
78
Paman benar. Mengapa sulit sekali mencari jalan keluar padahal jalannya ada di depan mata kita? Namun, permasalahannya sekarang adalah, bagaimana caranya aku bisa menghubungi Fatih padahal aku tidak punya nomor handphone nya?
Iseng aku membuka akun media sosialnya. Oh, Thanks God, dia baru saja mengupdate story.
Aku menekan tombol pesan, mengetik pesan,
“Assalamualaikum, Kak. Maaf ini urgent. Bisa hubungi aku di nomor 0852-0090-xxxx?”
Sedikit membutuhkan keberanian lebih untuk menekan pilihan ‘kirim’. Saat pesan sudah masuk, jantungku berdegup tidak karuan.
Apa yang harus kukatakan saat ia menelepon nanti? Kalimat apa yang lebih dulu harus ku katakan?
Selang lima menit. Handphone ku berdering, kulirik nomor asing yang kuyakini itu adalah Fatih. Perlu waktu beberapa detik sampai aku mengumpulkan keberanian untuk mengangkatnya,
“Assalamualaikum...” Sapaku pelan.
“Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Ini Naya kah?” tanya seorang laki-laki di seberang sana. Entahlah, mendadak aku lupa suaranya seperti apa.
“Kak Fatih?” Aku justru bertanya balik.
Suara tawa terdengar dari seberang sana, “Sepertinya ini memang Naya. Ada apa, dek? Urusan urgent apa yang sampai membuatmu terpaksa menghubungiku lewat akun media sosial?”
Aku terdiam sesaat, mencari kata-kata yang tepat untuk memulai, “Kakak jadi kesini?”
“In syaa Allah sampai disana empat jam lagi. Ini masih di dalam taxi menuju ke bandara. Ini ada apa sih, dek? Sikap kamu kok mencurigakan?”
Lagi-lagi ia memanggilku ‘dek’. Membuatku tidak nyaman. Namun aku rela menekan harga diriku dengan menghubunginya lewat media sosial bukan untuk berdebat dengannya tentang panggilan.
Sambil memejamkan mata aku berkata dengan tempo yang cepat, “Aku ingin kita berhenti.”
“A-apa? Kamu ngomong apa tadi, Naya? Pelan-pelan dong ngomongnya...”
Dia berpura-pura tidak mendengar atau memang benar aku mengatakannya dengan sangat cepat?
“Kak Fatih, aku ingin kita berhenti melanjutkan proses ta’aruf ini.”
“Oh, ternyata saya gak salah denger tadi. Okey, sebutkan alasannya, mungkin bisa saya maklumi,” suara Fatih terdengar datar. Sangat jauh dari perkiraanku yang aku kira bakal marah atau terkejut.
Aku menghela nafas berat, “Aku... aku... mmh... sejujurnya aku melakukan proses ini hanya karena diminta oleh Abah dan Ibu, bukan karena kemauanku sendiri. Aku tidak mencintai Kak Fatih, aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang bahkan tidak kusukai.”
“Jadi ini tentang cinta, ya?” tanya Fatih masih dengan nada yang sama.
__ADS_1
“Apa kakak mau kita menjalani pernikahan tanpa cinta? Bahkan jika kakak baik-baik saja, lalu bagaimana denganku? Pernikahan untukku bukan seperti itu. Setidaknya bukan itu pernikahan yang kuinginkan.” Suaraku perlahan memelan. Kepercayaan diriku entah mengapa menguap entah kemana.
Untuk sesaat aku hanya mendengar suara helaan nafasnya. Keheningan menguasai kami selama beberapa detik. Membuatku merasa dipeluk erat oleh rasa bersalah.
“Apa kamu sudah selesai bicara, Naya?”
“A-apa?” tanyaku bingung. Setelah dari tadi terdiam, dia malah bertanya hal yang tidak berkaitan?
“Kalau sudah selesai, saya mau fokus melanjutkan perjalanan.”
Mendadak aku panik, “K-kak...? Aku tadi sudah bilang....”
“Saya tidak peduli, Naya,” Fatih memotong kalimatku, “Cinta akan tumbuh nanti setelah kita menikah. Akan saya pastikan, kamu akan jatuh cinta dan tidak akan rela jauh dari saya nantinya.”
“Kak... please. Setidaknya, hargai perasaanku. Aku gak bisa dan aku gak mau.”
“Apa yang kurang dariku, Naya?”
Aku terdiam,
Bukan itu yang aku maksud.
Kelebihan apapun yang kamu punya tidak akan membuatku membuka hati!
“Lihat, kamu bahkan tidak bisa menyebutkan apa kekurangan saya yang membuat kamu tidak bisa menerima ajakan saya untuk menikah,” suara Fatih nampak bergetar. Kali ini, luapan emosi terdengar dari nada bicaranya.
“Apa?!” suara Fatih terdengar naik dua oktaf.
“Maaf... aku... aku sangat mencintai orang itu. Aku... aku tidak bisa membayangkan menikah dengan orang lain selain dari dia.”
“Apa Abah dan Ibu tahu tentang ini?”
Aku menggeleng lemah, “Tidak. Tolong... tolong jangan katakan bahwa aku menghubungi Kakak dan mengatakan perihal hal ini,” seruku sambil memohon.
Terdengar suara tawa kecil di seberang sana, “Sampai jumpa di rumah, Naya.”
“Kaak... Tolong...”
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, panggilan telepon telah dimatikan.
Sambil emosi aku kembali menelpon nomor Fatih. Terdengar suara operator yang menyebutkan bahwa nomornya sedang tidak aktif.
Detak jantungku langsung memburu. Tubuhku melemas. Tubuhku sampai terhuyung ke belakang menyadari bahwa kali ini aku malah mengacau.
__ADS_1
Sambil gemetar, tanpa sadar aku menyentuh kontak Hengky dilayar dan menelfonnya,
Saat suara Hengky terdengar, tangisku pecah. Aku menangis sejadi-jadinya sementara suara Hengky terdengar panik.
“Sayaangg….Bawa aku pergi... bawa aku pergi dari sini...” seruku sambil menangis sesegukan.
“Ada apa, Sayang? Ya Allah, kenapa tiba-tiba kamu nangis gini?”
“Kamu selalu cerita tentang keberhasilan kamu disana! Tapi apa kamu tahu aku menjalani hidup seperti di neraka disini?!”
Suara langkah kakinya terdengar semakin cepat. Secara perlahan suara bising yang terdengar sangat jelas berganti dengan suara hening. Rupanya Hengky pindah tempat.
“Naya, tolong, cerita pelan-pelan sama aku, ada apa?”
“Aku bakal menikah dengan orang lain, Hengky Widiyanto! Aku gak punya alasan untuk menolak dia!!” teriakku emosi sambil mengusap air mata yang menghalangi pandanganku.
“Enggak, Naya. Aku adalah satu-satunya tempatmu pulang, aku...”
“Aku gak butuh kata-kata, Hengky! Orang yang akan menikahiku sedang dalam perjalanan kerumah dan aku kehabisan akal harus bagaimana. So, tell me, sementara aku sedang mati-matian berusaha mempertahankan hubungan kita, apa yang kamu lakukan disana?!”
Suara helaan nafas Hengky terdengar jelas. Bibirnya terus beristighfar pelan. Sisi lain diriku menangkap keanehan, terdengar asing untukku, karena Hengky yang ku kenal dulu, tidak seperti ini.
Jika memang situasi sedang mendukung, hatiku akan melunak dan bertanya tentang perubahan kecil ini. Aku menyukai perubahan ini.
Namun situasi mendesak saat ini tidak mengizinkanku mencerna perubahan pada diri Hengky. Aku masih sesegukan, menarik rambut kencang, berusaha melepaskan emosi dan kesedihan.
“Kamu pengen aku gimana, Naya?” suara Hengky terdengar putus asa.
“Lamar aku sekarang juga!”
“Naya, tenang... aku tahu kamu sedang emosi. Ingat, jangan memutuskan sesuatu saat kamu sedang emosi. Kelak itu akan menjadi penyesalan dalam hidup.”
“Apa?! Jadi kamu bilang bahwa kamu akan menyesal kalau melamar aku?!” nada suaraku meninggi.
“Ya Rabbi... bukan itu maksud aku...”
“Lalu apa?! Apa kamu punya jalan keluar lain?!”
Hengky menarik nafas dalam lalu dihembuskannya perlahan. Ia membiarkan aku menunggu selama beberapa detik.
“Sekarang kamu bangun. Mandi, ambil air wudhu lalu shalat dua raka’at. Percaya sama aku, jika Allah bersamamu, Allah yang akan membimbing lisanmu nanti. Ingat Naya, dia datang bukan untuk mengucapkan ikrar suci, bukan? Dia tidak datang bersama penghulu, bukan? Lalu apa yang kamu khawatirkan?”
Mendadak aku seperti tersadar. Suara tangisanku mereda, hanya suara sesegukan yang masih terdengar.
__ADS_1
Hengky benar. Lagi-lagi ia benar.
“Kamu sudah lebih tenang sekarang? Ingat baik-baik, Naya yang ku kenal bukan sosok yang penakut dan pasrah menanti seseorang merendahkannya seperti ini. Naya yang ku kenal sangat cerdas dalam mengembalikan keadaan menjadi berpihak padanya. Simak baik-baik apapun kata-kata yang keluar dari mulutnya dan manfaatkan itu untuk menyerangnya balik.”