
#38
“Dasar kurang ajar!! Berani-berani nya masih menghubungi saya!”
Aku yang sedang membantu Ibu memasak sarapan pagi di dapur segera berlari ke ruang keluarga, terlihat Abah sedang membanting handphone nya ke sofa. Nafasnya terdengar memburu.
“Kenapa sih, Bah?” Ibu yang juga segera keluar kamar mendengar teriakan Abah bertanya pelan.
Sambil melipat tangan di dada, Abah melirik kesal ke arah handphone di sampingnya,
“Lihat! masih berani orang itu menghubungi Abah!”
Aku segera mendekati Abah, “Boleh Naya baca?”
Abah mengangguk.
...Gimana, Pak? Sudah di tanya sama Naya?...
...Saya berani bersumpah kalau informasi yang saya sampaikan adalah benar....
__ADS_1
...Jika Bapak tidak percaya, Bapak bisa bertanya langsung pada Mahasiswa semester akhir bernama Andy Nugroho....
“Tadi Abah balas, kalau berani sini ngomong langsung sama Abah! Tapi gak di balas lagi sama dia.
Abah telfon, nomornya sudah gak aktif. Pengecut!! Abah semakin yakin bahwa semua ucapannya adalah fitnah! Kalau dia benar, tantangan apapun sudah pasti diterima.”
Tanpa konfirmasi dari Abah, aku segera menyalin nomor nya dan ku kirim ke nomor ku. Tidak akan ku biarkan orang ini bisa bebas dari ku.
Setelah apa yang di lakukannya kepada Abah dan Ibu, sampai mati tidak akan kubiarkan dia menjalani hidupnya dengan tenang.
“Bajingan! Berani-berani nya dia memfitnah anak Ibu! Awas aja kalau dia berani kesini, Ibu injak injak badannya!! Se-umur-umur belum pernah Ibu se emosi ini!!”
Tanpa merasa yang di lakukannya salah, Ibu masih melanjutkan caci maki nya. Di sambut oleh anggukan kepala Abah, membuat Ibu makin bersemangat mengeluarkan segala gundah hati nya selama dua hari ini.
Selama dua malam pula Ibu memaksa untuk tidur di kamarku. Ia tidak mengatakan apapun, hanya memelukku saat ku tidur, kembali menyelimuti tubuh ku saat aku menendang selimut karena terasa panas.
Siapa yang berani meragukan kasih sayang seorang Ibu?
Saat seorang wanita menjadi Ibu, itu adalah pertaruhan yang besar dalam hidupnya, memaksanya mengalahkan ketakutan terbesar dalam hidupnya. Ini adalah tindakan optimisme tanpa batas yang hanya dimiliki oleh seorang Ibu.
__ADS_1
Benar adanya, bahwa saat kita kehilangan harapan hidup, kembalilah kepada pelukan Ibu. Hanya api abadi yang ada di dalam hati mereka yang bisa membakar jiwa kita kembali.
Dua hari berada di rumah membuatku terpaksa mengabaikan pesan dan telfon dari Hengky. Hengky yang sibuk mengirimkan pesan teks bertanya bagaimana keadaanku, bagaimana keadaan disini, bahkan ia mengatakan siap ke rumahku jika keadaan diluar kendali.
Dengan latar belakang keluarganya, juga kepribadiannya yang sangat jauh dari tipe menantu idaman Abah dan Ibu, akankah hubungan kami akan terus membaik seperti ini?
“Jangan terlalu percaya dengan orang lain, Naya.
Lihat ini... orang yang meneror Abah pasti orang yang kamu kenal. Dia gak mungkin tahu nomor Abah kalau bukan orang terdekat.”
Aku menoleh lalu mengangguk ke arah Abah. Membenarkan perkataannya.
"Gimana sarapan, sudah siap? Sudah lama Abah tidak makan masakan Naya.”
Abah tersenyum lalu berjalan ke arah ruang makan. Senyuman yang dua hari lalu hilang dari wajahnya kini terukir sempurna. Membuat wajah Abah terlihat bercahaya.
Tidak lama teriakannya terdengar dari ruang makan,
“Nayaa...! Abah mau makan nii...! Mana piringnya?”
__ADS_1