
Jangan lupaa klik like & tinggalkan komentar setelah membaca yaa...
Like & Komen sangat berarti buat akuu.
Terima Kasiiih... 🙏❤️
#23
Aku hampir tidak bisa tidur malam tadi. Perasaanku sangat tidak tenang.
Aku bahkan beberapa kali menelfon Hengky hanya untuk bertanya, kapan pagi datang.
Padahal aku pun tahu, tanpa bertanya padanya, aku tahu jawabannya.
Astagaa... memangnya tidak ada jam dinding di kamarmu, Naya?
Aku terus mengutuk diriku yang selalu menganggu Hengky hanya untuk membagi kegelisahanku.
Perkataan Shinta tadi malam benar-benar membuatku panik setengah mati.
Bagaimana tidak? Ia bilang bahwa ia kabur dari rumah dan sedang bersembunyi di Kosan kekasihnya.
Aku masih sangat hafal yang Shinta katakan tadi malam,
“Tolong... tolong aku... Aku takut, Naya... Aku... Aku kabur dari rumah... Ayah tahu tentang hubunganku dengan Fahri...”
Suara Shinta terdengar berbisik pelan, sepertinya ia bersembunyi ketika menelfonku.
“Ayahku benar. Ayahkuu benaarr... Fahri brengsek, Nayaa....”
Dan saat kutanya dimana Kosan Fahri, suara teriakan seorang laki-laki terdengar membentak Shinta dan panggilan telfon terputus.
Jika kalian jadi aku, apakah aku bisa tenang saat ini?
Dan yang membuatku heran adalah sikap Hengky saat mendengar kabar Shinta.
Aku yang sangat panik menelfon Hengky, memintanya segera ke kamarku lalu kami akan berangkat malam itu juga mencari Shinta hanya dijawabnya,
“Oh? Shinta? Santai, Naya... nanti dia juga bakal pulang sendiri...”
“Dia terjebak, Sayang! Dia gak tau ada dimana saat ini...”
“Tenang saja... percaya sama aku...” Sambil menguap, Hengky mengakhiri telfonnya.
Dan pagi ini sambil Hengky menemaniku sarapan pagi di warung dekat Kampus, ia mengomel habis-habisan karena aku mengeluh kepalaku pusing dan mual karena hampir tidak tidur semalaman.
"Kenapa kamu harus sampai seperti ini sih? Lihat, kalau sudah seperti ini, kamu yang susah sendiri kaan...?”
Aku menunduk. Hengky benar.
"Kita memang bakal nyari Shinta, Naya. Tapi kita butuh tenaga biar bisa berfikir jernih saat mencari Shinta. Lagipula aku tidak yakin Shinta benar-benar terjebak. Bukannya dia bisa pergi sendiri ke Kosan Fahri karena dia tau alamatnya?”
“Dia bukan gak tau alamatnya, Sayang. Dia terjebak gak bisa pulang. Sudah berkali-kali aku cerita, ada suara bentakan laki-laki sebelum panggilan telfon terputus tadi malam”
Hengky menarik nafas kesal. Ia menggerutu sambil menghabiskan sarapannya.
“Kamu kesal karena aku minta tolong kamu buat nyari Shinta? Shinta sahabatku, Hengky. Aku harus ada disaat dia seperti ini.”
“Bukan kamu yang membuatku kesal tapi Shinta. Ah, sudahlah. Habiskan makananmu dan kita akan segera menjemput Shinta”
“Menjemput?”
“Aku tahu siapa itu Fahri, Naya. Sudahlah... kamu mau kita buang-buang waktu?”
Aku tidak menjawab. Perkataan Hengky membuatku bungkam. Lagi-lagi dia benar.
...-----------------------------------------------------------...
Saat Hengky membeli sebungkus besar cemilan dan minuman ringan, aku sibuk bertanya untuk apa ia membeli sebanyak itu.
Namun ketika Hengky menjawab nama kota yang akan kami kunjungi membuatku terdiam. Perjalanan kami tidak sebentar.
“Darimana kamu tahu tentang Fahri, Sayang?”
“Dia temannya Andy. Mereka sama saja. Sama-sama brengsek!” Hengky menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kemudi.
“Boleh aku bertanya?”
__ADS_1
“Sejak kapan aku melarangmu bertanya?!”
Aku menghela nafas,”Bisa gak kamu jawab pertanyaanku dengan lembut tanpa emosi?”
Hengky mengusap wajahnya, ia menoleh padaku lalu tersenyum, “Maaf, Naya... aku sedang memikirkan sesuatu tadi.. Iyaa, kamu mau nanya apa, Sayang?”
“Kenapa hubungan kamu bisa seburuk ini dengan Andy? Bukannya kalian sangat dekat dulu?”
Untuk sesaat Hengky terdiam. Ia menarik nafas panjang lalu dihembuskannya perlahan,
“Wanita yang dilecehkan Andy, yang pernah aku ceritakan dulu, dia adalah Maya.”
“Apa? Maya cinta pertama mu?”
Hengky mengangguk pelan,
“Aku percaya Andy bisa membahagiakan Maya. Tapi ternyata dia malah menghancurkan hidupnya. Lebih parahnya lagi, Andy bahkan menuduh Maya-lah yang menggoda dirinya. Kurang Ajar memang! Bagaimana bisa laki-laki se-pengecut itu!”
Aku terdiam.
Hengky sedang sangat emosi saat ini. Rupanya dia tidak bisa begitu saja melepaskan kenangan itu dari ingatannya.
Apakah mungkin perasaanya pada Maya masih ada?
“Tidak, Sayang... sedikitpun aku tidak ada perasaan apapun lagi pada Maya...”
Aku refleks menoleh ke arah Hengky, membulatkan mata tidak percaya, “Apa kamu punya indra ke enam?”
Hengky tertawa. Ia mengusap kepalaku dengan tangan kirinya, “Kamu satu-satunya, Naya. Kalau bukan kamu ingatkan kemarin, aku malah sudah lupa kalau aku pernah menyukai Maya”
“Naya dan Maya, nama kami mirip, bukan?”
“Wajah kalian juga mirip”
“Apa??”
Lagi-lagi Hengky tertawa melihat wajahku cemberut menahan rasa kesal. Dia sangat tahu, aku paling tidak suka di samakan dengan orang lain.
“Tuh, kaan... apalagi kalau lagi cemberut gini...”
“Hengkyyyyy!!!”
...------------------------------------------------------------------...
Akhirnya kami sampai. Perjalanan yang luar biasa. Tujuh jam di perjalanan membuatku hampir mati bosan.
Berkali-kali kami mampir hanya untuk minum kopi lalu berbicara tentang hal yang tidak penting.
Tentang cuaca hari ini, tentang peperangan antar negara yang sedang terjadi, tentang kelangkaan kebutuhan pokok masyarakat namun para elit pejabat malah menyalahkan rakyat.
Sungguh topik yang sangat tidak penting.
Entah sudah berapa gelas kopi yang kami minum hari ini.
Aku melirik jam di pergelangan tanganku, hampir jam sembilan malam.
Bangunan kosan dua tingkat di depanku saat ini terlihat kurang terurus.
Cat berwarna krem hampir tidak terlihat karena sebagian besar sudah mengelupas. Dan yang membuatku bergidik adalah penerangan yang remang-remang menambah kesan horor pada kosan ini.
Saat Hengky mengajakku masuk, aku terpekik kaget karena hampir saja menginjak bangkai tikus yang tergeletak begitu saja di dekat tangga menuju lantai dua.
Jangan tanya betapa kotornya lantai kosan ini. Aku tahu laki-laki sebagian besar memang kurang perduli terhadap kebersihan, tapi ini, Ya Tuhan... ini kelewatan.
Bagaimana bisa manusia tinggal di tempat sekotor ini?
Perasaan cemas kembali menguasai diri. Bagaimana dengan Shinta di dalam?
Apakah ia baik-baik saja?
Hengky menggedor kamar ketiga dari ujung tangga. Ia berkali-kali memanggil nama Fahri.
Tidak ada jawaban.
“Sayang, mungkin kamu salah kamar?”
Aku bertanya karena mulai ragu bahwa ini kamar yang benar.
__ADS_1
“Lihat, Naya. Ada rak sepatu dan beberapa sendal di sini. Kamar ini persis sama dengan dulu.”
"Shintaa... ini Akuuu....! Jangan takut, buka pintunya, Taa...” Aku berteriak sambil terus mengetuk pintu kamar.
“Naya? Kamu kenapa disini?”
Aku dan Hengky refleks menoleh ke belakang, seseorang yang sangat kami kenal sedang terengah-engah di belakang kami. Terlihat sekali ia sangat terburu-buru untuk sampai disini.
“Andy?” Mataku membulat tak percaya.
Hengky segera menarik tubuhku ke belakang punggungnya, “Apa-apaan ini? Kenapa kamu ada disini?!”
“Aku yang heran kenapa kalian disini?!” Ekspresi wajahnya terlihat kebingungan.
Hengky tersenyum sinis, ia hampir maju ke arah Andy namun kutahan tangannya.
“Kami sedang mencari Shinta” Jawabku tanpa melihat ke arahnya.
“Shinta?? Dia disini??”
“Apa?”
Secara bersamaan aku dan Hengky saling berpandangan.
"Aku kesini karena Fahri menelfon. Katanya dia butuh pertolongan karena ada seseorang yang mau membunuhnya”
“Eh??” Aku makin kebingungan.
Menyadari bahwa dirinya telah tertipu, Andy segera maju dan menggedor pintu Kosan Fahri. Wajahnya tampak sangat kesal.
“Woyy sialaaannn!! Gue sembilan jam nyetir mobill kesiniii, sialaannn!! Buka pintunyaaa atau gue dobraakk!!”
Aku refleks menundurkan langkah. Tanpa kusadari tubuhku mendadak gemetar. Perasaan dingin seperti dengan cepat menjalar ke seluruh tubuhku. Ingatanku segera beralih ke kejadian sore itu, saat Andy memaksa dan mengancamku. Mendengar teriakannya seperti membangkitkan ketakutan yang tertidur di dalam diri.
“Sayang? Kamu kenapa?” Hengky memegang tanganku, “Wajah kamu pucat...”
Aku menggeleng lemah, berusaha mengalihkan fikiranku dari bayangan sore itu,
“I’m Okay...”
Andy semakin kesal saat pintu tidak juga kunjung dibuka. Ia berteriak marah lalu menarik tangan Hengky,
“Bantu Kakak. Kita dobrak pintu ini!”
Mungkin karena suasana yang mendesak, Hengky tidak protes saat Andy memanggil dirinya ‘Kakak’ dan meminta pertolongannya untuk mendobrak pintu.
Bukan hal yang sulit bagi mereka untuk membuka pintu. Dengan tinggi badan Andy 185 cm dan Hengky 189 cm beserta tubuh atletis mereka, itu hal yang mudah.
Saat pintu terbuka, Aku buru-buru berlari masuk ke dalam kamar menyusul Hengky dan Andy yang sudah masuk lebih dulu.
Dan ketika masuk ke ruangan dapur, Hengky buru-buru menarik tanganku dan memelukku dengan erat,
“No, Naya. Jangan lihat..”
Semakin Hengky bilang ‘jangan’ semakin aku meronta meminta di lepaskan.
“Hengky! Bawa Naya keluar dari sini!” Andy berteriak kencang.
Melihat Hengky yang masih berusaha menahan tubuhku dalam pelukannya membuat Andy semakin marah,
“Demi Tuhaan, Hengky! Angkat Naya keluarr dari sinii!!”
“Aku mau lihaattt!! Shintaaa... Shintaaaa!!! Lepasin akuuu!!!”
Hengky mengusap kepalaku, nafasnya naik turun menahan kesedihan yang makin membuatku penasaran apa yang sedang terjadi disini. Perasaanku makin tidak menentu.
Aku tahu. Aku tahu sesuatu telah terjadi kepada sahabatku.
“Aku mohon... Aku mohonnn... Sayangg...?”
Hengky menarik nafas panjang, ia meregangkan pelukannya. Dengan cepat aku mengangkat tubuhku lalu membalikkan badan.
Dan saat mataku menangkap seseorang yang tergeletak di depanku, lututku mendadak lemas, air mata mendadak keluar dan secara tidak sadar aku berlarii ke depan namun di halang oleh Hengky.
Tidaakk... Tidaakk... Ini tidak mungkin terjadiii....
“Shintaaaa!!! Nooo....!!! Shintaaaa!!!!”
__ADS_1
...------------------------------------------------------------...