
#18
“Hengky... aku tahu... aku tahu bukan ini yang kita inginkan... Tolong... Tolong berhenti...”
Aku mengemis seperti orang gila. Kakiku berlutut memohon di pangkuannya.
Tidak... aku mengenal Hengky dengan sangat baik. Ini bukan dia... ini bukan dirinya...
“Kenapa, Naya? Kenapa kamu rela memberikannya pada Bajingan ituu dan tidak mau melakukannya untukku?!” Suara Hengky parau. Ia mengusap air mata di pipinya.
Aku menjerit dalam hati. Sakit sekali rasanya melihatnya seperti ini.
“Sayang... maafkan aku... maafkan aku yang tidak bisa berusaha semampuku saat itu...” Aku meraih wajahnya, berusaha membuat kontak mata dengannya, berusaha mencegah nafsu jahat semakin menguasai dirinya.
“Mengapa kamu tidak berusaha mati-matian, Sayang? Apakah kamu juga menginginkannya?”
Aku menggeleng kuat, “Aku gak akan berjuang mati-matian untuk dapat bangkit jika kejadian itu memang yang kuinginkan, Sayang. Demi Tuhan, aku dipaksa! Dia mengancamku..”
Hengky terdiam. Matanya lurus ke arah tubuh ku yang sudah tidak tertutupi kain apapun. Pandangannya penuh luka.
Menyadari tatapan matanya, aku berusaha melindungi tubuh bagian atas dengan tangan kananku dan tubuh bagian bawah dengan tangan kiriku, berusaha membuat kontak mata dengannya, memintanya untuk berhenti, menyadarkannya bahwa ini bukanlah dirinya, bahwa ini..bukanlah yang ia inginkan.
Namun seperti kerasukan, Hengky langsung melompat ke arahku. Ia semakin menggila saat tangannya menyentuh kulitku.. Dengan cepat ia memposisikan dirinya di atas tubuhku, memaksaku agar tetap berada di bawah kendalinya.
Aku melawan sekuat tenaga. Pukulan dan tendangan entah sudah berapa kali aku daratkan ke punggungnya. Teriakan memohon terus keluar dari mulutku.
Alih-alih berhenti, Hengky semakin menggila. Ia semakin gencar memainkan peran tubuhnya. Dengan kasar ia menarik kedua tanganku ke atas, mengunci gerakan tanganku dengan tangan kanannya, merobek dengan paksa pertahanan terakhir dari daerah yang sangat ku lindungi.
Namun tiba-tiba Hengky menghentikan gerakannya. Ia menatapku seolah-olah memberikan waktu kepada matanya mengamati tiap inci tubuh polosku dengan tatapan yang sulit ku mengerti, memberikan waktu kepada memorinya untuk menyimpan tiap peristiwa ke dalam fikirannya.
Dengan suara parau, ia mendekatkan bibirnya ke telingaku, “Kenapa Andy lebih dulu melihat ini daripada aku, Naya..? kenapa kamu membiarkan dia menyentuhmu..?!”
Tanpa menunggu jawaban dariku, ia tertawa, suara tawa penuh kesedihan. Air matanya menetes, matanya memerah.
Aku mulai mengerti, ia terpaksa melakukan ini, membuatku mempunyai harapan kecil bahwa aku bisa menyadarkannya kembali.
“Kamu berbeda, Sayang... Kamu bukan seperti Andy...”
“Jangan sebut namanya di depanku, Naya!!!”
Usahaku gagal. Perkataanku justru membuatnya makin kalap.
__ADS_1
Seperti akan kehabisan waktu, Hengky melepas ikat pinggangnya, menurunkan celananya, lalu menarik kakiku, memposisikan tubuhku kembali tepat di atasnya. Semua dilakukannya dengan sangat terburu-buru, tanpa memberikanku waktu untuk menarik nafas lebih lama.
Mataku terbelalak saat sesuatu tiba-tiba menyeruak masuk di bawah sana. Tanpa aba-aba, dengan gerakan yang sangat kasar.
Otak ku segera memproses apa yang sedang terjadi. Kepanikan secara luar biasa menyerangku, ketakutan memelukku dengan erat.
Begitu telah masuk secara sempurna, Hengky menghentakkan tubuhnya dengan tidak beraturan. Emosi dan kemarahan terasa sangat jelas lewat tiap gerakannya.
Aku menjerit menangis. Ini..sangat menyakitkan. Setiap inci tubuhku terasa menegang, menolak kehadiran dirinya di dalam diriku.
Fikiranku terus mengutuk betapa bodohnya keputusan yang ku ambil sehingga menyebabkanku berakhir disini.
Dasar bodoh! Dasar Bodoh! Dasar Bodoh!
Selang beberapa saat, Hengky mengangkat tubuhku, mendekatkan wajahnya ke daerah leherku, semakin turun ke bawah, lalu bermain lama di dua gundukan yang membulat secara sempurna, lidahnya secara kasar bermain di sana.
Aku makin meronta, menjerit sekuat tenaga, memaksanya melepaskan tanganku yang masih di genggam erat olehnya.
Tidak. Aku sama sekali tidak merasakan apapun kecuali rasa sakit, ketakutan dan rasa kecewa yang sangat dalam.
Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa korban pelecehan seksual ikut menikmatinya, ORANG ITU SALAH BESAR.
Aku tidak merasakan kenikmatan dalam bentuk apapun saat ini. Tubuhku dengan keras menolak setiap sentuhannya, setiap gerakannya. Tiap detik yang berlalu, terasa sangat amat menyakitkan.
Aku merasa tubuhku semakin kotor, semakin menjijikkan, semakin membuatku muak atas tiap nafas yang ku hembuskan. Aku tidak bisa memaafkan diriku kali ini.
Bagaimana mungkin ini terjadi lagi? Bagaimana mungkin aku bisa terjebak kedua kali?
Hengky makin mempercepat ritme gerakannya, nafasnya makin memburu, berulang kali ia menghindari bertatapan denganku.
Bukan... Bukan ini yang ku mau...
Aku rela berkata jujur padanya karena percaya ia mampu mengendalikan emosinya dengan baik.... Aku percaya padanya... aku sangat mempercayainya...
Tidak lama, Hengky berteriak seiring dengan tubuhnya yang menegang diikuti dengan ledakan cairan hangat yang keluar di bawah sana.
Saat tubuhnya melemas, ia ambruk di atas tubuhku.
Lengkap sudah.
Hidupku semakin masuk ke dasar lautan gelap yang tak berujung.
__ADS_1
...-----------------------------------------------------------------...
Aku masih membeku di tempatku tadi. Tubuhku terasa mematung. Fikiranku terasa kosong.
Hatiku memaksa otak untuk tidak mempercayai apa yang telah terjadi. Bagaimana mungkin seorang Hengky yang sempurna dimataku tega melakukan hal rendah seperti ini...?
Tubuhku tidak bereaksi apapun saat Hengky menutupi tubuh polosku dengan selimut tebalnya.
Hatiku terasa sangat sakit. Tubuh bagian bawah terasa berdenyut, perih luar biasa bahkan saat pinggang kugerakkan sedikit saja.
Namun terlepas dari raga yang kelelahan, sesuatu di dalam hatiku berteriak lebih kencang.
KAMU BODOH, NAYA! KAMU BAHKAN TIDAK BERHAK HIDUP SETELAH INI!
“Naya....”
Hengky sudah memakai celananya kembali. Ia merebahkan tubuhnya lalu memiringkan tubuhnya, memelukku.
Aku merinding saat kulitku bersentuhan dengannya. Perasaan jijik dan muak menyeruak disaat bersamaan. Namun aku mendapati tubuhku hanya terdiam tanpa bereaksi apapun.
Aku merasa sudah mati. Semua terasa sangat gelap dan aku sudah sangat lelah menangis.
"Maafkan aku, Naya... Aku... aku hanya ingin benar-benar memastikan apa yang kamu katakan. Otak dan fikiranku menolak mempercayai bahwa kamu sudah tidak suci lagi.
Yang aku lakukan tadi, aku...aku hanya memastikan bahwa kamu tidak membohongiku atau mencari-cari alasan untuk menipuku...”
Bibirku secara otomatis tersenyum, hati dan tubuhku sakit, namun aku tidak mengerti mengapa aku tersenyum saat ini,
”Aku tidak butuh alasan apapun untuk membenarkan apa yang sudah kamu lakukan. Kalian laki-laki pintar sekali mencari alasan. Seakan segala kesalahan yang kalian lakukan adalah mutlak sebuah kebenaran, seakan apapun yang kalian lakukan, itu karena kalian berhak melakukannya.
Tidakkah kalian tahu? Aku adalah korban dari ego dan nafsu kotor kalian? Aku adalah korban, aku satu-satunya korban, tapi kalian selalu terlebih dahulu menyalahkanku sebelum kemudian menyiksaku, selalu membalikkan keadaan, berpura-pura sebagai korban lalu kemudian membunuhku perlahan”
Hengky kembali menangis. Kalimat maaf berulang kali ia ucapkan sambil memeluk tubuhku erat, seakan mencoba mengambil tiap luka dan rasa sakit lewat pelukan yang ia beri.
Tidakkah ia tahu, tidak ada obat untuk mengobati luka ini, tidak ada penawar untuk racun yang telah ia sebarkan di hati dan fikiranku.
Seperti kataku tadi, aku telah mati.
Aku memejamkan mata.
Otak ku terus berfikir, dengan cara apa aku akan mengakhiri hidupku nanti...
__ADS_1
...-----------------------------------------------...