Penjara Cinta

Penjara Cinta
Memetik Benih Sabar


__ADS_3

87


Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Benar-benar tepat sebulan dari hari ini. Sesuai dengan kata Hengky tadi sebelum pulang, kami tidak perlu repot menyiapkan apapun karena semua sudah di handle olehnya.


Tentang keinginanku untuk memakai gaun pengantin, Hengky mengabulkannya. Ia setuju agar nanti setelah resmi menikah di KUA, kami segera ke tempat yang sudah diatur dengan photographer andalannya bersama kedua orang tua kami.


Tentang tarub, dekorasi, catering, kami tidak memerlukan itu semua. Ya, ini adalah sisi positif dari pernikahan yang hanya terlaksana di KUA.


Mendengar kalimat Hengky yang merinci kemana uang akan dihabiskan sebagai ganti dari pesta pernikahan membuat Abah dan Ibu tidak dapat menolak. Siapa yang bisa menolak tiket umroh plus dan juga sekaligus diberikan uang lebih untuk berbelanja?


Untuk saudara-saudaraku, walau aku tidak yakin Paman Kasim menerimanya, namun yang lainnya dengan senang hati menerima. Menyantap makanan secara gratis selama tujuh kali tanpa batas jumlah pesanan maksimum merupakan tawaran yang cukup menggiurkan daripada hanya menyantap hidangan sekali saja selama sehari.


Dan satu lagi, Hengky tidak menerima amplop atau pemberian apapun untuk pernikahan kami nanti. Jadi para saudaraku berfikir, “Hey, tidak ada ruginya untuk kita!”


Sedangkan untuk pesta kecil yang dimaksud Hengky hanya pesta taman biasa di halaman belakang rumah yang baru saja dibelinya. Sampai saat ini aku sedikit penasaran tentang bagaimana rumah yang surat kepemilikannya baru saja ku tanda tangani tadi siang.


Hengky memberikan banyak sekali therapy shock. Mulai dari lamaran yang tidak kuduga lalu pembahasannya yang dari bahasanya seolah aku dan dia sudah sepakat tentang banyak hal. Padahal, aku pun baru pertama kali itu mendengarnya.


Tapi memang benar, sebagian besar idenya tidak ada yang bertentangan denganku. Seperti biasa, ia sudah sangat lihai menebak isi kepalaku.


Hengky juga bilang, rumah yang ia belikan untukku itu bukan sebagai mahar nantinya. Ia menyiapkan mahar khusus yang tidak ingin ia katakan padaku sekarang.

__ADS_1


Apakah aku penasaran tentang mahar? Jawabannya adalah tidak. Aku tidak peduli mahar apa yang akan ia beri asalkan menikah dengannya saja sudah membuatku bahagia.


Di sela obrolan kami tadi siang, ia sempat bertanya padaku,


“Apa kamu setuju bahwa kita harus menyamakan pola pikir kita dalam mendidik anak nantinya?”


Tanpa berfikir panjang aku langsung menjawab, “Tentu saja. Pendidikan dimulai dari sekarang. Dari siapa pasangan yang kita pilih, itu sudah merupakan pendidikan pertama bagi anak nantinya.”


“Bagaimana menurutmu jika sudah bersusah payah mendidik anak dan nantinya anak kita tidak bisa memenuhi ekspektasi harapan kita? Apakah wajar jika kita menginginkan anak kita menjadi persis seperti yang kita inginkan?”


Aku menatap mata Hengky, memastikan bahwa ia serius dengan pertanyaannya.  Melihat ia yang mengangguk pelan sambil tersenyum seolah mengalirkan keberanian ke dalam diriku,


“Jika kita mempunyai anak nantinya. Hal pertama yang harus kita sadari adalah anak merupakan titipan dari Allah sebagai bentuk bakti kita padaNya. Kita harus paham betul bahwa apapun yang kita berikan, keringat yang kita teteskan, air mata yang mengalir untuknya, semua bernilai ibadah yang tiada hingga,”


“Lalu apakah mengungkit jasa adalah sebuah kesalahan? Dengan penuh keyakinan aku katakan ‘ya!’. Karena jika kita mengungkit kembali segala jasa dan kebaikan yang sudah kita lakukan untuk anak, selain itu sangat menyakiti hatinya juga menggugurkan pahala yang sudah susah payah kita kumpulkan. Padahal kita sadar bahwa kebaikan apapun, sekecil apapun itu bernilai pahala. Tugas kita sebagai orang tua adalah melakukan yang terbaik yang kita bisa, selebihnya biarkan skenario Allah yang berjalan dalam mengatur hidup mereka. Bukankah anak kita pun tidak bisa memilih dilahirkan dari rahim kita? Sekarang pilihan ada di tangan kita sebagai orang tua, apakah kita bisa menerima amanah yang diberikan Allah dengan baik?”


“Ingat sebuah hadits yang menyebutkan, ‘Ada tiga golongan manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah di hari kiamat kelak, tidak akan diperhatikan dan tidak akan disucikan dosa-dosa mereka dan mereka akan menerima azab yang pedih. Lalu saya (Abu Dzar) bertanya; siapa saja itu ya Rasulullah? Sungguh golongan itu termasuk celaka dan merugi. Rasulullah bersabda, Yaitu orang yang memanjangkan pakaiannya melebihi mata kaki, orang yang mengungkit-ungkit kebaikannya, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu,’ Hadits Shahih riwayat Ibnu Majah dalam sunannya 2208 dalam kitab Irwa’ul Ghalil.”


Aku yang dari tadi tidak berani menoleh ke arah Abah dan Ibu lalu memberanikan diri menoleh ke arah mereka. Mencoba tersenyum ke arah mereka. Detak jantungku langsung memburu saat melihat Ibu yang berjalan ke arahku.


Ti-tidak... Ibu tidak akan memarahiku di depan banyak orang, bukan?

__ADS_1


Tubuhku terasa kaku dan pupil mata melebar saat tubuhku justru mendapati Ibu memelukku erat. Sangat erat sambil menangis. Mataku langsung terasa panas, bulir air mata tidak dapat kucegah mengalir membasahi pipi.


Sambil menahan suara tangis, Ibu membisikkan sesuatu di telingaku, “Maafkan Ibu, Nak. Maafkan jika selama ini Ibu menyakiti hati kamu...”


Sejujurnya aku tidak menduga kalimatku bisa menjadi perantara kesadaran Ibu. Merasakan pelukan Ibu, mendengar tangisnya, merupakan kelemahan terbesarku.


Saat aku makin mengeratkan pelukanku, sudut mataku menangkap Abah yang memalingkan wajah, menyembunyikan air mata. Juga Papi dan Mami yang tertunduk dalam serta Hengky yang... tersenyum padaku. Senyuman kebanggaan, yang seolah mengatakan, “You did it! Good job, Naya.”


Tidak, aku tidak melakukan ini untuk diriku. Aku melakukan ini untuk dirinya. Apa yang Abah dan Ibu lakukan padaku tentu tidak ada bandingannya dengan luka yang sudah Papi dan Mami goreskan di hati Hengky.


Jika kalimatku tidak mampu membuat mereka tersadar, Ah, entahlah... mungkin hati mereka sudah mengeras terlalu lama.


Namun melihat kepala mereka yang tertunduk dan jemari Mami yang menggenggam erat tangan Hengky membuat hatiku lega luar biasa. Aku bahagia, jika Hengky bahagia.


Setelah suasana kembali tenang, setelah kami sudah berhasil menguasai diri kami kembali, Abah berdiri lalu berjalan ke arah Hengky,


“Semoga usaha kamu selama hampir enam bulan mendekati Abah dan Ibu bukan hanya bualan, Nak. Abah memutuskan untuk menemuimu selama beberapa bulan terakhir tanpa sepengetahuan Naya murni hanya menginginkan yang terbaik untuk putri Abah. Tunaikan janjimu, tunaikan segala rencana masa depanmu yang sudah kamu utarakan dengan Abah dan Ibu. Kami mempercayai dan jika sudah saatnya nanti kami menyerahkan puteri kami, hati kami akan melepasnya dengan perasaan bahagia,”


“Semoga kamu bisa membuatnya bahagia lebih dari kami, semoga kamu bisa menuntunnya lebih baik dari kami, dan semoga dengan pernikahan kalian nanti, Allah akan menitipkan calon penerus terbaik dalam sejarah keluarga kita.”


Abah tidak bisa menahan tangisnya. Dan aku lebih tidak dapat menahan tangis saat melihat Hengky berdiri lalu memeluk Abah.

__ADS_1


Ya Rabbi, janjiMu itu nyata.


Setelah kesulitan pasti ada kemudahan jika kami mau bersabar.


__ADS_2