Penjara Cinta

Penjara Cinta
Pandai berpura-pura


__ADS_3

#6


Hari pertama kembali masuk kuliah setelah seminggu absent.


Aku juga sudah pulang kembali ke Kosan ku. Mencoba segala yang ku bisa agar semua bisa kembali seperti biasa.


Sempat terfikir untuk kembali pulang saat mobil Shinta baru saja memasuki gerbang kampus. Jika bukan karena Shinta memegang tanganku, mungkin aku sudah memintanya memberhentikan mobil lalu kabur kembali ke Kosan.


Suasana Kampus masih sama.


Hal ini menyadarkanku apapun yang terjadi pada diri kita, dunia tetap akan berjalan seperti biasa. Langkah apapun yang kita ambil, hanya akan berpengaruh pada diri sendiri, tapi tidak dengan dunia. Segalanya tetap akan berjalan, tetap berputar, meninggalkan kita jika memilih untuk berhenti.


Kerugian hanya milik mereka yang berhenti sementara yang lain terus berlari.


Aku memantapkan langkah kaki, membenarkan posisi pashmina putihku, lalu tersenyum ke arah Shinta


“Siap?” tanya Shinta.


Aku mengangguk mantap.


Seperti biasa, kami berjalan sambil bergandengan tangan.


Melewati tiap orang, memberikan senyuman lalu meninggalkan mereka dengan tatapan kekaguman.


Ya. Aku bisa.


Segalanya akan berjalan seperti biasa.


Deg!


Langkah kakiku mendadak terhenti.


Di depan kelasku, Andy sedang tertawa mesra berdua dengan Mala, teman sekelasku yang dari dulu selalu iri denganku.


Ia memang sudah lama sekali menyukai Andy. Saat mendengar aku dan Andy berpacaran waktu itu, ia mencibir sambil berkata bahwa aku merebut miliknya.


“Wow...Wow...! Lihat siapa yang dataanggg.....”


Mala tertawa sinis diikuti oleh Andy.


Shinta mengeratkan genggaman tangannya, memberikanku kode agar aku tetap tenang.


Tanpa membutuhkan waktu lama, aku langsung bisa menguasai emosiku lalu tersenyum menatap mereka.


“Kenapa? Kangen ya?” tanyaku sambil tertawa.


Mala mendengus kesal, ia berjalan ke arahku lalu mendorong pundakku beberapa kali dengan telunjuknya.


“Hey!!” Shinta emosi. Ia nyaris mendorong tubuh Mala namun ku pegang tangannya, memintanya berhenti.


“Naya... Oh, Naya...! Gimana nih? Aku tau seemuuaaaa nyaaa yang kamu sembunyikan selama seminggu ini...”


“Oh ya? Syukurlah kalau gitu...”


“Apa?!”


Aku kembali tersenyum, menarik Mala mendekat ke arahku, lalu merengkuh kepalanya sambil mengarahkan pandangan mataku ke arah Andy,


“Syukurlah kamu jadi tahu bagaimana nantinya nasibmu bersama Andy...! Aku yang sudah 8 bulan pacaran dengannya saja, pas putus di fitnah habis-habisan, gimana dengan kamu nanti ya? Humm... aku jadi penasaran...”


Sengaja ku keraskan volume suaraku agar semua orang mendengar perkataanku.


Mata Andy membulat tak percaya. Sontak ia berdiri lalu setengah berlari ke arahku.


“KURANG AJAR KA........”


“Santaiii, Brother! Santaaiii...!! Kamu gak malu ngebentak perempuan di hadapan semua orang gini..?!”


Tiba-tiba Hengky sudah berdiri di sebelah ku. Mendorong tubuh Andy, memaksanya untuk tidak melanjutkan perkataanya.


Andy mendengus kesal. Wajahnya memerah menahan emosi. Ia menunjuk wajahku beberapa kali lalu pergi diikuti Mala yang kesusahan mengimbangi langkah kaki Andy.


Hengky tersenyum ke arahku, “Good job, Naya...”


Aku membalas senyumannya singkat.


Jantungku berdetak tidak beraturan, kakiku terasa lemas.


Menyadari keadaanku Shinta buru-buru merangkul pundakku.


“Kamu gak papa, Nay?”


Aku mengangguk.


Aku harus kuat. Aku harus bisa menunjukkan ke semua orang kalau aku baik-baik saja.


“Kita masuk kelas yuk. Dosen sebentar lagi dateng...”


Aku melangkahkan kaki ke dalam kelas diikuti Shinta dan Hengky.


“Guyss...!! Naya sudah sembuhhh, Guys!!”


Teriakan Hengky disambut tawa dan sorak soraii dari teman-teman yang lain.


“Nayaaaa... kamu gak masuk seminggu si Hengky sudah berasa mau mati tuuuu...”

__ADS_1


Celetukan salah satu temanku kubalas senyuman getir.


Ah, laki-laki... awalnya saja terlihat manis, ujung-ujungnya semua sama aja....


...----------------------------------------------------...


“Kamu yakin baik-baik aja, Nay?”


Hengky menarik kursi lalu duduk di sampingku.


“Apa si, Ky... aku lagi makan niii...”


Seperti biasa, Kantin Kampus selalu ramai. Dipenuhi oleh Mahasiswa yang hanya duduk-duduk saja, atau yang sedang berduaan dengan pasangannya, atau bergerombol seperti kami.


“Hengky kehilangan vitaminnya selama seminggu terakhir, Naya. Wajar sekarang dia ngedeketin kamu terus. Kamu kan sumber vitamin untuknyaa....”


Alfian, teman sekelas ku yang duduk berbarengan dengan kami mengedipkan matanya ke arah Hengky.


“Iya gak, Ky?” Ia masih belum puas menggoda Hengky.


Hengky tertawa keras. Ia berdehem lalu kembali menoleh ke arahku, “Kamu sakit apa selama seminggu ini, Nay?”


“Yang penting sekarang aku sudah sembuh, kan?” jawabku sambil terus melanjutkan makan tanpa menoleh ke arahnya.


“YA AMPUUN...!!”


Serentak kami semua menoleh ke arah Nisa yang duduk disebelah Shinta.


“Hey, kenapa sih?!” wajah Shinta agak kesal. Ia terkejut sampai tersedak mendengar teriakan Nisa tadi.


Nisa tidak menjawab, ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya, wajahnya kaget tidak percaya.


Tangan kirinya menyerahkan Handphone kepada Shinta.


Shinta mengambil Handphone sambil sedikit kesal, “Awas aja yaa kalo inii.......”


Kalimat Shinta terhenti. Matanya terbelalak tidak percaya. Ekspresinya persis seperti Nisa.


Aku mengernyitkan dahi, “Ada apa sih?”


Hengky buru-buru menyambar handphone ditangan Shinta.


Pupil matanya bergerak mengikuti tulisan di layar Handphone, rahangnya mengeras.


“Ini apa, Nay?” tanyanya tidak percaya.


Shinta merebut Handphone ditangan Hengky lalu menyerahkannya kepada Nisa.


Ia tersenyum ke arahku lalu meneruskan aktifitas makannya seperti tidak terjadi apa-apa.


“Habiskan makanan mu, Naya. Gak ada apa-apa kok...”


Aku menatap Shinta tidak percaya. Perasaanku mulai tidak enak.


“Apa bener informasi dari status facebook Andy ini, Nay?”


“Hengky!!!”


Shinta berteriak keras. Memberikan kode agar Hengky menutup mulutnya rapat-rapat.


“Dia bilang apa..? Ini ada apa sih?! Gak adil banget kalo cuman aku yang gak dikasih tau gini...”


Fikiranku sudah kemana-mana. Keringat dingin mengucur membasahi telapak tangan.


Alfian menarik nafas, ia menyerahkan Handphone nya ke arahku.


“Lu kasih ke Naya, Gue abisin lu sekarang!!” Mata Shinta melotot ke arah Alfian.


“Biarin dia tau, Ta. Gak adil juga semua orang tau sedangkan dia gak tau apa yang sedang terjadi, padahal ini menyangkut dirinya”


Nisa memegang pundak Shinta, memberikan kode agar Shinta mengalah.


Shinta terdiam, ia menarik nafas berat lalu berdiri dan berjalan ke arahku,


“Jangan kaget, tetap tenang dan jangan bereaksi berlebihan”


Jantungku berdetak makin tidak karuan, aku menelan ludah.


Dan darahku seperti berhenti mengalir saat membaca tulisan di layar Handphone.


...BUAT YANG PENGEN TAU AJA SIH, GUE UDAH GAK SAMA NAYA LAGI....


...YOU GUYS YANG PENASARAN BANGETT NYOBAIN NAYA, SILAHKAAAN!...


...DIA SUDAH SELESAI GUE PAKAI!...


...*btw lu gak bakal nyesel pake dia, emang dia se-enak itu sih! HAHA...


...--------------------------------------------------------------------...


“Apa berita ini bener, Naya?”


Nisa bertanya sambil memegang tanganku, suaranya lirih, terdengar jelas sekali ia sangat berhati-hati agar tidak menyinggung perasaanku.


“Kamu serius nanyain pertanyaan bodoh kayak gini sama Naya?!” Shinta mendengus kesal. Nafasnya masih tidak beraturan.

__ADS_1


Aku mematung.


Aku tahu Andy bakal ngomong kesana dan kesini tentang ku tapi aku tidak percaya ia melakukan perbuatan rendahan seperti ini di media sosial.


Sosok Andy yang ku kenal berbanding terbalik dengan Andy saat ini.


Sebelumnya, ia bersikap sangat rasional dalam berbagai kondisi. Emosinya stabil.


Bahkan saat dia berhadapan dengan beberapa mahasiswa yang menyerang dirinya, menuduhnya memakai dana bantuan sosial bencana alam untuk kepentingan pribadi, tanpa kesulitan ia bisa menyelesaikan masalah itu dengan tenang.


Kalimatnya teratur dan terkonsep dengan baik.


Tapi, apa ini?


Apakah mereka adalah orang yang sama?


Mengapa dalam sekejap menjadi dua pribadi yang berbeda?


“Gak bisa dibiarin, Nay!! Kalau memang yang dia bilang ini gak bener, kamu datengin aja dia! Marahin dia depan umum! Biar gak kebiasaan tuh mulutnya lemesss kayak perempuan!!”


Hengky bersungut kesal. Ia terlihat sama emosi-nya dengan Shinta.


Dari tadi ia berjalan mondar-mandir di dalam kelas yang mulai lengang. Jam belajar telah usai.


“Kalian kenapa marah-marah sih? Santai ajaa... aku juga gak kenapa-kenapa kok”


Aku harus terlihat tenang... aku harus terlihat baik-baik saja...


“Tapi Hengky bener, Nay! Dia harus diberi pelajaran!!” Alfian memukul meja belajarnya.


“Temen-temen... tenang... ini masalah ku, biar aku yang mengurusnya sendiri. Kalian gak perlu repot-repot menunda waktu pulang cuman karena aku...”


“Gak bisa gitu, Nay! Kamu temen kita! Aku gak rela temen aku diginiin! Aku masih inget banget cuman kamu yang mau negor aku sewaktu kita masih mahasiswa baru. Cuman kamu juga yang ngajakin aku makan bareng disaat yang lain gak ada yang perduli sama aku”


“Nisa bener, Nay. Kamu orang baik, gak seharusnya kamu diginiin...” Alfian mencoba lebih meyakinkan aku.


Ada perasaan haru saat Alfian dan Nisa mengatakan kalimat itu.


Jujur, aku tidak pernah mengharap sesuatu dari siapapun.


Aku merasa apa yang ku lakukan, memang sudah seharusnya dilakukan.


Tuhan memang tidak pernah alfa dalam mengingat tiap hal, bahkan yang terkecil sekalipun, yang bahkan kita sendiri sudah lupa.


Selalu ada hikmah di tiap peristiwa.


Selalu ada makna tersendiri di tiap air mata. Tuhan tidak akan mungkin membiarkan kita melewati tiap kesedihan tanpa memberikan pelajaran yang bisa kita tuai.


“Makasih banget kalian sudah perhatian sama aku. Seriously, I Apreciate it. Tapi untuk saat ini, kita jangan melakukan apapun. Biarkan saja ia mengoceh apapun yang dia mau.


Kenapa? Karena itu yang Andy mau.


Dia mau aku bereaksi lalu membuat segalanya makin tidak terkendali.


Kita biarkan saja... kita lihat, sebatas apa kebodohan yang akan ia lakukan...”


“I-iyaa ya... kalau di fikir-fikir, ini bukan kayak Kak Andy yang kita kenal. Dia biasanya tenang dan kharismatik, makanya banyak banget yang nge-fans sama dia. Atau apa mungkin akun facebook dia di hack seseorang?”


Nisa mengerjapkan matanya, membuat ekspresi seolah sedang berfikir keras.


“Ya kaaaaliii seorang Andy yang luarrrr biasaa, akun facebook-nya bisa di hack orang..?!”


Aku menyenggol tangan Shinta, memintanya diam


“Sorry, Nay...! Abisnya aku gregetan sii sama si Nisaa yang superrr polos iniiiii”


“Kalo aku sih gak heran. Semua orang bisa menggila pada saatnya. Apalagi jika ini berkaitan dengan masalah hati atau ego seorang pria...”


Aku mengangguk menyetujui perkataan Alfian. Kini masuk akal kenapa tiba-tiba Andy menunjukkan sisi lain dari dirinya. Mungkin ia terdesak, atau aku sudah sangat menyinggung perasaannya.


“Semua manusia berhak dimaklumi. Kita gak akan mengerti apa yang dirasakan seseorang sampai kita mengalaminya sendiri...”


"Gilaaa...! Ini alasan kenapa aku gak bisa berenti suka sama kamu, Nay! Kata-kata kamu selalu ngebuat aku bungkam”


"Muuulaaiii dehhh sii Hengky....” Shinta mencibir kesal.


Gelak tawa memenuhi seluruh ruangan.


"Oke, kita tunggu aja perkembangan selanjutnya yaa... Untuk saat ini pada bubar deh yaa... Biarin Naya istirahat dulu”


Ucapan Shinta disambut anggukan yang lainnya.


Tanpa menunggu lama, satu persatu dari mereka pergi lalu hanya menyisakan Aku berdua dengan Shinta.


“Sekarang cuman ada kita, kalo kamu mau nangis, silahkan aja... Gak usah ditahan-tahan lagi... ”


Aku tertunduk.


Shinta paling tahu apa yang ku rasa meski aku menyembunyikannya dengan baik.


Tanpa bisa ku tahan, air mataku mendesak keluar.


Suasana kelas yang tadinya lengang berganti pilu dengan suara tangisanku.


Aku, Naya Khairunnisa, si Wanita yang pandai sekali berpura-pura kuat.

__ADS_1


...-----------------------------------------------...


__ADS_2