Penjara Cinta

Penjara Cinta
Pelukan Abah


__ADS_3

82


Reflek tubuh saat terkejut hampir saja membuatku tidak sengaja menarik pedal gas. Andy yang langsung sigap memegang setir motor menyelamatkanku dari peristiwa yang akan lebih memalukan.


Andy masih menatap wajahku, tersenyum lebar menunggu jawaban dariku.


Aku memakai masker dan kacamata hitam, jika aku bilang bahwa aku bukan Naya, dia akan percaya, bukan?


Ya! Katakan saja bahwa dia salah orang!


Aku mengubah suaraku, “Maaf, anda salah orang.”


Suara tawa Andy pecah, “Ayolah, Naya. Kamu tidak bisa membohongiku dengan masker dan kacamata itu.”


Ah, sial! Bagaimana ini?


Haruskah aku kabur saja?


“Kamu dari mana? Jangan bilang rumah kamu di dekat sini?” tanya Andy yang langsung membuatku kebingungan harus mencari alasan apa.


Tunggu dulu, aku belum menjawab bahwa aku adalah Naya, bukan?


Sebelum Andy lebih mengenaliku lagi, aku harus pergi sekarang.


Tanpa menjawab pertanyaannya, aku kembali menghidupkan mesin motor. Tidak akan ada yang benar-benar tahu siapa aku jika aku pergi saat ini juga.


“Hey, kamu mau kemana? Mampir dulu, itu Hengky ada di dalam,” Andy berdiri di depan motorku, mencegah agar aku tidak pergi. Ia memasang wajah galak yang justru membuat mata bulatnya nampak menggemaskan. Hampir saja aku menurunkan standar motor jika tidak mendengar suara keras berteriak dari dalam pikiranku,


Sadar, Naya! Kamu harus pergi sekarang juga!!


Ah, benar. Apa yang sedang kulakukan?


Dengan cepat aku segera memundurkan motor lalu menarik dalam pedal gas, meninggalkan Andy yang masih berteriak memanggil namaku.


Sudut mataku masih sempat melihat Andy berdiri memandangiku lewat kaca spion. Sejujurnya aku sangat merindukan mereka. Ingin rasanya duduk lalu sekedar bertanya pada Hengky.


Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ku ajukan pada Hengky.


Tapi, ah... harga diriku jauh melebihi rasa penasaranku.

__ADS_1


--------------------------------------


“White Cat Resto yang di depan Rumah Sakit itu punya Hengky ya, Nay?” tanya Abah sambil menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.


Aku yang sedari tadi merasa kurang sehat sedikit tersentak saat Abah menyebutkan nama Restoran milik Hengky. Tidak ingin terlihat terlalu mencolok, ku jawab pelan pertanyaan Abah, “Kayaknya iya...”


“Kita dapet undangan grand opening nya nanti jam sembilan.”


“Apa??” suaraku mendadak bersemangat.


Ibu tertawa menggodaku, “Langsung semangat yaa, Nay? Padahal dari bangun tidur tadi kamu keliatan lemes kayak gak ada tenaga.”


“Apa sih, Bu...” jawabku dengan suara yang kembali pelan, pandangan mataku lurus ke arah piring besar berisi nasi goreng yang belum disentuh sama sekali.


“Pergilah, Nak. Gak enak sudah diundang gini...” Abah melirikku, ia berusaha bersikap setenang mungkin.


“Bukannya Abah dan Ibu gak suka sama Hengky? Kenapa tiba-tiba berubah?” tanyaku penasaran. Namun tetap ku jaga intonasi suara tetap pelan, seperti tidak tertarik dengan apapun jawaban mereka.


“Ya... kalau ternyata kamu gak bisa nikah kecuali sama dia, mau gimana? Gak mungkin Abah sama Ibu membiarkan kamu melajang seumur hidup. Jangan lupa, kamu sudah 26 tahun.”


Aku melirik Abah sekilas lalu kembali mengalihkan pandangan mata ke piring nasi goreng, “Biarin aja deh Naya gak nikah sampe tua.”


“Heh! Hati-hati kalau bicara!” Ibu menyenggol lenganku, “Jadi perawan tua beneren nanti nyesel loh kamu!”


Abah berdehem keras. Tanda bahwa perkataanku mulai menyinggung harga dirinya. Ia menaruh sendok dengan keras hingga menimbulkan suara berdenting.


Jika dulu aku langsung menciut saat Abah bersikap seperti ini, entah karena sudah terbiasa atau mentalku yang makin terbentuk, sekarang sikap Abah sama sekali tidak membuatku gentar.


Kenapa aku harus takut? Aku tidak melakukan kesalahan apapun.


“Intinya gini, Naya. Abah sudah memberikan lampu hijau untuk Hengky, itu artinya Abah ingin mengenal Hengky lebih dalam. Jangan terus kamu pertanyakan lagi apa dan kenapa, kan kamu tahu Abah kamu paling gak suka mengakui kesalahannya,” Ibu duduk di sampingku saat Abah sudah pergi.


“Susah sekali ya untuk mengucapkan kata, ‘maaf, Abah dan Ibu salah, Nak...’?” lirihku sambil menoleh ke arah Ibu.


Pertanyaanku bukan hanya untuk Abah tapi juga Ibu. Tidak mungkin aku bisa lupa, Ibu adalah pendukung terbesar dari kesalahan-kesalahan yang Abah lakukan selama ini.


“Jangan karena kamu sudah bisa mencari uang sendiri lalu membuat kamu jadi bisa bersikap seenaknya, Naya!”


Aku tersenyum, menyembunyikan seringai kesal dengan menundukkan kepalaku.

__ADS_1


Selalu saja seperti ini, mencari-cari kesalahanku saat merasa sudah terpojok.


“Kapan ya kita bisa bicara, berdiskusi dengan baik tanpa emosi, tanpa merasa menjadi superior atau pihak yang akan selalu benar?”


“K-kamu...?!!” Ibu langsung berdiri. Matanya melotot marah, lalu jari telunjuknya menuding wajahku, “JANGAN LUPA, NAYA! IBU DAN ABAH YANG MEMBUAT KAMU MENJADI SUKSES SEPERTI INI!”


Aku mengangkat wajahku, memandang wajah Ibu dengan tatapan sedih, “Padahal Naya bicara baik-baik loh, Bu. Kenapa Ibu harus teriak-teriak?”


“Ada apa ini?! Itu anak-anak karyawan Naya di ruangan sebelah sampai kaget!” Abah tiba-tiba datang menghampiri kami.


“Lihat anakmu ini, Bah! Mentang-mentang sudah bisa cari uang sendiri, jadi kurang ajar sama kita!”


Abah melipat tangan ke atas dada, sorotan matanya tajam ke arahku. Mulutnya terbuka, bersiap mengeluarkan kalimat yang aku yakin pasti akan menambah hariku menjadi lebih buruk lagi.


Aku sudah siap. Toh, hariku tidak akan bisa lebih buruk dari ini.


“Bisa gak sih kalau bicara itu gak usah teriak-teriak, Bu?!”


Kepalaku yang semula tertunduk tiba-tiba terangkat, pandangan mataku menatap Abah dengan tatapan yang tidak ku mengerti.


Abah memarahi Ibu? Bukan memarahi aku?


Ibu yang juga nampak kaget terlihat bingung harus bereaksi seperti apa. Ia memandang wajah Abah dengan tatapan yang tidak ku mengerti.


“Naya sudah dewasa. Kita gak bisa terus memperlakukan dia seperti ini. Lihat, dia sudah berusaha sebaik yang ia bisa. Bisnisnya berkembang dengan baik. Coba Ibu lihat teman-teman seumuran Naya, apa ada yang mencapai prestasi dengan usaha sendiri sebaik Naya?”


“Ibu masih ingat waktu kita menentang Naya berjualan Abaya jahitannya sendiri? Dia tetap berusaha menunjukkan pada kita dan dia berhasil. Itu sebuah prestasi besar. Dia bisa membuka lowongan pekerjaan pada orang disekitarnya. Dua puluh orang, itu awal yang sangat bagus!”


“Saat pertama kali Ibu membuka TK, perlu waktu puluhan tahun hingga bisa berkembang menjadi Yayasan. Tidak akan bisa seperti ini tanpa dukungan orang terdekat kita. Jika saat awal Naya membangun bisnis tidak kita support, lambat laun bisnisnya akan hancur. Sudah saatnya kita berhenti, Bu. Hentikan bersikap keras padanya.”


Ini akan menjadi moment yang tidak akan kulupakan dalam hidup. Untuk pertama kalinya seumur hidup, Abah tidak menyalahkanku. Untuk pertama kalinya Abah mendukungku.


Aku tidak bisa menahan laju air mata, aku pun tidak bisa menahan langkah kaki yang berlari memeluk Abah.


Abah menyambut pelukanku dengan erat. Mengusap kepalaku dengan lembut seolah aku adalah anak kecil berusia lima tahun yang sedang merajuk.


Untuk pertama kalinya pula Abah memelukku dengan hangat. Aku bisa merasakan ketulusannya lewat belaian tangannya.


Saat melepaskan pelukannya, Abah berbisik pelan, “Hampiri ibumu, peluk dia.”

__ADS_1


Aku menoleh ke arah Ibu yang sedang mengusap air mata. Saat aku berjalan ke arahnya, ia langsung membuka tangan dan menyambut pelukanku,


“Maafkan Ibu, Nak. Ah, ibu tidak tahu mengapa Ibu menjadi sekeras ini sama kamu. Maafkan Ibu...”


__ADS_2