
89
“Aku jadi bingung milihnya nih, Bu. Kenapa semua gaunnya cocok sama Naya? Apa kita beli semua saja ya?” Hengky mengerjapkan matanya sambil tersenyum lebar ke arah Ibu.
Ibu tertawa lalu menepuk pundak Hengky, “Duh anak Ibu mah jangan di puji, Ky. Bisa terbang nanti diaa...”
Hengky ikut tertawa. Sedangkan aku mengulum senyum sambil sibuk mengatur irama jantung yang memburu. Sudah lama tidak mendengar pujian dari Hengky, rasanya... ah, ya, Ibu benar. aku seperti melayang terbang ke udara.
“Kita ambil semuanya aja ya, Nay? Gimana, Bu? Okey?” Hengky mengedipkan matanya ke arah Ibu.
Aku melipat tangan didepan dada, memajukan bibir, berpura-pura marah, “Kamu tuh nanya Ibu atau nanya aku, sih? Aku belum sempet jawab looh...!”
“Hus! Pamali marah-marah gitu sama calon suami...” Ibu buru-buru menegurku. Seperti biasa, Ibu selalu menganggap segala hal kecil menjadi besar.
Suara tawa Hengky pecah, ia bersembunyi di belakang Ibu seperti anak kecil yang berlindung di balik ibunya, “Iya kan ya, Bu... gak boleh ya marah-marah sama suami...”
“Calooonnn...!” ralat ku masih berpura-pura marah.
“Ibuu.. Naya masih marah-marah tuh...” Hengky memberi kode menunjukku sambil memasang wajah berpura-pura takut.
Aku tidak bisa menahan tawa melihat sikap menggemaskan Hengky. Ingin sekali mencubit pipinya namun kutahan sekuat mungkin. Sikapnya tadi, aku belum pernah melihatnya seperti itu.
“Jadi gimana nih? Kita ambil gaun yang ini aja ya?” tanyaku mendekati Hengky dan Ibu.
Hengky melirik ke arah Ibu, “Jangan deh, Bu. Kita ambil semua aja ya? Nanti pas sesi foto kan punya foto banyak ya?” rupanya ia meminta dukungan.
Aku tersenyum jumawa, aku yakin Ibu tidak akan menyetujui ide pemborosan uang yang sangat Ibu benci.
Sedekat apa sih Hengky sama Ibu? Dia pasti belum tahu bahwa Ibu sangat tidak menyukai pemborosan.
“Boleh juga. Gaunnya bagus semua sih ya..”
Refleks aku menoleh ke arah Ibu, memandangnya dengan tatapan tidak mengerti.
Melihat wajahku yang melongo, Ibu tertawa lalu menepuk pundakku, “Gak papa, Nak. Lagipula kalian kan gak ada acara pesta. Jadi sedikit boros di gaun gak papa ya...”
“Betul sekali!” Hengky langsung bersemangat membalas ucapan Ibu.
__ADS_1
Luar biasa. Hengky mampu secara cepat mengambil hati Ibu. Okey, dia menang. Entah apa yang sudah ia lakukan hingga ia berhasil mengambil hati Ibu secepat ini. Sedangkan aku saja butuh waktu hampir 26 tahun hingga bisa merasa dekat dengan Ibu.
“Halo, Mas Hengky...” Seorang wanita muda berparas wajah oriental tersenyum ramah ke arah Hengky.
“Hai, Ci. Gimana gaunnya? Benar pas, bukan?” Hengky mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum bangga.
Wanita itu langsung mengangguk setuju, wajahnya sedikit terkejut menatapku, “Bagaimana mungkin calon suami kakak bisa tahu detail ukuran gaun Kakak ya? Saya mendesain baju ini hanya berdasarkan informasi dari Mas Hengky. Dan saya terkejut loh, ini benar-benar cocok sama Kakak.”
“E-eh? Design? Jadi tiga gaun yang aku coba tadi...?” aku tidak melanjutkan kalimatku, tatapan mataku berhenti pada Hengky, menuntut penjelasan.
“Ya, tiga gaun tadi memang sudah menjadi milik Kakak. Eh, apa Mas Hengky belum cerita?” wanita itu terlihat bingung.
“Ibu suka gaun yang ini?” Hengky sudah berjalan ke arah pajangan gaun pesta, sengaja sekali mengalihkan pertanyaan dan wajahku yang kebingungan.
Ibu tidak menjawab, ia hanya melirikku, menandakan bahwa memang pandangan matanya sedari tadi mencuri pandang ke arah gaun itu.
“Ci, ini belum ada yang punya, kan?”tanya Hengky menatap wanita itu seolah memerintahkannya untuk mengatakan apa yang ingin ia dengar.
“This is your lucky day. Orang yang pesan gaun itu hari ini tiba-tiba cancel. So, yes.”
Wanita itu dengan cepat mengangguk. Ia memanggil karyawannya dan memerintahkan mereka untuk menyiapkan gaun kami.
Sedangkan tatapan mataku tetap ke arah Hengky, tidak akan kualihkan sampai ia menjawab pertanyaanku.
Maksudku, tiga gaun? Buat apa? Kami bahkan tidak merayakan pernikahan kami, bukan?
Sampai di mobil, Hengky baru menjawab pertanyaanku, “Aku cuman gak tahu kamu suka yang mana, Naya. Makanya aku pesan tiga gaun sekaligus.”
Mendengar jawabannya membuatku menggelengkan kepala.
Crazy rich memang luar biasa.
--------------------------------------------
Sampai saat ini aku masih belum benar-benar mengerti mengapa sikap Abah dan Ibu berubah 180 derajat. Aku belum menemui moment yang pas untuk bisa membicarakan masalah ini. Satu hal yang membuatku khawatir, apakah Abah sudah tahu tentang keadaan Papi Hengky?
Hingga malam ini, saat Abah dan Ibu sedang menonton TV, aku memberanikan diri untuk duduk di dekat mereka, membuka obrolan,
__ADS_1
“Abah, Naya kok penasaran yaa...” sengaja aku menggantungkan kalimatku, menunggu reaksi Abah.
“Humm...?” Abah menjawabku tanpa melepaskan tatapannya dari layar TV.
“Tentang Papi Hengky. Apa Abah sudah tahu tentang itu?” dengan sangat hati-hati aku memilih kata-kata. Aku tidak ingin suasana yang sedang baik tiba-tiba berubah mencekam seperti dulu.
“Tahu apa?”
“Sewaktu Abah dan Ibu beberapa kali bertemu dengan Hengky tanpa sepengetahuan Naya, apa Hengky menceritakan sesuatu tentang keluarganya?”
Baiklah, jika memang Abah belum tahu, inilah saatnya ia tahu. Lebih baik ia tahu sebelum kami menikah, sebelum semuanya dimulai.
Abah merubah posisi duduknya. Ia meraih remote TV lalu menekan tombol power. TV seketika mati, menciptakan suasana hening yang tiba-tiba.
“Itulah alasan mengapa Abah dan Ibu menerima Hengky.”
Aku menatap Abah dengan pandangan yang tidak dapat kumengerti, “Karena kasihan?”
Seketika Ibu tertawa, “Kamu ini aneh-aneh saja, Naya. Mana mungkin Abah dan Ibu memilih calon mantu hanya berdasarkan kasihan.”
“Trus apa??” tanyaku penasaran.
“Karena ia hebat. Abah kamu bahkan beberapa kali mengakui bahwa calon suami kamu itu memang luar biasa.”
“Karena ia berhasil membangun bisnisnya dengan baik?” tanyaku lagi, meraba-raba alasan sebenarnya.
“Karena ia berhasil menyadarkan Papinya dan menyatukan keluarganya kembali. Dan ini Papi dengar bukan dari Hengky, tapi dari Papinya sendiri. Ia mengakui bahwa Hengky yang tidak kenal lelah membujuknya kembali, Sampai ada saat dimana Hengky sedang sangat kelelahan tapi memaksa menyusul Papinya ke Amsterdam, saat sampai di rumah mereka di sana, ia langsung jatuh pingsan tepat di depan pintu. Empat belas jam penerbangan rupanya benar-benar menguras energinya yang memang sudah down.”
Punggungku seketika lemas, aku tidak tahu cerita ini. Ya Allah... aku tidak tahu apa yang ia lalui selama ini. Ingatanku segera memunculkan bayangan pada saat ketika Fatih akan datang kerumah, saat itu… aku malah memarahinya dan menuduhnya bersantai tanpa melakukan usaha apapun untuk hubungan kami.
Hengky hanya tidak memberitahuku betapa keras usahanya, betapa ia mencoba segala upaya terbaik yang ia miliki.
“Abah yakin, ia bukan hanya pandai dalam dunia bisnis tapi ia juga sangat bertanggung jawab. Apapun kesalahan yang sudah dilakukan oleh Papi dan Maminya, ia dengan lapang dada memaafkan mereka. Padahal dari yang Abah dengar, dari kecil ia sudah ditinggal oleh Papi dan Maminya. Sungguh sangat luar biasa ia bisa tumbuh menjadi laki-laki yang luar biasa seperti sekarang,”
“Satu hal lagi yang membuat Abah yakin. Saat itu ia mengatakan sesuatu yang membuat Abah tersentuh, ‘Abah, Hengky tumbuh sebagai anak yang menyedihkan. Kelak, saat bersama Naya, kami tidak akan memperlakukan anak kami sama seperti yang telah Hengky alami. Ia akan tumbuh dengan limpahan kasih sayang dan cinta yang luar biasa,’. Setelah ia mengatakan itu, setelah Abah melihat kesungguhan dibalik tatapannya, Abah langsung menyetujui idenya untuk melamar kamu pada hari Grand Opening cabang restonya. Perjuangannya selama lebih dari empat tahun, bukankah itu luar biasa?”
Butiran air mata jatuh tanpa bisa ku cegah. Aku menatap Abah dan Ibu, menyeka air mata yang menutupi penglihatanku, “Tidak, Abah. Bukan empat tahun, ia sudah bersusah payah berjuang untukku selama delapan tahun. Lebih dari delapan tahun berjuang dan sisanya memperjuangkan kehidupannya sendirian, tanpa bantuan siapapun.”
__ADS_1