
#19
Aku menarik ujung bibirku saat terbangun, mengerjapkan mata saat cahaya terang menyambutku.
Saat kugerakkan pinggang, rasa nyeri luar biasa menyergapku. Perlahan ingatanku mulai kembali, menyadarkanku bahwa hari-hari panjang segera menyambutku.
Hengky tersenyum lembut saat melihatku bangun. Ia sudah terlihat rapi. Entah sudah jam berapa ini.
“Kamu mau mandi atau sarapan dulu?” Tanyanya lembut, sangat jauh berbeda dengan dirinya tadi malam.
“Aku mau mati....”
“Nayaa....” Hengky menggengam tanganku.
Aku menoleh ke arahnya, menatap matanya lalu berusaha tersenyum, “Kamu kembali?”
“Apa?”
“Oh... aku benar. sosok Hengky yang ku kenal sudah kembali...”
Hengky berusaha meraih tubuhku kedalam pelukannya namun kutolak, aku memundurkan tubuhku menjauhi dirinya.
“Tentang tadi malam...”
“Kamu khilaf? Kamu hanya ingin mengujiku? Atau kamu hanya ingin meminta maaf?” Aku memotong kalimatnya dengan cepat.
Hengky terlihat serba salah.
Ia menghela nafas lalu duduk bersender di headboard, “Aku salah, Naya... kamu berhak berkata apapun yang kamu mau. Apapun itu, aku terima”
Mataku kembali berkabut, Aku menahan tangisku dengan mencoba tersenyum sambil menoleh ke arahnya, “Apa gunanya lagi? Berteriak atau mencaci maki tidak akan mengembalikan semuanya, bukan?”
“Naya, bukan hanya kamu yang merasa sakit dan kecewa, aku juga sama! Kamu fikir kenapa aku melakukan itu tadi malam? Karena kemauanku? Enggak, Naya! Aku terpaksa melakukannya...”
Pertahananku gagal. Air mata mengalir deras membasahi pipi. Aku merangkak mendekat ke arahnya,
"Kamu lihat aku, Ky... Lalu, apa menurutmu semuanya salahku? Kamu bahkan gak tahu kan kalau beberapa hari yang lalu aku hampir bunuh diri dengan pisau di tanganku saat Andy datang ke Kosan?”
“Apa?! Berani-beraninyaa bajingan itu datang menemuimu!!”
“Bukan ituuuu Hengky!! Bukan itu yang aku maksud! Aku yang hancurrr! Semua yang terjadi bukan karena aku yang menggodanya, bukan karena aku yang menginginkannya!
Aku diperkosaa, Hengkyy!! Kamu bahkan tidak bertanya mengapa itu bisa terjadi lalu bertindak seenak hati!!
Kamu... kamu tidak ada bedanya dengan Andy...”
Hengky tertunduk. Ia terdiam lama, menyisakan ruangan terdengar sendu dengan suara tangisanku.
“Kamu gak bener-bener sayang sama aku, Hengky... Kalau perasaanmu tulus, kamu gak akan melakukan hal serendah ini kepadaku...”
"Kamu mau kita terus melanjutkan pertengkaran ini sampai malam?”
Aku mengangkat wajah Hengky, mencari maksud pertanyaannya lewat pandangan matanya, “Kita sedang membicarakan akibat dari perbuatanmu, Hengky! Pertengkaran? Kamu masih berfikir ini juga salahku?? Yang benar sajaa, Hengky Widiyanto!”
__ADS_1
Hengky menarik rambutnya lalu berdiri. Nafasnya terdengar memburu.
“Kamar mandi sebelah sana, Naya. Bersihkan dulu tubuhmu lalu kita lanjutkan pertengkaran ini nanti”
Ia pergi keluar kamar setelah mengatakan kalimat itu.
Cara yang sangat praktis untuk menghindari perasaan bersalah, bukan?
Aku tertawa keras.
Menertawakan hiduku yang makin hancur berantakan. Menertawakan betapa Semesta sudah sangat keterlaluan saat ini.
Hubungan kami tidak pernah ada masalah sebelumnya. Aku sampai tidak mengetahui bahwa, pergi, adalah caranya menghindari masalah yang sedang terjadi.
Aku berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi, rasa perih yang luar biasa terasa di bawah sana.
Dan saat air mengenai kulitku, tangisku kembali pecah. Aku meraung, menangis sejadi-jadinya.
...------------------------------------------------...
Saat keluar kamar mandi, sebuah paper bag terlihat mencolok di atas tempat tidur. Aku mengernyitkan dahi lalu melongok kedalamnya.
Ah, ada pakaian, jilbab dan sebuah kertas notes kecil di atasnya.
...Sebelum kamu bangun tadi, aku sudah beli pakaian untukmu....
...Pakai ini dan segera turun kelantai dua....
Aku menarik keluar pakaian yang ia maksud. Sebuah dress panjang dan pashmina dengan warna serupa.
Haruskah aku pergi ke Kantor Polisi setelahnya nanti? Tapi apa yang akan aku katakan?
Aku akan bilang kami bertengkar lalu Ia membawaku ke rumahnya?
Lalu, bagaimana kata Abah dan Ibu nanti?
Bagaimana nantinya cara orang-orang akan melihatku?
Aku menghela nafas. Tidak ada celah untukku membela diri. Semua orang akan tanpa ragu menyalahkanku. Semuanya akan berfikir bahwa aku sedang berhalusinasi.
Tidak akan ada yang membelaku. Tidak akan ada yang mendukungku. Aku harus bisa menyelesaikan ini dengan caraku.
Aku masih terus berkeliling mencari tas yang kubawa tadi malam. Namun walau berputar berulang kali, aku tidak juga menemukan dimana tas kecilku.
Apakah sengaja disembunyikan oleh Hengky?Dimana dia menaruhnya?
Aku melirik pakaian yang dibeli oleh Hengky, bibirku tersenyum sinis.
Kenapa dia harus repot-repot membelikanku baju sementara ia sudah menelanjangiku dengan paksa?
Tidak ada pilihan lain, tidak mungkin aku akan terus membiarkan tubuhku terekspos sempurna seperti ini, bukan?
Setelah memakai dress panjang dan juga pashmina, aku menarik gagang pintu lalu berjalan keluar dari kamar.
__ADS_1
Dua orang pelayan rumah yang sedang membersihkan hiasan bunga dan dinding tersenyum dan mengangguk kepadaku.
Aku membalas senyuman lalu mempercepat langkah kaki.
Bermacam perasaan berkecamuk di dalam fikiranku. Rasanya mereka sedang menelanjangiku, mereka sedang membicarakanku, dan mereka tertawa mengejek sambil melihatku.
Tidak ada yang bisa menyelamatkanku dari tuduhan ini. Aku memang pantas di hakimi.
Hengky yang sudah duduk di meja makan tersenyum begitu melihatku datang mendekatinya.
Ia segera bangun lalu menarik kursi untukku.
“Kemana Ayah dan Ibu?” tanyaku sambil duduk, berbasa-basi.
“Sejak aku kecil, mereka memang tidak pernah ada disini”
Aku yang sedang menyendok nasi goreng tiba-tiba berhenti, menoleh ke arahnya, “Apa?”
Hengky tertawa, ia memegang tanganku, memberikan kode agar Ia yang menuangkan nasi goreng dan beberapa lauk ke dalam piringku,
“Aku tumbuh besar sendirian, Naya. Beserta pelayan, baby sitter dan juga paman-paman di depan...”
“Paman-paman?”
“Security, tukang kebun, dan pengawal pribadi”
“Pengawal pribadi?” Aku makin tidak habis fikir, kehidupan kami seperti bumi dan langit.
Hengky lagi-lagi tertawa, “Dulu... sewaktu aku masih kecil....”
“Ooh...”
“Gimana? Kamu suka masakannya?”
“Kalau ndak sukaa, nanti Ibu bikinin yang Pacarnya Mas Hengky sukaaa...”
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya sudah berdiri di sampingku, menaruh sepiring besar pisang goreng lalu tertawa ke arah kami.
“Ah, ini Bu Parmi... Dia sudah ada dirumah ini sejak aku kecil...” Hengky tersenyum ramah ke arah Bu Parmi.
“Duuh... ini pertama kalinya loh Mas Hengky bawa gadis kerumah ini...” Bu Parmi menyenggol pundakku lalu mengedipkan mata kanannya.
Aku berusaha tersenyum. Sementara teriakan mencaci maki bergema di dalam hati dan fikiranku saat ini.
“Inii... pelayan pelayan disini nyampe ngira Mas Hengky ini Homo karena gak pernah ngeliat Mas Hengky bawa pacarnya kesinii...”
“Buu... kayaknya dipanggil Mbaa Asih tuh di didapur...” Hengky buru-buru memotong kalimat Bu Parmi sebelum Ia merasa lebih dipermalukan lagi.
Bu parmi terburu-buru lari ke dapur. Meninggalkan Hengky yang terus saja mencuri pandang ke arahku.
Aku menarik nafas panjang lalu kuhembuskan perlahan, ku ulangi sampai tiga kali hingga teriakan yang memenuhi hati dan fikiran terhenti.
“Kamu yang pertama, Naya...” Hengky menoleh ke arahku lalu tersenyum.
__ADS_1
“Ya. Sialnya, aku yang pertama. Kenapa harus aku yang menjadi korban pertama-mu?” Jawabku sambil menatap tajam ke arahnya.
...------------------------------------------------------...