
#9
Ada yang berbeda dari hidupku saat ini. Aku tidak terbisa menyembunyikan sesuatu dari Shinta. Segala hal aku ceritakan padanya. Rasanya tiap peristiwa yang aku lewati, jika tidak ku ceritakan padanya, seperti ada yang mengganjal.
Memori otak ku seperti tidak mampu menyimpan segala kejadian sendirian, harus kubagi dengannya agar dapat terekam dengan sempurna.
Namun untuk kali ini berbeda.
Aku menyimpan segala cerita bersama Hengky sendirian. Mesti tentu saja tidak mudah menyembunyikan sesuatu darinya, tapi sejauh ini semuanya berjalan sesuai rencana. Memang beberapa kali ia mencurigai gerak-gerik kami, namun rupanya acting Hengky terlalu sempurna hingga bisa mengelabuhi orang sepintar dirinya.
Kami tentu saja belum resmi berpacaran.
Tidak mudah bagiku menerima orang baru masuk kembali ke dalam bagian dari hidupku. Seperti kata Shinta waktu itu, aku harus ekstra hati-hati memilih partner baru untuk menjalani hidupku.
Lalu bagaimana dengan hatiku?
Apakah ia sudah mencair seiring berjalannya waktu?
Aku akui, Hengky telah berhasil memecahkan batu es yang melindungi hatiku. Perlahan memberikan energi untuk dapat kembali merasakan kehangatan dari tiap ucapan, perhatian atau tatapan penuh makna darinya.
Sudah tidak terhitung lagi beberapa kali ia mengirimkan Ojek Online ke Kosanku tiap kali aku bilang, aku tidak nafsu makan. Tanpa banyak tanya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan mengatakan bahwa kiriman makanan itu berasal darinya.
Awalnya aku bersikap biasa. Tapi ia terus melakukannya selama empat bulan semenjak ia mendatangiku di Perpustakaan waktu itu.
Empat bulan yang lalu dan empat bulan pula aku nyaris tidak mengeluarkan uang saku untuk membeli makanan apapun yang aku mau.
Atau saat ada film baru di Bioskop.
Hengky sangat tahu aku suka sekali menonton film ber-genre Romance. Ia memang tidak mengajakku menonton bersama karena katanya ia menghormati keputusanku untuk memberikan aku waktu. Tapi, ia memesan tiket lewat online, dua seat untuk ku dan Shinta, mengirimkan bukti e-tiket kepadaku, dan menyuruhku untuk menonton film berdua bersama Shinta.
Shinta tentu saja tidak banyak bertanya. Kalau masalah menonton film, ia tidak perduli siapa yang membeli tiketnya, asal ia bisa ikut menonton bersama.
Sudah tidak terhitung lagi pula pesan teks yang ia kirimkan saat kami sedang berada di kelas.
Selama ini aku mengira pacaran dengan teman satu kelas itu rasanya akward dan tanpa privacy. Tapi aku salah, Hengky membuat segala moment yang biasa menjadi romantis seketika.
Saat kami sedang sama-sama mengobrol di Kelas, saat aku sedang asyik mengobrol dengan teman-temanku dan dia sedang bersama teman-temannya.
Tiba-tiba ia mengirimkan pesan teks,
...Gimana Go Food yang tadi malem? Aku nyoba Restoran baru, enak gak?...
Atau pesan,
...Hey, mau tahu gak kenapa aku gak mau nyerah sama kamu?...
...Karena alam semesta telah bersekutu untuk membantuku menemukanmu,...
...Lalu bagaimana bisa begitu saja aku melepaskan tanggung jawab itu?...
Juga terkadang kalimat sesimple,
...Senyum, Naya......
...Kamu tahu? Senyum mu adalah pertunjukan magic terhebat dalam hidupku...
Dan selalu saja, saat aku langsung menoleh ke arahnya, ia akan berpura-pura tidak terjadi apa-apa atau terkadang hanya mengedipkan mata kanannya lalu kembali mengobrol bersama teman-temannya.
__ADS_1
Bagaimana bisa hatiku tidak luluh saat pesan seperti itu setiap hari memenuhi history chat-ku?
Bulan pertama, aku masih menganggapnya biasa, Bulan kedua, aku mulai tersenyum saat menerima chat dari nya, Bulan ketiga chat darinya membuatku candu, seakan mulai ada yang kurang jika pesan darinya belum masuk di notifikasi handphone ku.
Apakah sudah saatnya hatiku menerima penghuni baru?
Atau, apakah aku terlalu terburu-buru?
...----------------------------------------------------...
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam tapi mataku belum juga dapat terpejam. Tubuhku terasa ngilu luar biasa, bahkan untuk hanya berjalan ke arah meja di samping ranjang tempat tidur, sudah membuatku kelelahan.
Keringat dingin mengucur keras membasahi baju. Detak jantungku pun terasa lebih cepat dari biasanya. Mulut terasa kering dan mataku rsanya sakit sekali melihat cahaya lampu.
Buru-buru ku ambil Termometer di laci meja. Empat Puluh derajat celcius.
Ya Tuhan... aku demam tinggi. Pantas saja rasanya seperti mau pingsan.
Sambil gemetar, aku meraba laci meja, mencari obat penurun panas namun tidak ku temukan disana.
Bagaimana ini? Aku tidak bisa keluar membeli obat sendirian saat ini.
Ah, Ya. Aku mencoba order layanan pesan di aplikasi ojek online.
Jariku sibuk menekan layar sambil menahan perih saat mataku terkena sinar Handphone. Beberapa kali ku pesan, semua driver menolak.
Aku makin kebingungan.
Terlintas nama Shinta. Walau aku tahu tidak sopan rasanya menghubunginya tengah malam, tapi saat ini aku tidak punya pilihan.
Mungkin dia sudah tidur... mungkin Handphone nya di setting mode senyap.
Lama aku terdiam sambil memejamkan mata. Mungkin aku tunggu saja pagi datang, sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan saat ini.
Namun, Ah... kepalaku mendadak pusing luar biasa. Kakiku terasa tidak menginjak bumi. Tubuhku limbung dan langsung terjatuh.
Tidak mungkin. Aku tidak mungkin bisa menahan sakit seperti ini sampai pagi.
Aku tidak akan kuat menanggung ini sendirian.
Dengan posisi merangkak aku berusaha bangun lalu meraih ujung tempat tidur. Susah payah naik lalu merebahkan badan.
Saat sedang berusaha tidur, aku merasa Handphone ku bergetar.
Ah, Shinta. Itu pasti Shinta.
Tanpa melihat nama pemanggil aku buru-buru mengangkat panggilan,
“Halo, Naya...”
Ini bukan suara Shinta.
“Ya....?” Aku menjawab lemas
“Belum tidur?” Suara Hengky terdengar dari seberang sana
“Belum...”
__ADS_1
“Suara kamu aneh, kamu lagi sakit?”
“Enggak. Aku baik-baik aja” Aku sengaja berbohong. Rasanya tidak etis merepotkan Hengky tengah malam seperti ini.
“Aku baru sampe nih. Baruu ajaa... Oh ya, tadi jam delapan aku ngirimin Go Food, sudah kamu makan?”
“Iya... “ jawabku singkat.
Aku lupa, Hengky tadi memberi tahuku bahwa ia akan keluar kota. Besok ada acara pernikahan sepupunya jadi ia mesti datang kesana.
Tidak ada lagi harapan, aku harus menunggu pagi sambil bertahan semampuku.
“Enak gak makanannya? Kamu suka? Aku dapet rekomendasi dari temen, katanya Sushi paling enak ada di Restoran itu...”
“Iya. Makasiih ya...”
Hengky terdiam sesaat. Ia menunggu kalimatku selanjutnya. Saat yang terdengar hanya helaan nafas beratku, nada suaranya langsung berubah,
“Kamu yakin baik-baik aja, Nay?”
Aku menggigit bibir, entah mengapa mataku langsung berkabut, “Iya... aku baik-baik aja...” jawabku sambil menahan tangis.
“Enggak, Nay. Aku kenal kamu lebih baik dari yang kamu tahu. Ada obat disana? Atau mau ke dokter aja?” Nada suaranya terdengar sangat khawatir.
Meskipun aku tahu Hengky tidak akan melihatku sedang menggelengkan kepala saat ini, namun tetap saja aku menjawab pertanyaannya dengan menggelengkan kepalaku. Membiarkan kesunyian menguasai kami.
“Kamu gak bakal sampe kayak gini kalau kamu cuman sakit biasa. Oke, tunggu disana. Aku kesana sekarang”
“Hah? Apa? Gak usah, Ky... Jarak dari sana kesini dua jam. Kamu juga baru aja nyampe, pasti capek. Ini juga masih bisa aku tahan kok. Sebentar lagi pagi, aku bisa ke dokter sendiri”
“Sebentar lagi? Ini baru jam dua belas, Nay. Masih enam jam lagi. Enam jam itu lamaa, Nayaa! Pokoknya kamu jangan kemana-mana, tunggu aku kesana.”
Hengky mematikan Panggilan telfon.
...--------------------------------------------------------...
Sudah hampir jam Tiga pagi saat Hengky datang mengetuk pintu Kosan. Aku yang sedari tadi sudah berganti baju dan celana panjang, buru-buru meraih jilbab lalu menyeret kakiku membuka pintu.
Wajah Hengky jelas kelelahan.
Ia tersenyum saat melihatku lalu menyerahkan bungkusan obat dan juga makanan ringan.
Ia memaksaku minum obat di depannya, memastikan aku sudah makan beberapa suap roti lalu menutup pintu Kosan.
“Aku ada di mobil kalo kamu butuh aku. Telfon aja, nanti aku datang” ujarnya sambil tersenyum.
Pada saat ini caraku melihatnya menjadi berbeda. Ia yang selalu kulihat biasa saja mendadak berubah seketika. Aku mulai merasakan kehangatan di hati, getaran yang berbeda, sesuatu yang tidak biasa.
Apalagi dengan caranya memperlakukanku. Ia begitu menghormati keputusanku untuk memberiku celah menikmati waktu ku sendiri. Memperlakukanku seperti menjaga barangnya yang paling berharga, tidak menyentuhku namun aku merasakan sentuhan itu.
Sosok yang sangat berbeda dari yang ia tunjukkan di hadapan orang-orang.
Aku tersenyum sambil menarik nafas panjang.
Sepertinya aku bisa tidur tenang sekarang..
...------------------------------------------------------------...
__ADS_1