
#40
“Siapa itu, Naya?”
Aku yang masih membuka bagasi mobil menjawab Abah tanpa melihat ke arahnya, “Siapa apanya, Bah?”
“Laki-laki itu siapa?”
DEG!
Jantung ku berdetak cepat. Aku segera mengambil tas ku lalu menutup bagasi.
Setengah berlari menyusul Abah dan seketika langkahku terhenti.
Ya Tuhan, Hengky!
Apa yang dilakukannya disini?
Wajahku mendadak pucat, aku buru-buru berlari ke arah Hengky lalu berteriak keras,
“Hey, Bro! Ooh... mau ngambil tugas kelompok kemarin ya? Bentar-bentar tunggu disini.”
Siapapun akan tahu jika aku kesulitan membuka pintu saat ini.
Dengan tanganku yg gemetar, kunci pintu selalu saja meleset.
Sudut mataku menangkap Hengky yang sedang salah tingkah. Ia terlihat bingung harus bersikap seperti apa. Mendadak bertemu Abah mungkin membuat otaknya seketika blank.
Akhirnya terbuka!
Setengah berlari aku menuju ke kamar, menyambar tugas kelompok yang entah tugas mata kuliah apa dan tanggal berapa lalu bergegas kembali ke depan.
“Siapa namamu, Nak?” Abah menepuk pundak Hengky sambil tersenyum.
“Hengky, Om.”
Aku panik, sambil menatap Hengky aku seolah berkata, “Duh... kenapa manggil ‘Om’?! Panggil Pak, Sayaaangg!”
“Sudah sering kesini?”
Aku dan Hengky otomatis saling berpandangan. Mataku secara refleks menatap tajam ke arahnya, memberi kode peringatan.
__ADS_1
“Baru sekali ini, Om. Tadi saya aja salah ngetuk kamar orang, Om. Saya kira kamar Naya yang di seberang, gak taunya yang ini.”
Hengky tersenyum kaku, ia menoleh ke arahku, “Ini tugasnya, Naya?”
“Eh iyaa. Ini...”
Ah, sial. Bahkan anak kecil pun akan tertawa melihat betapa payahnya acting kami. Hengky yang terus tersenyum kaku dan aku yang terus-terusan menekan jari telunjuk dan jempol secara bersamaan.
Abah tertawa, ia kembali menepuk pundak Hengky,
“Susah ya mendekati anak Abah? Anak Abah memang tidak di perbolehkan untuk berpacaran. Kalau nanti Hengky sudah siap, boleh nanti setelah lulus kuliah, setelah mendapat pekerjaan, datang ke rumah. Memang belum tentu diterima sih.. tapi setidaknya itu lebih bermartabat daripada terus berharap, bukan?”
Hengky menggaruk lehernya, ia sedikit menundukkan kepala lalu tersenyum sambil melihat ke bawah. Ia tertangkap basah.
“Rumah Hengky dimana? Disini ngekos juga atau gimana?”
“Gak ngekos, Om. Kebetulan rumah saya sekitar sepuluh menit dari sini.”
“Baik. Hati-hati dijalan ya.”
“Eh?”
Tanpa menoleh ke arahku, ia berjalan menuju mobilnya.
Pantas saja aku tidak mengenali mobil itu tadi. Ia memakai mobil yang lain.
Ah, tidak. Kacau sudah.
“Kamu suka sama Hengky, Naya?”
Abah bertanya sambil masuk ke dalam Kosan.
Aku segera menyusul Abah, menuangkannya minum lalu duduk agak jauh darinya,
“Enggak, Bah...”
Abah tertawa pelan, “Kamu kira bisa membohongi Abah?”
Aku tertunduk, merasa sangat bersalah, “Maaf...”
“Abah tidak menyalahkan mu, Naya. Semua orang normal pasti merasa tertarik pada lawan jenisnya. Itu adalah suatu hal hakiki yang setiap orang pasti pernah dan akan merasakannya.
__ADS_1
Namun, kamu juga pasti sudah tahu bahwa Allah telah menuliskan nama pasanganmu, yang perlu kamu lakukan adalah memperbaiki hubungan dengan-Nya saja. Karena jika kalian mencintai karena Allah, maka cinta kalian tidak akan pernah padam.
Kalau sedang dimabuk cinta seperti ini bahkan angkasa pun tak akan cukup luas untuk membendung perasaanmu, tidak cukup luas untuk meneriakkan nama nya.
Namun kamu tahu, bahwa tidak ada solusi yang lebih baik bagi dua insan yang saling mencintai dibanding pernikahan.
Karena saat ini kalian tidak mungkin menikah, maka solusi satu-satunya adalah menahannya. Abah tahu sangat sulit menahan perasaan cinta. Abah pun dulu seperti itu.
Tapi percaya pada Abah, hasilnya akan sangat manis, sepadan dengan perjuangan yang telah di lakukan.”
Abah ikut tertunduk lalu menoleh ke arahku, “Kamu gak capek nunduk terus gitu?”
Aku tahu Abah menggodaku. Ia tertawa lalu segera berdiri,
“Dimana tempat makan yang enak? Abah lapar.”
“Abah... kalau... kalau Hengky yang datang melamar nanti... menurut Abah gimana?”
Aku tidak berani memandang wajah Abah. Ku alihkan pandangan ku ke bawah, tangan ku terus menekan ujung baju.
“Abah tidak mau mendahului takdir, Naya. Kita serahkan semuanya pada Allah. Allah lebih tahu yang terbaik untukmu.”
"K-kalau...Naya semisal gak nikah-nikah walau sudah usia matang gimana, Bah?”
Abah tertawa. Ia menggelengkan kepalanya sambil berjalan keluar kosan,
“Kalau belum nikah, berarti memang kamu belum menemukan orang yang tepat. Se-simple itu.”
Aku mengejar langkah Abah, menyambar tas dan kunci pintu, sambil mengunci pintu aku tidak bisa menahan untuk menyangkal ucapan Abah.
Setelah aku membalikkan badan, Abah tersenyum lalu membelai kepalaku,
“Naya, sekalipun nanti usia 30 tahun kamu belum menikah, pahamilah bahwa kamu berhak untuk seseorang yang layak.
Jodohmu tidak akan tertukar dengan siapapun, berhentilah gelisah dan tetap lanjutkan hidupmu sampai ia menemukanmu.
Usia hanyalah angka, Naya. Sementara kedewasaan adalah tentang bagaimana kamu bersikap.
Jika kamu menganggap dalam usia tiga puluh dan belum juga menikah adalah sebuah kegagalan, maka ingat baik-baik perkataan Abah, kegagalan itu hanyalah cara Allah untuk mengatakan, ‘bersabarlah, Aku memiliki sesuatu yang lebih untukmu’.
Memang tidak mudah untuk bersabar, tapi, sungguh siapapun yang sabar dan tekun ia akan mekar seperti bunga, akan indah seperti purnama, dan menakjubkan seperti kupu-kupu.”
__ADS_1