
71
Hengky seolah menjadi ramuan ajaib untuk mengatasi hari-hariku yang buruk. Aku tidak lagi merasa kesepian, aku tidak lagi merasa tersiksa menjalani hari demi hari. Kata-kata Hengky yang memintaku untuk bersabar dan menunggunya bagai tempat untuk menggantungkan tujuan final dalam hidup.
Ada seseorang yang menungguku, ada seseorang yang sedang berjuang untukku.
Aku tidak sendirian, semua ini akan berakhir.
Kalimat itu selalu aku dengungkan dalam pikiranku. Kubiarkan berulang kali terucap hingga tertanam kuat di dasar hati. Jadi, jika sesuatu datang dan memaksaku terpuruk, aku tidak akan terjatuh sedalam dulu.
Mantra ajaib itu berhasil. Mantra ajaib itu membuatku fokus memngembangkan diriku sendiri dan membuatku acuh akan perlakuan tidak adil Abah dan Ibu atau lingkungan yang seolah mengasingkan diriku.
Apapun kesempatan yang ada, apapun perintah yang diberikan kepadaku, tidak ada satupun yang ku tolak. Saat Ibu memintaku menjadi Master of Ceremony di tiap ada acara penting Yayasan yang mengundang banyak orang, aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak mempermalukan diriku sendiri. Perlahan dari acara penting di Yayasan lalu berkembang menjadi MC di beberapa acara resmi seminar pendidikan, acara pernikahan dan berbagai acara resmi lainnya.
Beberapa kali pula Abah memintaku menggantikannya mengisi berbagai acara ceramah kecil majelis ta’lim binaan beliau, terasa sangat berat pada awalnya. Tentu saja, aku yang penuh dosa ini berbicara seolah menjadi manusia paling suci di dunia.
Tapi itu awal yang baik. Sesuai dengan yang selalu diucapkan, maka perlahan tubuh dan pikiranku seperti mengikuti lisan dan kata-kata yang selalu diulang. Waktu demi waktu kulalui tanpa lagi paksaan dengan pakaian ini.
Aku mulai merasa nyaman dengan abaya longgar dan jilbab panjangku. Aku mulai merasa pantas mengenakannya, aku mulai merasa bahwa inilah diriku yang sesungguhnya.
Hingga hampir satu tahun berlalu hingga tiba-tiba Abah memanggilku pagi ini sambil menyerahkan sebuah kotak yang terbungkus kertas kado.
Aku menatap Abah tidak mengerti, “Ini apa?”
“Bukalah. Ini buat Kakak.”
Saat Abah atau Ibu berada dalam situasi hati yang baik, mereka akan memanggilku dengan sebutan Kakak, persis seperti panggilan Ali dan Osman padaku.
Ragu aku menerima kotak kecil tersebut. Ibu tersenyum menyerahkan sebuah gunting kecil padaku untuk membuka kotak tersebut.
__ADS_1
Saat kertas kado terlepas, sebuah kotak handphone keluaran terbaru membuat mataku terbelalak kaget campur gembira, “Ini apa...?” tanyaku setengah menjerit kegirangan.
“Ini hadiah untuk Kakak,” jawab Ibu sambil membentangkan tangannya.
Aku berdiri lalu memeluk Ibu, setengah tidak mengerti mengapa tiba-tiba Abah dan Ibu bersikap sangat baik padaku hari ini.
“Ayo, coba buka, Nak...” sahut Abah lembut.
Jariku dengan cepat membuka kotak handphone tersebut lalu mengeluarkan sebuah handphone yang masih terbalut plastik tipis. Hampir saja aku melompat kegirangan jika aku tidak menyadari bahwa Abah dan Ibu masih mengamatiku saat ini.
“Terima kasih, Abah, Ibu...” ujarku sambil tersenyum lebar.
Ibu mengangguk, bibirnya ikut tersenyum lebar. Dengan lembut ia menarik pundakku ke dalam pelukannya, “Maaf ya, Kak. Kakak pasti merasa sangat tersiksa selama setahun terakhir ini. Tapi semua yang Abah dan Ibu lakukan itu hanya untuk kebaikan Naya sendiri,”
“Lihat, penampilan Naya sekarang sudah jauh lebih baik lagi, Naya sudah dikenal dimana-mana sebagai pengisi ceramah majelis ta’lim dan juga seorang MC profesional. Saat Naya fokus untuk memperbaiki diri, maka jodoh yang lebih baik akan datang menghampiri.”
Mendadak aku segera melepaskan diri dari pelukan Ibu, “Jodoh?”
Sudah kuduga. Tidak mungkin Abah dan Ibu seketika memperlakukanku dengan baik jika tidak memiliki motif tersembunyi.
“Jika karena handphone ini Abah dan Ibu memintaku melakukan proses taaruf dengannya, maka terima handphone ini kembali. Sejauh ini aku sudah baik-baik saja tanpa handphone.”
“Namanya Fatih, usianya sudah cukup matang, 28 tahun. Dia seorang trainer terkenal, pemimpin sebuah pondok pesantren besar di Depok. Kamu akan berterima kasih nantinya pada Abah dan Ibu jika berhasil menikah dengan dia. Percaya pada Abah, “ Abah mengeluarkan selembar foto berukuran 4x6 padaku, “Ini fotonya, kamu bisa melihatnya lebih dulu.”
Aku tidak bergeming. Tidak sudi rasanya kepalaku menoleh ke arah Abah.
“Ayolah, Nak. Lihatlah sebentar...” suara Ibu terdengar memohon.
Jika Ibu sudah mengeluarkan nada seperti itu, tidak mungkin aku tetap mempertahankan egoku. Ibu adalah segalanya untukku, aku bahkan rela menyerahkan nyawaku untuknya.
__ADS_1
Setengah hati aku menoleh lalu mengambil foto berukuran 4x6 tersebut. Seorang laki-laki berkulit putih bersih, mempunyai lesung pipi yang mempesona, alis tebal dan wajah yang di atas rata-rata. Sekilas hampir mirip Andy yang berwajah keturunan khas timur tengah.
Sangat mempesona jika saja Hengky belum menguasai seluruh ruang di hati.
“Gimana? Ganteng, kan? Gak kalah kok dari Hengky,” Ibu tersenyum usil sambil menyenggol pundakku. Tatapan matanya penuh harap.
Aku mengangguk namun wajahku nyaris tanpa ekspresi, “Iya, dia ganteng.”
“Dia sudah pernah ngeliat Naya waktu Naya jadi MC di acara peringatan Maulid Nabi di Islamic Centre bulan kemarin. Jodoh memang gak ada yang tahu, ya? Awalnya Fatih tidak sengaja datang karena mengantarkan Abinya ke Islamic Centre. SEwaktu mendengar suara kamu, dia memutuskan untuk masuk,”
“Dan setelah melihat kamu sampai akhir acara, ia mendatangi Abah secara langsung, mengajukan diri untuk menjalani ta'aruf denganmu. Lihatlah cara lelaki terhormat saat menginginkan seseorang menjadi pendamping hidupnya, dia datang langsung kepada orangtuanya, bukan membuat sang wanita mati rasa seperti kamu!”
Aku memejamkan mata menahan aliran darah yang tiba-tiba membumbung ke atas, membuat kepalaku terasa pusing menahan kemarahan.
Bayangan senyuman Hengky yang tiba-tiba muncul membuat dadaku terasa sesak. Mereka bisa membuatku melakukan apapun yang mereka mau, tapi urusan jodoh, aku tidak bisa membiarkannya kali ini.
“Maaf, Abah. Naya gak bisa.”
Ibu menarik nafas masygul, ia memegang tanganku lalu di usapnya lembut, “Abah sama Ibu cuman pengen yang terbaik untuk kamu, Naya. Urusan suami bukan hanya urusan cinta sesaat saja, nantinya kebaikan agama yang paling bisa membuat pernikahanmu langgeng dan damai.”
Aku menoleh ke arah Ibu, menatap matanya memohon pengertian, “Abah dan Ibu pengen apa dari Naya? Apapun akan Naya lakukan tapi tolong, Naya mohon, biarkan Naya memilih calon suami Naya sendiri.”
“Setidaknya lakukan dulu proses ini untuk Abah dan Ibu, orang tuanya adalah sahabat kami. kami sudah menyanggupi, tidak mungkin langsung membatalkannya begitu saja!” Nada suara Abah terdengar mulai meninggi.
Aku mengatupkan bibir. Rasanya ingin sekali pergi dari hadapan Abah dan Ibu lalu menangis sepuasnya di kamarku.
“Kamu tenang saja, Nak. Kami menyerahkan hasil akhirnya padamu. Setelah kamu mengenalnya, terserah apakah kamu akan menerima atau menolaknya,”
Ucapan Ibu bagai angin segar untukku. Untuk keluar dari masalah ini, aku hanya harus berpura-pura menjalani proses ini dengan hati yang terbuka, bukan?
__ADS_1
Baiklah, ini tidak sulit. Berpura-pura adalah keahlianku.