Penjara Cinta

Penjara Cinta
Tanda Tangan


__ADS_3

85


Siang ini ternyata bukan hanya Hengky yang akan datang tapi juga Papi, Mami dan Andy. Aku tidak mengerti mengapa Andy mengikuti Hengky kemanapun ia pergi. Atau apakah mungkin sekarang Andy juga merangkap sebagai asisten pribadi Hengky?


Ibu yang dari malam tadi sudah sibuk mengeluarkan simpanan toples dan piring nampak sangat bersemangat siang ini. Bahkan beberapa saudara pun ikut datang pagi ini membantu dirumah. Karyawan hari ini diliburkan tapi mereka lebih memilih masuk karena ingin melihat seperti apa laki-laki yang sudah melamarku.


Berita tentang proses lamaran super dramatis kemarin dengan cepat menyebar. Bukan... bukan aku yang menceritakan proses lamaran tersebut pada mereka. Tapi Ibu, orang yang paling bersemangat setelah proses lamaran kemarin.


Namun melihat Ibu yang ceria, Abah yang nampak terus tersenyum membuat hatiku terus bertanya-tanya,


Mengapa mereka tiba-tiba setuju dan merestui Hengky?


Ah, lebih tepatnya lagi, aku penasaran setengah mati bagaimana caranya Hengky menyiapkan acara lamaran kemarin. Bagaimana bisa ia mengumpulkan Abah dan Ibu juga saudara-saudaraku tanpa sedikitpun aku tahu.


Ya, aku tidak melihat tanda keanehan apapun pagi itu. hanya pertengkaran kecil antara aku dan Ibu dan diakhiri dengan  pelukan hangat. Selebihnya? Semua berjalan seperti biasa.


“Kamu pakai baju ini, Nak?” Ibu yang sedari tadi mondar mandir tiba-tiba berhenti di depanku.


Refleks aku mengamati abaya polos warna dark olive yang kupakai, “Kenapa bu? Jelek ya?”


“Pakai yang lebih mewah lagi gitu lo. Kamu punya kan gamis brokat gitu...”


“Duh, Ibuu... kan bukan mau ke pestaa...” gerutuku kesal. Entah bagaimana konsepnya jika Hengky melihatku dengan gamis seheboh itu.


“Malu loh, Nay. Itu terlalu sederhana,” tambah Ibu menguatkan argumennya.


“Bu.. Hengky itu gak suka yang heboh-heboh gitu. Dia lebih suka yang simple gini. Naya juga gak PD kalau pakai gamis brokat gitu. Lagipula ini brand Naya sendiri loh, Naya bangga kok makenya.”


“Ini anak dikasih masukan malah ngeyel aja! Yaudah terserah kamu deh!”


Aku mengamati Ibu yang pergi kembali ke dapur sambil menggerutu kesal. Melihatnya mengomel justru membuatku senang.


Aku senang Ibu memperhatikanku. Aku senang Ibu ingin aku terlihat lebih cantik di depan keluarga Hengky.

__ADS_1


“Mbaaakk... itu tamunya udah dateng!” teriakan Gina dari ruang tamu membuatku segera berlari ke cermin besar di samping rak TV. Memastikan penampilanku sudah sempurna setidaknya di mataku.


“Gilaaaaa...gilaaaa!! Itu bawaanya Alphard, Rolls Royce sama Pajerooo!! Luar biasaaaaa kamu, Mbaakkk...!”


Teriakan kagum Gina membuatku tertawa geli, “Kamu sok tau banget, sih! Emangnya hafal merk mobil mewah?”


“Widiiiih... si mbak meremehkan saya! Saya ini kan dulu pas di SMK jurusan otomotif!” Gina menepuk dadanya bangga. Ia mengangkat kedua alisnya beberapa kali sambil tersenyum lebar.


“Oohh pantesan kerjaan kamu gak ada yang bener, Gina! Harusnya kerja di bengkel malah di rumah!”


Celetukan Ibu membuat suara tawa terdengar keras dari saudara-saudara yang lain. Gina ikut tertawa. Itu yang membuat Ibu menyukainya, ia tidak cepat marah. Sangat cocok dengan karakter Ibu yang cepat sekali marah.


“Hey, ayo cepat kedepan! Itu tamunya sudah mau masuk ke rumah!” Abah yang menyembul dari balik gorden ruang tamu membuat aku dan Ibu terkejut.


Ibu menggamit tanganku lalu berbisik pelan, “Ingat! Jangan malu-maluin Ibu.”


Suara berisik seketika memenuhi ruang tengah. Saat menengok kebelakang, semua saudara, karyawan bahkan beberapa tetangga mengerubungi, berebutan ingin mengintip lewat gorden.


“Duh, pada norak, deh! Ibu malu loh sama calon besan!”


“Ciye, Ibuu... yang udah mau punya mantu...”


Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala heran. Dalam hati rasanya masih tidak menyangka bahwa aku sudah dilamar. Selangkah lagi aku akan resmi menjadi Istri dari Hengky Widiyanto, menjadi bagian dari keluarga Widiyanto.


“Ssstt... Mbak....” Anita mendekat padaku, “Itu yang ngelamar Mba yang mana? Yang pakai kemeja hitam atau kaus hitam?”


Refleks aku menengok ke arah pintu pembatas ruangan. Hengky yang memakai kemeja hitam, celana kasual warna grey dan Andy yang memakai kaos polos warna hitam dan celana jeans.


Kenapa mereka memakai warna baju yang sama?


“Mbaa... jangan bilang yang pake kaos warna hitam! Ya Tuhaann.... gilaakkk ganteng bangettt!! Itu artis yaa, mbak??” Resti yang menjerit tertahan membuat mata Ibu melotot.


Aku tertawa pelan, “Yang itu masih single...”

__ADS_1


“Demi apaaa, Mbaaakkk???!” Anita dan Resti secara berbarengan mengucapkan kalimat yang sama. Menyadari itu, mereka sontak saling tatap lalu menutup mulutnya menahan tawa.


“Tapi... calon suami Naya kharismanya lebih luar biasa...”


Aku refleks menoleh, memastikan siapa yang berbicara.


Uwak yang berada di belakang Anita tersenyum lembut padaku, “Kamu beruntung, Naya...”


“Terima kasih, Wak...” jawabku pelan sambil tersenyum. Dalam hati berucap lega bahwa Uwak sudah tidak memusuhiku lagi seperti kemarin.


------------------------------------------------


Ada banyak hal yang bisa terjadi selama empat tahun. Seorang bayi yang baru lahir saja selang empat tahun berikutnya ketika berjumpa kembali ia sudah bisa berlari kencang ke arah kita sambil tak henti mulutnya bercerita atau bertanya banyak hal.


Begitu pula dengan waktu empat tahun yang sudah ku lalui. Entah kejadian apa dan entah seberapa kerasnya usaha Hengky hingga ia berhasil menyatukan kembali Mami dan Papinya seperti ini. Setidaknya, inilah yang tertangkap oleh mata kami. Keluarga Widiyanto yang luar biasa.


Papi nampak santai memakai kaos polos berwarna hitam dan blazer berwarna grey, sedangkan mami, seperti biasa, pesonanya luar biasa padahal hanya memakai dress panjang berwarna mocca polos.


“Jadi, bagaimana, Pak? Apakah Bapak setuju jika acara pernikahannya bulan depan? Karena menurut syariat islam, jika wanita sudah dilamar, maka tidak baik menunda pernikahan terlalu lama. Menghindari kontak yang justru malah membawa ke arah yang tidak baik,” sahut Abah


Papi mengangguk mengerti, ia menoleh ke arah Hengky lalu menepuk pundaknya, “Bagaimana persiapan kamu?”


“Bahkan kalau mau dilaksanakan besok, Hengky siap.”


Jawaban Hengky memicu tawa dari semua orang yang hadir. Aku yang tidak menyangka Hengky akan menjawab dengan perkataan itu hanya bisa menunduk malu.


“Luar biasa. Rupanya Nak Hengky sudah tidak sabar ingin memboyong Naya ke rumahnya,” celetuk uwak yang makin membuat kepalaku tertunduk


“Bukan rumah Hengky, tapi rumah Naya, Wak. Rumah sudah Hengky beli atas nama Naya. Maksud kedatangan Hengky hari ini juga untuk membawa beberapa surat yang memerlukan tanda tangan Naya sebagai pemilik dari rumah yang baru saja Hengky beli.”


Mami tersenyum ke arah Abah dan Ibu, ia mengusap punggung jari Hengky, “Maaf Ibu... anak kami tidak pernah menyukai gadis lain seumur hidupnya kecuali Naya. Jadi, sekali dia menyukai seorang wanita, semuanya diserahkan untuknya...”


Suara kasak-kusuk penuh kekaguman terdengar menggema di belakangku. Aku mendongak, menatap wajah Hengky.

__ADS_1


Ia tersenyum lembut padaku, “Bukankah apapun yang kita keluarkan untuk keluarga kita akan menjadi sumber pahala? Bahkan sepotong makanan yang kita suapkan ke mulut istri bernilai pahala. Karena Naya sebentar lagi akan menjadi istri Hengky, maka Hengky melakukan ini murni untuk mengharap pahala karena Allah, in syaa Allah.”


__ADS_2