
#30
Aku tidak mengingat sudah berapa lama aku duduk di kursi ini. Yang aku ingat, beberapa kali Hengky mengajakku bicara tapi tidak ku perdulikan. Andy yang bahkan sempat duduk disebelah ku, tidak juga membuatku bergeming.
Rasanya hati dan fikiranku masih menolak mempercayai apa yang baru saja kudengar dan apa yang baru saja dilihat oleh mataku.
Aku berusaha mempercayai bahwa ini mimpi, bahwa Shinta tidak akan mungkin melakukan ini padaku.
Tapi melihat diluar mulai gelap, matahari perlahan mulai turun, membuatku sadar, ini salah satu kejutan yang Tuhan bawa untukku.
Sangat mengejutkan hingga membuatku masih terdiam kaku walau dua jam berlalu.
Semuanya mulai masuk akal, mengapa Shinta sangat tidak menyetujui hubunganku dengan Andy atau dengan Hengky, Mengapa dia selalu tidak pernah menceritakan tentang dirinya, mengapa ia melarang ku berbicara lama dengan orang tuanya.
Tapi... jika apa yang dikatakannya benar, bukankah aku baru kenal dengan Andy setahun lalu?
Lalu bagaimana dengan persahabatan kami dua tahun sebelumnya?
Apakah ia juga bersandiwara? Atau ia sedang menyusun rencana?
Air mata sudah deras keluar sejak Shinta pergi tadi.
Aku mati-matian menahan diri untuk tidak menangis di depannya. Aku tidak ingin dia semakin senang melihatku menangis menyedihkan.
Kepongahannya akan makin membesar dan aku tidak akan membiarkannya merasa menang.
Saat Hengky menamparnya tadi, aku merasa tidak rela.
Tidak... dia bahkan tidak berhak atas tamparan itu. Kesalahannya sangat besar sampai tamparan pun tidak layak untuk dia dapatkan.
Lalu, hukuman apa yang layak untuknya?
Nanti... aku akan memikirkan ini nanti setelah perasaanku mulai tenang.
Rasa kecewa ini sangat merepotkan.
Jika hanya kesedihan tanpa kecewa, mungkin aku akan langsung baik-baik saja setelah menangis beberapa saat.
Namun, perasaan yang mendominasi saat ini adalah perasaan kecewa. Sangat amat kecewa. Maka diberkatilah orang-orang yang tidak berharap apapun, sebab tidak akan datang rasa penyesalan atau kecewa yang berlebihan.
Ya. Ini salahku mengapa aku terlalu berharap pada makhlukNya?
Namun, jika boleh jujur, aku tidak mengharap apapun selain dari sikap layaknya apa yang ku berikan padanya. Hanya itu.
Ah, sial! ‘Hanya itu’ kubilang? ‘Hanya’?
Kamu lupa, Naya. Jika mencari sahabat sejati itu mudah, mungkin tidak akan ada orang yang membunuh dirinya sendiri karena merasa kesepian atau merasa di tinggalkan.
Mengapa bisa aku melupakan hal se-dasar itu?
Aku menghela nafas panjang lalu kembali merubah posisi dudukku. Sejujurnya terbersit pula perasaan kasihan pada Shinta.
Mengapa orang sepintar dirinya bisa bertindak bodoh hanya demi seorang pria?
Shinta benar, dia tidak memiliki kekurangan. Dia cantik, kulitnya eksotis, pintar, mandiri, dan orang tua nya terlihat sangat mampu memenuhi apapun yang ia butuhkan.
Lalu kenapa, Shinta? Kenapa kamu bertindak begitu bodoh?
Kenapa justru kamu... orang yang ku anggap sahabat terbaikku justru adalah orang yang paling tertawa keras di balik tangisku?
__ADS_1
Jika Hengky yang melakukannya atau Andy atau Nisa atau siapapun itu asalkan bukan dirimu, itu tidak akan terlalu membuatku se sakit ini.
Tiba-tiba bayangan saat kami tertawa bersama, menangis bersama, bahkan saling melindungi jika salah satu dari kami tersakiti, berkelebat bak film lama di pelupuk mataku.
Aku menarik nafas dalam, lalu ku hembuskan perlahan.
Terus kuulangi sampai air mata yang terus mengalir bisa ku kendalikan.
“Naya...” Hengky memegang tanganku.
Aku mencoba tersenyum, “Ya?”
“Kamu sudah mulai tenang? Mau pulang sekarang?”
“Jangan dipaksa kalau kamu masih pengen disini, Naya..!”
Andy yang duduk di kursi ruang makan, dekat teras belakang, berteriak kepadaku.
Aku kembali mengingat perkataan Shinta tadi, Andy memang tidak sepenuhnya salah. Apa yang Andy katakan saat itu ternyata bukan hanya mencari-cari alasan. Tapi apapun itu, kesalahan tetap saja sebuah kesalahan. Tidak bisa dibenarkan dengan dalih apapun.
Efek dari penyakit hati memang luar biasa. Semakin di dengar, semakin memakan akal sehat dan hati kita bulat-bulat.
Apapun kelebihan yang kita miliki, saat penyakit hati menggerogoti, musnah sudah semua kewarasan dan kejernihan hati.
Saat kita sadar, semua sudah terlambat.
Kehilangan yang paling menyakitkan adalah saat kehilangan orang-orang baik di sekeliling kita karena ketidakmampuan kita membangun pondasi menangkal penyakit hati.
Seperti Shinta saat ini.
Setidaknya aku berharap ini yang di rasakan nya saat ini.
Villa ini memang membuat siapa saja ingin berlama-lama disini. Suara deburan ombak, melihat matahari terbit dan terbenam, juga suara burung camar. Aku bisa menghabiskan waktu ber jam-jam hanya untuk memandangi pantai.
“Aku mau pulang aja...”
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk. Entah apa yang akan terjadi saat kami kembali menginap bersama lagi. Memang sepertinya aku bisa mempercayai Hengky, tapi, ayolah... aku tidak akan kembali masuk ke lubang yang sama hingga tiga kali, bukan?
“Okey... kamu masih mau duduk di pantai atau mau langsung pulang sekarang?”
“Boleh duduk di sana dulu?”
Aku menunjuk kursi malas di teras belakang.
Hengky tersenyum. Ia mengangguk.
...-------------------------------------------------------------...
“Apakah proses hukum tetap berjalan?”
“Tentu saja. Om Ferdinan tidak akan melepaskan Fahri begitu saja.”
Aku menoleh ke arah Hengky, “Jika Fahri dihukum oleh pengadilan negeri, bagaimana dengan Shinta? Apakah dia akan di adili juga? Apa dia juga akan mendapatkan hukuman juga?”
“Aku pastikan dia akan mendapatkannya.”
Hengky menarik tanganku lalu di kecupnya lembut, “Jangan khawatir... Tuhan Maha Pemberi Kejutan, bukan?”
__ADS_1
Sudut bibirku sedikit terangkat, memaksa untuk menunjukkan ekspresi senyum.
“Jangan khawatir hidup mu akan kesepian, Naya. Ada aku...”
“Ada aku jugaaa....!” Andy yang duduk di tangga teras belakang menuju pasir pantai mengedipkan matanya ke arah Hengky, Andy sengaja mengatakan itu untuk menggodanya.
"Jangan memancing emosiku, Kak.”
“Pffttt....! HAHAHAHAHA....! Aduh ya ampun... geli banget denger kamu manggil aku ‘Kakak’...!”
Andy memegangi perutnya sambil terus tertawa.
Wajah Hengky memerah, ia terlihat salah tingkah.
Aku ikut tertawa. Memang susah menahan tawa saat melihat wajahnya memerah malu, belum lagi hidungnya yang kembang kempis tanda ia salah tingkah.
“Setidaknya apa yang dikatakan Shinta tadi ada benarnya... harusnya aku bertanya terlebih dahulu waktu itu sama Kakak, gak langsung hajar ajaa...”
Hengky tertawa. Tangannya mengepal seolah sedang mencontohkan tinjuan nya saat itu.
“Pukulan kamu waktu itu masih berasa loh sampe sekarang!”
“Eh? Seriusan?”
“Iyaa... sini... coba siniii lihat nii,” Andy menunjuk pipi kanannya.
Aku tidak mengerti, Hengky dengan bodohnya menurut. Ia mendekati Andy, memeriksa wajah Kakaknya, lalu benar saja... Andy langsung tertawa keras.
Ia bahkan sampai memukul lantai tangga sangking larut dalam tawanya.
Menyadari telah ditipu, Hengky mendengus kesal. Ia melengos lalu melompat ke arah Andy.
Andy yang tidak siap langsung terjatuh ke pasir pantai saat Hengky melompat ke arahnya. Mereka seolah saling tinju, saling tendang, dan saling memukul lalu setelahnya tertawa bersama, membaringkan tubuh mereka di pasir pantai, menatap langit yang mulai gelap.
“Udah gelap. Kita pulang yuk,” teriakku ke arah mereka.
Hengky buru-buru bangun diikuti oleh Andy. Ia bahkan masih sempat menendang kaki Andy lalu tertawa sambil berlari, menghindari balasan dari kakaknya.
Aku tersenyum kecil. Mereka sudah berbaikan kembali. Hengky setidaknya tidak akan emosi lagi saat mendengar nama Andy.
Tapi, bagaimana denganku?
Bagaimana dengan trauma ku?
Apakah perasaanku mulai ikut membaik juga?
Aku berjalan terlebih dahulu menuju mobil sementara Hengky sedang mengunci pintu villa. Andy yang berjalan di sampingku, menoleh lalu mendekat ke arahku,
“Aku punya nasihat untukmu, Naya. Jangan terlalu percaya pada Hengky. Yang kamu lihat saat ini, belum ada setengahnya dari sifat aslinya.
Sejujurnya, kalau kamu bersama laki-laki yang benar-benar baik, aku gak masalah.
Tapi, Hengky? Tidak ada yang mengenal dirinya lebih baik dari pada aku.”
Tanpa menunggu jawaban apapun dariku, Andy melambaikan tangannya lalu berjalan ke arah mobilnya.
Aku mengehela nafas sambil menatap Hengky yang sedang tersenyum, berjalan ke arahku,
Kejutan apa lagi yang Semesta siapkan untukku?
__ADS_1