
64
Perjalanan pulang ke Kosan kali ini terasa sangat lama. Padahal jarak Kampus dan Kosan ku tidak terlalu jauh. Hanya saja dengan suasana yang seperti ini membuat waktu terasa berjalan sangat lambat.
Akhir dari obrolan di Kantin tadi terasa mengganjal memang. Aku pun sibuk menyalahkan diriku yang tidak menceritakan segalanya pada Hengky tentang kehidupanku yang sebenarnya. Aku lupa, jika aku menyembunyikan banyak rahasia, aku harus mempunyai backup yang mumpuni jika sampai segalanya mendadak kacau seperti tadi.
Karena tentu saja, sebaik apapun informasi yang Hengky peroleh, tidak akan sebaik daripada informasi dari mulutku sendiri. Informan itu tidak mungkin memberi tahunya tentang peraturan Abah dan Ibu yang mewajibkan aku selalu berpakaian syar’i, bukan?
Untuk bagian Abah tidak menyetujui aku berpacaran, mungkin Hengky sudah mengetahuinya langsung dari mulut Abah saat ia tidak sengaja bertemu Abah di kosanku tempo hari, tapi bagian penting lainnya, ah, harusnya aku menceritakan semuanya padanya.
Bayangan saat tadi Yusuf dengan penuh percaya diri mengaku bahwa aku juga menyukainya membuatku bergidik ngeri. Entah apa maksud dari perkataanya yang sangat tiba-tiba tersebut hingga aku tidak menemukan kalimat yang pas selain menjawab,
“Apa Kakak mulai kehilangan ingatan Kakak? Kapan aku bilang pernah suka sama Kakak? Sepertinya akal sehatku masih berfungsi dengan baik dengan tidak akan menyukai Kakak Sepupuku sendiri.”
Andy yang saat itu belum tahu bahwa Yusuf adalah Kakak Sepupuku sukses melongo, ia sibuk bertanya padaku bagaimana bisa kami saudara sepupu sedangkan kami tinggal di pulau yang berbeda.
Aku yang sudah jengah berada di dekat Yusuf maupun Andy hanya menjawab ketus, “Sejak kapan sesama saudara wajib tinggal bertetangga?”
Hengky yang mengerti bahwa aku mulai tidak nyaman, segera mengambil tasnya lalu berkata singkat, “Ayo aku antar pulang, Naya.”
Dan disinilah kami sekarang. Sibuk dengan pikiran masing-masing dan membiarkan keheningan menguasai kami. Aku bahkan belum sempat menanyakan mengapa Yusuf tiba-tiba ada di kampus kami tadi.
Ya, itu bagian terpentingnya. Mengapa tidak langsung kutanyakan saja tadi?
“Kamu mau makan lagi, Sayang?”
“Thanks God, akhirnya kamu mau ngomong sama aku...” ucapku lega sambil tertawa.
“Loh, aku kira kamu yang lagi gak pengen diajakin ngomong...” Hengky tersenyum lebar, ia menarik tanganku lalu diusapnya lembut, “Kaget ya tadi tiba-tiba ada laki-laki itu?”
“Banget! Aku sampe bingung harus ngomong apa.”
“Mau cerita sambil makan steak kesukaan kamu?”
__ADS_1
Aku menatap mata Hengky sambil memasang wajah memuja, “Gimana aku tanpa kamu ya, Sayang? Jangan sempurna gini dong, Sayang. Nanti aku susah move on nya kalau kamu ninggalin aku.”
“Hus! Istighfar banyak-banyak! Ucapan itu do’a loh.”
“Astaghfirullah... maaf, Sayang. Hidupku yang terlalu banyak kejutan membuatku merasa was-was tentang kebahagiaan. Apa menurut Tuhan aku bahkan gak layak mendapatkannya ya?”
“Bayangin kalo kamu menonton film yang isinya moment bahagiaaaa terus, tanpa masalah, tanpa pertentangan hati, bakal ngebosenin banget kan? Begitu juga dengan kehidupan. Kamu akan lebih menghargai kebahagiaan sekecil apapun saat kamu mengalami banyak ujian.”
Hengky menggenggam tanganku tanpa mengalihkan pandangan matanya pada layar kemudi, “Jadi mau makan steak nya gak?”
Tanpa mendengar jawabanku Hengky sudah tahu, aku tidak akan pernah menolak steak tenderloin kesukaanku dalam sikon apapun. Sambil tersenyum ia memutar setir kemudi.
------------------------------------
“What the...!”
Rahang Hengky mengeras, ia mengepalkan tangan lalu menarik tanganku keluar dari Resto.
Aku menurut. Skenario Tuhan benar-benar membuat kami tidak habis pikir, susah payah menghindari Andy dan Yusuf di Kantin tadi tapi malah bertemu mereka kembali di Restoran.
Hengky berpura-pura tidak mendengar, ia terus berjalan sambil menarik tanganku.
“Ayolah, Ky! Jangan kayak anak kecil gitu dong!”
Langkah kaki Hengky terhenti, ia menarik nafas kesal, “Aku kayak anak kecil atau Kakak yang minus reseptif?”
“Aku gak ngerti, kenapa kamu jadi sensitif gini, sih? Itu cuman Yusuf loh, Kakak Sepupunya Naya!”
Aku yang dari tadi hanya diam tiba-tiba ikut tersulut mendengar ucapan Andy yang menyepelekan perbuatan Hengky. Dengan kesal aku membalikkan badan lalu menatap tajam ke arah matanya,
“Aku kira Kakak pinter loh. Tapi hanya untuk menyadari situasi yang penuh dengan suara alarm merah saja, Kakak tidak mengerti?”
“Alarm? What alarm, Naya? Alarm itu hanya akan berbunyi hanya jika ada yang kamu sembunyikan dari Hengky,” Andy menyeringai, “Atau memang benar yang Yusuf katakan tadi?”
__ADS_1
Hengky membalikkan badan sambil menarik nafas kesal, “For God’s sake! Ayo kita sudahi sikon menyebalkan ini, Naya.”
Hengky menggenggam tanganku lalu berjalan mendekati meja Yusuf. Dilihat dari nafasnya yang naik turun, aku tahu ia sedang berusaha mengendalikan emosinya saat ini.
“Naya? Ya Tuhan, kita ketemu lagi!”
Yusuf menyambutku sumringah. Ia buru-buru berdiri bermaksud hendak menarik kursi untukku namun Hengky sudah terlebih dahulu melakukannya untukku. Sambil kecewa ia duduk kembali di kursinya.
Andy yang menyusul kami tertawa renyah, “Kalau jodoh memang gak kemana ya. Kita menghindar dari Kantin, eh malah ketemu disini.”
“Ya dan aku gak akan terkejut lagi kalau tiba-tiba kami bertemu kalian di Toko buku, Kedai Kopi dekat kosan Naya atau di Pasar Lama,” nada suara Hengky terdengar tajam. Jelas ia menyindir Andy saat ini. Andy tahu dimana saja tempat makan langganan kami. jadi kehadiran Andy dan Yusuf disini sudah pasti adalah ulah Andy.
Hengky melipat kakinya lalu menaruh tangannya di punggung kursiku, “Tapi tenang saja, aku akan dengan sangat senang hati melayani tamu istimewa kita hari ini.”
“Tamu? Oh, aku jelas bukan tamu disini. Aku adalah teman Andy dan Kakak Se....”
“Please... please stop calling your own self as Kakak Sepupu Naya,” Hengky memotong kalimat Yusuf, ia mengangkat sebelah alisnya, “Kalau kamu sedekat itu dengan Naya, kamu pasti bakal tahu kalau Naya kuliah di sini dan gak akan kaget melihatnya tadi siang.”
Seorang waiters bertubuh berisi dan kulit sawo matang menghampiri kami. ia tersenyum ramah sambil menanyakan apa saja makanan yang akan kami pesan.
Andy baru saja akan membuka mulut saat Yusuf dengan percaya diri berkata, “Biar saya yang traktir hari ini. Kalian mau pesan apa saja? Oh ya Naya, kamu masih suka zuppa soup?”
“Zuppa? Bukannya kamu bilang geli dengan tekstur dari zuppa soup yang creamy gitu?” Andy mengerutkan keningnya, “Iya kan?”
Aku mengangguk.
“Eh? Aneh, dulu...” Yusuf terlihat kebingungan.
“Yusuf, C’mon... kamu terakhir ketemu Naya kapan sih? Bahkan kami yang orang luar bagi Naya saja tahu hal sedasar itu. seharusnya kamu tidak perlu terus-terusan menyombongkan dirimu sebagai saudara sepupu Naya,” Andy tertawa. Ia menepuk pundak Yusuf sambil menggelengkan kepalanya.
“Okay, Kak. Kami pesan steak tenderloin nya empat ya. Dagingnya wajib well done nya. Karena idola kami paling benci daging yang tidak begitu matang. Ah ya, dan air mineralnya empat.”
Waiters itu mengulangi pesanan kami lalu berjalan pergi setelah meminta kami menunggu beberapa menit.
__ADS_1
Hengky tersenyum melihat Andy dengan tegas membuat Yusuf tidak berkutik lagi. Aku mulai ragu, sebenarnya apa maksud Andy mengajak kami berkumpul seperti ini?