu.


Jaga kesehatanmu, Ta. Aku pamit.”

__ADS_1


“Hey! Bilang pada pacarmu! Bisnis Ayah ku tidak akan hancur walau sudah tidak kerja sama dengan perusahaan Ayah nya lagi! Kami tidak akan hancur secepat itu!!”


Aku mengangkat bahu, “Sampaikan saja sendiri, itu urusanmu.”


__ADS_2