
#57
Aku dikagetkan dengan suara dering handphone. Setengah menggeliat, aku mengerjapkan mata sambil memaksa untuk melihat layar handphone. Nama Hengky tertera di layar.
“Halo?” suaraku terdengar serak.
“Kamu ketiduran ya, Sayang? Pantesan tadi aku ketuk pintu kamar gak ada jawaban.”
Aku menggeliat pelan lalu memiringkan kepala untuk melihat jam dinding, “Ya Tuhan, sudah jam enam sore?!” seruku kaget.
Buru-buru aku lompat dari tempat tidur, “Sayang, aku mau sholat ashar dulu ya. Mumpung masih sempet. Ya Allah... aku ketiduran.”
“Okey. Nanti kalau sudah selesai, aku taruh goody bag depan pintu ya. Nanti habis maghrib dipake.”
“Eh, buat a..” kalimatku belum selesai namun panggilan telepon sudah dimatikan.
Baiklah, sepertinya aku tidak mempunyai banyak waktu. Setengah berlari aku menuju kamar mandi. Setelah selesai sholat, tidak lama adzan maghrib berkumandang. Aku mengutuk diriku sendiri bisa-bisanya ketiduran dan melupakan waktu sholat. Akhirnya sholat ashar yang sangat terlambat bagaikan sholat sunnah sebelum sholat maghrib.
Duh, ya Tuhan...
-----------------------------------------------
Selesai sholat aku membuka pintu. Sebuah goody bag yang cukup besar terletak di depan pintu. Setengah keheranan aku meraih pegangan goody bag lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Nampak sebuah dress putih berbahan brokat perancis, sepasang high heels berwarna hitam dan pashmina putih berbahan ceruty georgette beserta sebuah kertas notes kecil di atasnya,
Temui aku di taman jam 19.00
Pakai baju ini ya, Sayang.
Aku mengerutkan kening. Ada apa ini? mengapa tiba-tiba?
Pandangan mataku menuju jam dinding, dua puluh menit lagi jam tujuh malam. Sebaiknya aku bersiap-siap sekarang.
--------------------------------------
Setelah mematut diri berkali-kali di cermin aku berjalan ragu ke arah pintu. Namun selang beberapa detik aku kembali berlari ke depan cermin, memandangi diri yang nampak berbeda dengan gaun putih.
Selera Hengky memang luar biasa. Namun aku juga yakin, harga gaun ini pasti tidak biasa-biasa saja.
Sekali lagi, aku memutar tubuhku di depan cermin. Sebenarnya, bukan gaun putihnya yang membuatku cemas, tapi entah mengapa detak jantungku menjadi tidak beraturan.
Aku cemas, khawatir sekaligus penasaran.
Dering suara handphone memaksaku mengalihkan segala perasaan yang berkecamuk di dalam hati. Dengan terburu-buru aku membuka pintu sambil mengangkat telepon.
__ADS_1
“Iya, Sayang... ini aku lagi jalan kebawah.”
“Jangan lari-lari, Sayang. Aku udah di taman ya...”
Aku mematikan handphone lalu memusatkan perhatian ke bawah. Khawatir jika konsentrasi buyar, aku bisa tersandung langkah kaki ku sendiri.
Saat sampai di taman, mataku terbelalak. Bukan karena kaget, tapi aku terpesona dengan pemandangan di depanku. Suasana taman yang entah kapan disulap menjadi tempat dinner yang sangat romantis.
Hengky memilih spot tepat di bawah pohon di tepi kolam renang. Sebuah meja dan dua kursi tertata rapi dengan nuansa klasik. Di Atas meja tertata rapi lilin yang diletakkan di tengah beserta sebuah vas bunga dan ornamen berbentuk hati. Lampu tumblr yang diletakkan di pohon nampak semakin mempercantik suasana.
Yang membuatku takjub, kolam renang kini dipenuhi dengan kelopak bunga mawar putih yang disebar hingga menutupi permukaan air kolam renang. Di sepanjang tepi kolam, berjejer lilin cantik dengan tatakan lilin berwarna putih. Suara instrumen musik romantis sayup kudengar, menambah kesan menjadi lebih intim.
Refleks aku menutup mulut tidak percaya. Hengky tersenyum lembut menungguku di samping kursi, ia memegang buket bunga calla lily. Warna putihnya nampak serasi dengan kemeja yang dipakai Hengky.
“Welcome, My Queen...” Hengky membungkukkan badan sambil menyerahkan buket bunga padaku.
Jantungku berdetak tidak karuan. Ini pertama kalinya seorang lelaki memperlakukanku dengan sangat istimewa.
Sambil tersenyum aku menerima buket bunga. Ia menjulurkan tangan, memintaku menyambut uluran tangannya.
Tanpa ragu aku menyambut uluran tangannya. Dengan lembut ia mencium tanganku sambil berbisik pelan, “Kamu cantik banget malam ini, Sayang...”
Wajahku terasa menghangat. Sambil tersenyum aku memandangi wajah Hengky, “dan kamu tampak sangat gagah dengan kemeja putih itu, Sayang.”
Hengky menganggukkan kepalanya tanda menerima pujian ku. Ia menarik kursi lalu mempersilahkan ku untuk duduk.
“Karena kita gak mungkin minum wine, jadi minum air mineral aja ya?” ucap Hengky sambil setengah tertawa.
Aku mengangguk, “Yang pasti menjaga kita tetap ON.”
“Eh, apanya yang ON?”
“Akal dan pikiran kita. Lah, emang menurut kamu apa?” tanyaku bingung.
Tawa Hengky meledak. Ia menggelengkan kepalanya, “Bukan apa-apa. Duh, ngeliat kamu malam ini cantik banget jadi ngebuat aku gak fokus.”
Seorang pelayan kembali datang membawa nampan berisi piring besar berisi steak sapi lengkap dengan potongan potato wedges dan berapa sayuran pelengkap.
“Your favorite, steak tenderloin.”
”Seperti biasa, kamu yang terbaik,” ucapku sambil tersenyum.
Hengky mengambil piringku, tanpa diminta ia memotong daging steak menjadi lebih kecil sehingga bisa lebih mudah untuk ku makan.
Aku mengangguk kecil sambil tersenyum. Pikiran dan pandangan mataku lebih tertarik mengamati betapa tampannya Hengky malam ini.
__ADS_1
Model rambut curtain haircut nya nampak diatur rapi, sangat sempurna menghiasi wajah tampannya. Kemeja putih yang dipakainya terlihat sangat cocok membingkai tubuhnya. kemeja itu seperti diciptakan khusus untuknya. Sangat serasi dengan konsep malam ini.
Pandangan mataku beralih ke lengannya. Otot tangannya nampak jelas terlihat saat ia memotong steak untukku.
Lagi-lagi sesuatu yang menggelikan terasa mengaduk hati, menciptakan desiran aneh yang membuatku seketika menjadi salah tingkah.
“Mau sampai kapan kamu ngeliatin aku terus?”
Aku tertawa, “Ketauan ya?”
“Sayang, aku ini di depan kamu loh. Mana mungkin aku gak tahu.”
Hengky menyerahkan piring yang daging steaknya sudah dipotong olehnya, sambil tersenyum ia memberi kode untukku agar segera makan.
Aku mengangguk. Sambil menyuap daging kami berbincang tentang banyak hal. Bukan hal yang penting memang. Hanya tentang kapan Hengky terpikir untuk menyiapkan candle light dinner ini, siapa yang menghiasnya, siapa yang memasak, bahkan siapa yang memilihkan baju pun aku tanyakan.
Mataku melotot tidak percaya saat Hengky memberi tahu bahwa ia lah yang memasak steak ini untukku. Sambil tersenyum ia bilang bahwa lain kali ia akan menunjukkan skill memasaknya di depanku agar aku percaya.
Suasana hati yang baik membuatku sangat menikmati moment dinner kali ini. Bisa dibilang, moment dinner kali ini tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.
Suasana romantis ini hampir menenggelamkan gengsi dan sifat pemaluku.
Setelah selesai makan, Hengky memberikan kode kepada pelayan untuk mengangkat piring.
“Menu selanjutnya mau diantarkan sekarang, Pak?” tanya pelayan laki-laki itu sopan.
“Nanti saja. “jawab Hengky pendek.
Pelayan itu mengangguk lalu pergi.
“Oh iya, jam berapa Kak Andy tadi pulang?” tanyaku sambil menopang kedua pipi dengan tangan. Namun, selang beberapa detik aku tergagap, menyadari tidak seharusnya aku menanyakan tentang Andy saat ini.
“Eh, maaf... maksudku...”
Hengky menyadari ekspresi wajah ku yang nampak merasa bersalah. Ia tersenyum lalu memotong kalimatku,
“Satu jam setelah kamu masuk kamar, dia pergi. Oh ya, dia titip salam untukmu.”
Aku hanya mengangguk kecil.
“Naya, Ada hal penting yang harus aku ceritakan sama kamu.”
Tatapan mata Hengky terlihat serius. Ia membenarkan posisi duduknya, menunggu respon dariku.
“Dengan senang hati. Kamu bisa memberitahuku tentang apapun.” Jawabku lembut.
__ADS_1
Hengky nampak gelisah, ia menarik nafas panjang lalu sambil memejamkan mata ia mengucapkan satu kalimat yang membuatku aliran darahku seperti berhenti.
“Naya, aku pernah membunuh seseorang.”