Penjara Cinta

Penjara Cinta
Cinta Pertama Hengky


__ADS_3

#21


Ketemu! Aku menemukan yang kucari!


Dengan penuh semangat aku membuka buku tebal berukuran 19x14cm ditanganku.


Sedikit berdebu dengan warna sampul berwarna biru yang mulai pudar.


Ada tulisan besar di atasnya,


‘Jangan pernah berani membuka buku ini jika kamu masih ingin hidup’


Aku memundurkan kepala sambil mengerutkan kening, sepertinya buku ini ia tulis berpuluh tahun yang lalu. Hengky yang sekarang tidak akan mungkin menulis judul yang mencolok seperti itu.


Semakin lama usia buku ini akan semakin baik. Aku tidak mungkin menanyakan tentang masa lalu nya kepada dirinya.


Jangankan masa lalu-nya, alamat rumahnya saja sampai sekarang aku tidak tahu.


Ya. Aku tidak tahu dimana keberadaanku saat ini.


Oke. Jangan buang waktu lebih lama lagi. Aku harus mencari tahu sebelum Hengky kembali.


Aku membuka halaman pertama. Ada foto tiga orang anak kecil disana.


Tulisan kecil berisi keterangan foto ada di pojok kertas, aku menyipitkan mata, berusaha membacanya dengan jelas,


‘Hengky, Kak Andy dan Maya di Kebun Binatang, 15 Maret 2000’


Andy? Ia sedekat ini dengan Andy dulu? Lalu, bagaimana bisa hubungan mereka sekarang memburuk seperti ini?


Aku mendekatkan wajahku ke foto seorang gadis kecil di tengah mereka,


Ini Maya? Siapa itu Maya?


Tapi... tunggu dulu, kenapa wajah ini tidak asing untukku?


Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat... Tapi, dimana...?


Jariku segera membalik halaman berikutnya,


...12 Januari 2007...


...Kak Andy menemaniku seharian dirumah. Kami asyik bermain PS sambil menunggu Papi dan Mami datang. Katanya, mereka akan pulang.... tapi, kenapa tidak kunjung datang?...


Aku menarik nafas, sepertinya apa yang Hengky ceritakan di ruang makan tadi benar. Jika memang seperti itu, ia sangat kesepian selama ini.


Aku segera membalik halaman berikutnya,


...25 November 2010...


...Ini Gila! Sudah lebih dari tiga tahun Papi dan Mami tidak pernah pulang! Dulu mereka sesekali datang menengokku, menginap walau hanya semalam....


... Aku rindu. Aku kesepian, Mi......


Ada rasa sedih menyusup ke dalam hati.


Aku merasa tertampar realita bahwa keluargaku yang ku anggap paling membuatku menderita, tidak ada apa-apanya dibanding keluarganya.


Dia benar, ini gila! Apakah orang tuanya berfikir bahwa mereka telah menjalankan kewajibannya sebagai orang tua dengan hanya terus mengirimkan uang saja? seolah yang anak butuhkan hanya materi? Lalu bagaimana dengan pelukan? Obrolan ringan atau hanya candaan kecil ketika sedang menonton TV?


Tunggu, apakah Hengky pernah merasakan semua itu?


Dengan perasaan yang masih mengganjal aku membalik halaman berikutnya.


Tidak ada tulisan, hanya foto dirinya bersama Andy sedang tersenyum lebar sambil saling merangkul. Kutebak, mungkin usia Hengky saat itu sekitar 13 tahun.


Lalu halaman sebelahnya, foto seorang gadis remaja berambut ikal panjang. Namun, keningku berkerenyit saat melihat wajah wanita itu di coret dengan kasar. Terlihat penekanan pada coretannya, tanda curahan emosi dan kemarahan saat ia mencoretnya.


Aku kembali menyipitkan mata, membaca tulisan kecil dibawahnya,

__ADS_1


...Kenapa kamu pergi, Maya? Aku kira kita satu hati......


Tawaku hampir saja lepas membaca tulisan ini. Ya Tuhan... dia patah hati? Tulisannya lucu sekali.


Halaman berikutnya,


...30 November 2012...


...Dia Bilang, dia sangat menyukai Kak Andy. Ini lucu. Aku yang selalu ada untuknya tapi kenapa dia malah menyukai Kakakku?...


...Tidak apa-apa. Aku ikhlas jika itu Kak Andy. Aku tahu Kakakku sangat bisa membuatnya bahagia....


Hey, apakah ini masih saja tentang patah hati?


Lama sekali dia patah hati, dua tahun.


Ya Tuhan... ini bukan waktu yang sebentar.


Aku menggelengkan kepalaku seolah tidak percaya bahwa Hengky pernah mengalami patah hati se dalam ini.


Dan juga, hubungannya dengan Andy.


Ia sangat mempercayai dan menyayangi Andy dulu.


Sepertinya, Andy sering menemani Hengky yang kesepian.


Aku makin penasaran, mengapa hubungan mereka bisa jadi seburuk ini saat ini.


...12 Desember 2012...


...Apa Mami dan Papi sudah gila?! Kenapa mereka tega melakukan ini padaku?...


...Papi selingkuh, Mami pun sama....


...Dan mereka bilang, ini karena aku?!! ...


Mataku terbelalak membaca tulisan ini.


Kehidupan macam apa yang Hengky jalani selama ini?


Aku menarik nafas panjang lalu kuhembuskan perlahan. Hati ku terasa tidak siap menerima banyak kejutan jawaban teka-teki beruntun seperti ini.


Seharusnya aku merasa senang, bukan?


Aku jadi tahu bagaimana kehidupan Hengky yang sebenarnya.


Tapi, mengapa sisi lain hatiku terasa sakit?


Aku menghela nafas kembali, lalu membalik halaman berikutnya,


...2 Januari 2015...


...BRENGSEK!! Semua orang brengsek!!...


...Ya!! Pergi sajaa kalian semuaaa! Aku tidak butuh kalian semuaa!!...


...Dunia memang menakdirkan aku untuk menjalani hidupku sendiri!...


...Omong kosong!!! Semua yang kalian janjikan OMONG KOSONG!!...


Jariku terhenti. Mataku berputar mencoba menghubungkan apa yang sedang kucari dengan tulisan ini.


Apakah mungkin ini adalah alasan ia menggila saat tahu keadaanku yang sebenarnya tadi malam?


Tapi... apa hubungannya?


“Naya??”


Aku terkejut setengah mati. Buku bersampul biru terlepas dari tanganku,

__ADS_1


“K-kamu sudah kembali?”


Hengky menatapku bergantian dengan buku bersampul biru di dekat kakiku,


Ia menghela nafas lalu berjalan pelan ke arahku,


“Jadi, sudah sebatas mana yang kamu ketahui tentangku?”


...-----------------------------------------------------------------...


Aku menelan ludah saat Hengky berjalan melewatiku sambil mengembalikan buku bersampul biru itu ketempatnya.


Ia manarik tanganku lalu mengajakku duduk di atas tempat tidur, menghadap ke jendela besar yang ada di sampingnya.


Pemandangan taman yang indah memanjakan mata. Terlihat sekali taman di rawat oleh Tukang Kebun Profesional. Terlihat teratur dengan rumput hijau seluas mata memandang.


“Aku terbisa harus menahan emosiku, Naya...”


Mendengar Hengky mulai bercerita membuatku memusatkan perhatianku padanya.


“Dari kecil aku terbiasa menahan apapun sendiri. Saat aku terjatuh dan terluka parah, Baby Sitter yang menjagaku bilang, ‘jangan menangis! Anak lak-laki harus kuat!’, atau saat aku bersedih, tidak ada orang yang akan memelukku sambil menghibur kesedihanku. Aku tidak pernah punya orang yang mau melakukan itu dengan tulus. Semuanya harus kutahan sendiri.


Saat aku dewasa, aku mulai menyadari aku kesulitan dalam mengungkapkan emosi. Aku tidak tahu bagaimana sebenarnya mengatasi amarah, bagaimana caranya mengungkapkan apa yang kurasa. Apa yang aku ungkapkan hanya sekedar formalitas belaka.


Aku merasa mempunyai kewajiban harus menunjukkan kepada semua orang bahwa aku baik-baik saja, aku orang yang ceria dan aku tidak mempunyai masalah apapun untuk ku keluhkan.


Sisi buruknya, aku jadi tidak terkendali saat aku benar-benar emosi. Aku menggila dan berbuat semauku jika kemarahan menguasai diriku.


Seingatku tiga kali aku melakukan hal seperti ini. Saat mengetahui bahwa Papi selingkuh, saat memergoki Andy waktu itu, dan tadi malam, saat bersamamu...”


Hengky terdiam sesaat. Ia menundukkan kepalanya lalu menatapku, ”Aku benar-benar meminta maaf untuk kejadian tadi malam, Naya...”


“Kamu bilang, kamu tidak bisa mengungkapkan apa yang kamu rasa.. Tapi... kamu selalu bersikap romantis, kamu juga selalu bilang sayang padaku, bukankah itu adalah caramu mengungkapkan isi hati?”


Aku memotong kalimatnya. Rasanya akal sehatku tidak bisa menerima begitu saja apa yang ia katakan.


“Ya. Tentu saja. Karena aku merasa memang harus seprti itu, aku harus melakukan itu...”


“Jadi.. itu bukan dari hatimu?”


“Tidak, sampai aku menyadari mengapa aku bisa sangat marah sewaktu mendengar pengakuanmu kemarin. Saat itu aku sadar, kamu sudah terlalu masuk kedalam kehidupanku...”


Aku menatap Hengky tidak percaya. Buru-buru aku bangun lalu berjalan ke ruangan yang dipenuhi oleh foto-fotoku,


“Lalu apa ini, Hengky? Apa semua ini jika kamu tidak melakukannya dari hati? Apakah kamu sudah lupa kamu melakukan semua ini selama tiga tahun?!”


Hengky mengangkat bahunya, “Entahlah, mungkin hobi?”


“Apa?!”


Suara tertawa terdengar dari mulutnya, ia menghampiriku lalu tersenyum,


“Aku juga gak tahu kenapa aku melakukan ini, Naya... Aku hanya berfikir, inilah yang harus kulakukan jika aku menyukai seseorang...”


“Termasuk Maya?”


Hengky mengerutkan dahinya, “Maya?”


“Ya. Maya. Seorang gadis yang membuatmu patah hati lebih dari dua tahun.”


“Astagaaa....!!” Hengky tertawa lagi, “Aku bahkan sudah lupa kalau aku pernah mempunyai perasaan padanya. Karena hampir setiap hari bertemu dengannya membuatku lupa. Lihat, Naya. Pesonamu mengalahkan segalanya...”


“Tunggu...tunggu... hampir setiap hari bertemu? Siapa Maya? Kenapa aku tidak tahu?”


Hengky tampak terkejut, namun secepat kilat ia berusaha menguasai dirinya kembali, “Aku mau keluar sebentar. Kamu perlu baju tidur, bukan?” ia mengalihkan pembicaraan.


“Hey? Kamu belum menjawab pertanyaanku, Hengky!”


“Kelak kamu akan tahu sendiri, Naya...” jawab Hengky sambil berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


Meninggalkanku yang masih berdiri mematung dengan segudang pertanyaan berkecamuk di hati.


...---------------------------------------------------------------------------...


__ADS_2