Penjara Cinta

Penjara Cinta
Kewajaran yang Tidak Wajar


__ADS_3

69


Sesuai dugaanku. Abah dan Ibu sudah menyewa satu mobil pick up untuk langsung membawa seluruh barang-barangku. Secara resmi, sekarang aku bukan lagi anak kosan dan bukan lagi sebagai mahasiswa.


Pulang dari resto tadi, Hengky yang ternyata sudah terlebih dahulu membayar seluruh tagihan makan tidak diberikan sedikitpun kesempatan untuk mendekat ke arahku. Aku bahkan belum sempat berpamitan dengannya, atau hanya sekedar memberikan senyuman terakhir.


Air mataku tidak dapat kutahan di sepanjang perjalanan pulang. Nenek yang bertanya padaku mengapa aku menangis hanya kujawab singkat, “Naya lagi flu, Nek...”


Bukankah baru saja aku katakan bahwa kebahagiaan baru saja menyapaku? Mengapa ia cepat sekali pergi? Mengapa ia tidak membiarkanku memeluknya lebih lama dan membiarkanku merasakan kehadirannya? Setidaknya sampai aku yakin, yakin bahwa Hengky akan tetap menggenggam tanganku sampai waktu yang tidak dapat dipecahkan dengan logika pendekku.


Ucapan perpisahan yang kudengar hanya, “Hengky pamit ya, Abah, Ibu, semuanya... “


Ia tidak menyebut namaku. Ia hanya tersenyum singkat padaku. Membuat mataku yang sudah berkabut tidak lagi bisa menahan hingga berubah menjadi tetesan air mata saat memandang punggungnya pergi.


Harusnya aku menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Harusnya aku bisa menariknya dan memeluknya sebentar saja. Harusnya aku bisa setidaknya mengucapkan terimakasih.


Terima kasih karena selalu hadir untukku, terima kasih telah menemaniku di segala situasi sulit yang pernah kualami, terima kasih atas cinta dan perhatian yang tanpa pamrih untukku, dan terima kasih, terima kasih tetap mau berlaku sopan kepada Abah, Ibu dan keluarga besarku walaupun mereka tidak memperlakukannya dengan baik.


Mataku menatap punggung Abah dan Ibu yang duduk di depan. Rasanya kebencianku meluap hingga tidak dapat kubendung. Aku ingin berteriak marah, ingin memaki dan melempar apapun yang ada didekatku.


Perayaan wisuda macam apa ini? Jika kehadiran mereka hanya untuk membuatku sengsara seperti ini, sungguh aku tidak mengharapkan kehadiran mereka. Ya, lebih baik mereka seperti Papi dan Mami Hengky yang tidak hadir daripada kehadirannya justru membuat luka sesakit ini.


Hingga kami sampai dirumah, Abah dan Ibu tidak mengucapkan satu kata pun. Jangankan meminta maaf, tersenyum mengucapkan selamat padaku saja tidak.


Rasa lelah karena sejak sebelum subuh sibuk bersiap-siap untuk wisuda tidak kuhiraukan. Sakit di hati lebih tidak dapat kutahan. Lebih perih ditambah sikap angkuh yang orang tuaku suguhkan.


Malam harinya aku menangis habis-habisan saat Hengky menelfonku. Kerinduan ini tidak dapat ku tahan. Aku sangat merindukannya.

__ADS_1


Tidak ada kemarahan atau kekecewaan yang keluar dari mulut Hengky. Ia dengan lembut menasihatiku dan mengatakan bahwa ini hanya sementara. Ia memintaku bertahan sebentar lagi, bahwa apapun yang terjadi, aku adalah tempatnya pulang dan dia adalah pelabuhan terakhirku.


Hingga pagi ini, adalah puncak segalanya. Mereka menyita handphone ku. Satu-satunya media yang menghubungkanku dengan Hengky, satu-satunya tempat yang bisa membuatku terhubung dengan teman-temanku kini musnah.


Aku memandang ibu tidak percaya. Apa yang mereka lakukan padaku seperti menghukum anak kecil seusia Osman. Lagipula, apa kesalahanku?


“Kalau kamu ketahuan menghubungi teman kamu itu lagi, Ibu akan melakukan hal yang lebih parah dari ini!”


“Aku salah apa, Bu? Aku gak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang Abah dan Ibu inginkan,” suaraku tercekat. Berbicara sambil menangis membuat tenggorokanku terasa kering.


“Kamu pikir sendiri, dong! Kamu kan sudah besar, sudah dewasa! Masak kayak gitu aja harus dikasih tau!” Ibu melipat tangannya ke depan dada. Matanya membesar dan suaranya melengking marah.


Aku tertunduk, tidak mampu mengatakan apapun. Karena apapun yang akan aku katakan hanya akan menambah kemarahan mereka menjadi lebih besar. Perkataan apapun yang keluar dari mulutku bagai menyiram bensin ke dalam api.


Abah berdehem keras, ia mengambil handphone ku dari tangan Ibu, “Kamu gak punya kuasa apapun selama masih tinggal di rumah Abah, masih makan dari uang yang Abah kasih dan masih pakai baju dari uang yang Abah beri!”


Gigiku bergemeletuk menahan emosi. Dadaku rasanya sangat sesak hingga terasa akan pecah. Darahku terasa mendidih. Ingin rasanya aku berteriak, “AKU PUN KALAU BISA MEMILIH GAK PENGEN LAHIR DARI KELUARGA INI!!”


Ya, aku sangat terbiasa menahan dan memilah tiap kata yang keluar dari bibirku. Terlalu sering diperlakukan seperti ini membuatku sangat awas terhadap efek yang akan ditimbulkan dari kesalahan kata.


“Mulai besok kamu ikut Ibumu ke Yayasan. Kamu harus mulai belajar mengurus Yayasan! Setidaknya balas jasa Abah dan Ibu dengan tenagamu!”


Semakin banyak kalimat yang Abah ucapkan bibirku semakin banyak beristighfar pelan. Aku memang sudah menyangka selama berada dirumah tidak akan mudah, hanya saja aku tidak menyangka akan separah ini. Bahkan pikiranku yang terlalu sering berpikiran negatif saja tidak pernah terlintas akan merasakan seperti ini.


“Naya mau kerja diluar dulu, Bah. Pengen nyari pengalaman dulu,” Aku mencoba memberanikan diri menjawab ucapan Abah.


“Nyari pengalaman apa? Mau digaji berapa kamu sama mereka? Mau jadi suruhan mereka?” sontak Ibu langsung mematikan kata-kataku.

__ADS_1


Aku tertunduk.


Lalu nanti di Yayasan Ibu, apa bakal dikasih gaji yang sepadan?


“Daripada ngabis-ngabisin tenaga disana, lebih baik berbakti, balas jasa orang tua kamu sebelum kamu diambil orang!”


Secepatnya. Aku akan secepatnya menikah dan pergi dari neraka ini!


Mendadak aku teringat pada obrolan waktu itu saat kami sedang menonton TV bersama. Adikku Ali berkata tentang rencana masa depannya. Ia dengan bebas memilih tempatnya sekolah, di Universitas mana yang ia inginkan, dan di instansi mana ia ingin bekerja nantinya.


Saat itu Ibu berkata.


“Iya, Nak. Ibu setuju, tidak ada salahnya gonta-ganti pekerjaan, anggep aja cari pengalaman hidup.”


Apapun untuk anak laki-laki ku.


Mungkin itu yang ada di dalam pikiran Abah dan Ibu. Adik-adikku yang selalu saja mempunyai hak veto dalam menentukan jalan hidup mereka.


Sedangkan aku? dari dulu aku tidak dibiarkan memilih. Semua harus sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Tempat sekolah, cara berpakaian, teman, pergaulan, semua harus berada dalam pengawasan penuh mereka.


Pernah saat menjelang kelulusan SMA, seluruh teman-temanku mengadakan perpisahan dengan berjalan-jalan ke Pantai. Dan tentu saja, sesuai dengan tebakan kalian, hanya aku yang tidak diizinkan ikut. Aku menjalani sisa hari dengan menahan rasa iri dan sedih melihat teman-teman berbagi foto mereka di media sosial.


Mereka membagikan foto dengan tulisan, ‘Minus anak Mami si Naya Khairunnisa’


Apakah ini wajar? Apakah yang Abah dan Ibu lakukan adalah hal yang wajar? Jika ini memang harus dilakukan, lalu mengapa orang tua teman-temanku tidak melakukan hal yang sama?


Bukankah mereka juga pasti sangat menyayangi anak mereka sama dengan dalih yang selalu Abah dan Ibu katakan tiap kali mereka memerintahkanku atas sesuatu?

__ADS_1


“Kamu dengar Ibu, Naya?!”


Aku tergagap. Dengan lirih aku menjawab pelan, “Iya, Bu...”


__ADS_2