Penjara Cinta

Penjara Cinta
Lelaki Sempurna


__ADS_3

#61


Hari-hariku terasa seperti aku baru saja memenangkan lotere milyaran rupiah. Tidak ada lagi kabut air mata tiap kali kejadian sore itu terlintas di pikiranku, tidak ada lagi sesak dan serangan panik saat tidak sengaja aku melihat Andy. Hebatnya, aku bahkan sudah bisa tersenyum dan sedikit bercanda dengannya.


Perkataan Hengky pagi itu benar-benar seperti ramuan ajaib yang dapat seketika menyembuhkan trauma dan memberikan cahaya pada gelapnya perjalanan masa depan yang tidak dapat ku gapai.


Sudah enam bulan sejak pagi itu. Pagi hari yang membuatku selalu saja menyukai udara dan sinar matahari pagi. Tiap kali sinar matahari pagi mulai menampakkan dirinya, bibirku otomatis tersenyum, memori ingatanku seolah mengerti dengan menampilkan bayangan senyuman Hengky dan kecupan lembutnya setelah menyematkan cincin di jari manisku.


Cincin yang membuat Ibu berkenyit heran saat aku pulang ke rumah setelah Hengky mengantarkanku ke kosan. Aku menyempatkan pulang karena rasanya tidak sopan menyiksa Ibu yang  mengirimkan chat terus menerus menanyakan, “kapan pulang, Naya? Masih libur, kan?”


“Tumben kamu pake cincin? Dulu Ibu kasih cincin emas malah kamu simpen gak dipake,” tanya Ibu waktu itu.


Aku memalingkan wajah, menyembunyikan rona wajahku yang memerah. Ah entahlah, jika menyangkut cincin ini, aku selalu saja bertingkah berlebihan.


“Dikasih siapa..?”


“Eh, apa?”


Ibu mengangkat kedua alisnya, “Kamu mikirin apa sih? Ibu jadi curiga.”


“Aduh, Bu... Cincinnya ini kembaran sama Shinta. Naya cuman tiba-tiba keinget waktu kami debat mau beli model cincin yang mana yang cocok untuk kami pakai, wajah Shinta waktu itu lucu banget waktu kalah dan berusaha menerima pilihan Naya. Lihat deh, bagus kan pilihan Naya, Bu?” Aku mendekatkan jariku ke arah Ibu yang sedang membaca buku.


Saat panik, nama Shinta begitu saja terucap olehku. Ada sedikit rasa nyeri di hati, menyadari bahwa Shinta sudah tidak di sampingku lagi.


Ibu mengangkat kaca mata sambil matanya menyipit, “Humm... tumben pilihan kamu bagus...”

__ADS_1


“IYA DOONGG...!” seruku bangga.


Padahal aku tahu Ibu memuji cincinku, bukan memuji seseorang yang memberikan cincin ini. tapi aku sudah senang bukan kepalang. Astaga... sepertinya aku benar-benar sedang dimabuk mantra cinta Hengky saat ini.


Butuh waktu lama untuk mengembangkan rasa suka berubah jadi cinta. Berawal dari, ‘Baiklah, tidak ada salahnya ku coba...”, lalu berkembang perlahan menjadi rasa suka dan perlahan tumbuh menjadi cinta.


Langkah yang begitu hati-hati dan perlahan membuat akar dari pohon cinta yang tidak kusadari tumbuh telah menancap kuat di dasar hati. Saat aku sadar, saat itulah ia mulai mengembangkan ranting dan dedaunan yang menyejukkan hati. Membuat rasa sesak saat mengingat trauma sore itu bersama Andy perlahan hilang terbawa oksigen cinta yang terus Hengky berikan padaku.


Ya, aku sangat mencintainya. Sampai membayangkan dia pergi saja rasanya aku tidak sanggup.


Bukan tentang wajah tampannya, bukan pula tentang kekayaan dan kemapanan dirinya, rasa ini tumbuh begitu kuat karena perlakuan dan kesabarannya menghadapiku. Aku luluh, mendapati diriku bertekuk lutut di hadapannya.


Apalagi saat ia menghandle masalah Gilang dan Shinta dengan sangat rapih. Ia sangat menjaga privasi Gilang dari tetangga kosannya saat Ia, Alfian, dan tiga orang lelaki utusan Om Hariyanto datang ke Kosan Gilang untuk mengamankan barang bukti sebagai tindakan antisipasi jika Gilang berulah lagi.


Salah satu dari mereka bertanya pada Alfian tentang apa yang terjadi, bahkan beberapa langsung menembak menuduh Gilang pasti terlibat masalah besar.


Saat Alfian hendak menjawab, Hengky menepuk pundak Alfian lalu tersenyum pada orang-orang yang bertanya sambil berkata,


“Kami hanya utusan dari Yayasan Kasih Bunda. Saudara Gilang terpilih sebagai mahasiswa yang beruntung menerima beasiswa penuh dari Yayasan. Maaf, sebaiknya Ibu-Ibu sedikit mundur, jangan menghalangi langkah kami. Saya tidak bertanggung jawab loh kalau para lelaki kekar itu, yang sedang mengangkut barang-barang saudara Gilang, mendorong atau menyikut Ibu-Ibu karena menghalangi langkah mereka.”


Perkataan Hengky sukses membungkan mulut mereka dan membuat langkah kaki mereka mundur beberapa langkah kebelakang. Beberapa dari mereka bahkan berbisik,


“Gak nyangka yaa sii Gilang orang pinter. Kirain mah kelainan mental...”


Alfian yang saat itu menceritakan padaku tertawa keras saat sampai di bagian ini. Ia menggelengkan kepalanya sambil melihat ke arah Hengky, “Bisa-bisanya Hengky ngomongin si Gilang seolah mahasiswa berprestasi. Makanya gue hampir ketawa waktu denger ibu itu mengira si Gilang kelainan mental. Lah, kan emang bener...! Hahahaha...!”

__ADS_1


“Gilang hanya tidak hidup di dunia yang sama dengan kita, Bro. Jika kita hidup di dunia Gilang, mengalami yang ia rasakan, jangan-jangan kita bahkan lebih sakit dari dia!”


Seketika suara tawa Alfian terhenti mendengar jawaban Hengky. Ia menghela nafas sambil mengangkat bahu. Sejujurnya ia mengakui kalimat Hengky, namun ego nya membuat mulutnya terkunci rapat.


Ya, siapa yang tahu? Kita hanya se-enaknya saja menilai dan menuduh orang lain tanpa tahu apa yang mereka alami, dunia yang mereka tinggali.


Hengky benar, jangan-jangan kita bahkan lebih parah dari Gilang jika menerima perlakuan dan tinggan di dunianya.


Bukan hanya Gilang, Hengky bahkan datang secara pribadi kerumah baru keluarga Shinta dan mengatakan bahwa Shinta juga terpilih sebagai mahasiswi berprestasi yang akan menerima beasiswa penuh dari Yayasan milik Ibunya. Ia meminta Ayah dan Ibu Shinta agar jangan khawatir karena Shinta telah berada di tangan yang tepat.


Ibu Shinta saat itu bahkan sampai menangis sesegukan, berulang kali mengucapkan terima kasih bahwa Hengky tetap mau memperlakukan Shinta seperti dulu terlepas sebesar apapun kesalahan yang telah Shinta perbuat.


Hengky bilang, Ayah dan Ibu Shinta menitipkan salam padaku. Mereka meminta maaf mewakili anaknya karena mereka tahu, Shinta tidak akan pernah meminta maaf padaku.


Ya, aku tahu. Hingga kapan pun, jika aku mengharapkan Shinta meminta maaf padaku, ia tidak akan melakukannya. Mungkin ia rela di penjara daripada harus meminta maaf.


Sesuai kesepakatanku dan Hengky, masalah itu tidak akan kami bawa ke ranah hukum. Karena sejujurnya mereka hanya membutuhkan perhatian khusus dan suasana lingkungan yang lebih hangat.


Toh, masalah yang mereka bawa waktu itu justru membuat hidupku makin tenang.


Saat itu Hengky mengatakan sesuatu yang membuat rasa kagumku makin besar,


“Setiap orang memiliki cerita yang tak terhitung tentang rasa sakit dan kesedihan yang membuat mereka mencintai dan hidup bebeda darimu. Berhenti menilai, cobalah untuk mengerti. Kau tahu, saat kita sibuk menilai orang lain, kita tidak mendefiniskan mereka, kita sedang mendefiniskan diri kita sendiri.”


Lihatlah, dimana lagi aku bisa menemukan laki-laki sempurna seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2