Penjara Cinta

Penjara Cinta
"Bisa Jaga Naya Untukku?"


__ADS_3

93


Andy menyambut kami di depan ruang tunggu. Raut wajahnya nampak sangat khawatir namun ia berusaha tersenyum ketika melihatku.


“Hengky, dia... dia dimana?” tanyaku ketika sampai di depannya.


Andy mengangguk sopan ke arah Abah, Ibu, dan yang lainnya. Tanpa banyak bicara ia mengarahkan tangannya sebagai tanda agar kami mengikuti langkahnya.


Detak jantungku semakin tidak beraturan. Sampai ketika masuk ke ruangan VVIP aku melihat Hengky sedang terbaring lemas dengan selang infus di tangannya.


Ya Allah... ya Allah....


Sungguh andai bisa menahan air mata, aku sangat tidak ingin menampakkannya di depan Papi, Mami dan beberapa saudara Hengky saat ini. Namun melihat selang infus di tangannya, memar juga luka di pelipis dan tulang pipi, membuat air mata mengalir begitu saja membasahi pipi.


“Aku gak papa, Naya...” Hengky tersenyum lembut saat melihatku mendekat ke sampingnya.


“Gak papa gimana... ini luka semua gini...” kalimatku terdengar tersendat oleh suara tangis.


Mami memeluk pundakku, mengusap lembut punggungku, “Dokter bilang gak ada kondisi yang serius kok, Naya...”


“T-tapi kenapa Hengky pakai selang oksigen, mi?” tanyaku pelan. Suaraku terdengar serak karena tidak henti menangis.


“Dadanya tadi terasa sedikit sesak karena benturan. Selebihnya gak papa kok...”


Papi mendekat ke arah kami, ia menyalami Abah dan saudara yang lain. Senyumannya ramah dan mampu memecahkan suasana dengan candaan ringannya.


Hengky memberi kode pada Andy agar mengubah posisi tempat tidurnya menjadi posisi duduk, ia berbisik pelan pada Andy.


“Bisa mendekat sebentar kesini, Naya?” tanya Hengky pelan.


Suaranya terdengar lemah, menambah keyakinanku bahwa ia tidak baik-baik saja.


Setelah mendekat ke sampingnya, Hengky menatap mataku dengan pandangan yang sulit ku artikan. Ia kemudian tersenyum lalu menoleh ke arah Andy, “Aku bisa minta tolong sesuatu, Kak?”


Andy mengangguk cepat, “Ada apa?”


“Bisa jaga Naya untukku? Aku yakin Kakak bisa menggantikan posisiku menjaga Naya.”

__ADS_1


“Apa?!” aku dan Andy secara bersamaan mengatakan pertanyaan yang sama.


“J-jangan main-main, Ky. I-ini hari pernikahan kita, bukan? Lihat... aku sudah pakai kebaya yang kamu pesan khusus untukku. Jangan lupa, masih ada dua gaun lagi yang belum ku pakai. Aku... aku...” tangisanku kembali pecah. Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku.


Papi yang berada di dekat Abah, Ibu dan saudaraku yang lain nampak berbicara serius. Sudut mataku sempat menangkap Ibu yang terkejut sambil menutup mulutnya. Dan kali ini Ibu bahkan tidak bisa menahan air matanya.


“Naya, aku cuman gak pengen kamu melewati hari-hari yang sulit sendirian. Aku mau pergi tanpa merasa khawatir...”


“Enggak!” aku memotong kalimat Hengky dengan cepat, “Apapun yang mau kamu katakan, aku gak mau dengar jika itu bukan tentang pernikahan kita. Bukankah tadi kamu bilang bahwa kamu baik-baik saja? Lalu mengapa sekarang bicaramu ngelantur?”


“Bisa dengarkan kalimatku sampai selesai, Sayang?” tanya Hengky lembut. Ia nampak mengatur nafasnya, tangannya memegang dada.


“Demi Allah, Hengky. Aku gak mau menikah dengan orang lain kecuali kamu! Kalau kamu pergi, aku gak akan menikah dengan siapapun, Hengky!” tanpa kusadari suaraku meninggi bercampur tangis. Yang keluar hanyalah kalimat seperti ratapan. Aku sungguh tidak bisa memakai akal sehatku lagi saat ini.


Andy mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Ia menggenggam tangan Hengky kuat, “Ky, jangan gini, Bro! Ini cuman sesak biasa, kamu bilang kepalamu pusing? Itu hanya akibat benturan tadi, efeknya akan menghilang. C’mon.. we need you, Bro. Naya needs you.”


Hengky memejamkan matanya, membuat air matanya seketika menetes. Bibirnya tidak lepas beristighfar. Aku tidak tahu apa yang sedang dirasakannya namun ia terlihat menahan sakit, membuatku makin ketakutan.


“Abah...” suara Hengky pelan memanggil Abah.


“Aku gak tahu, Bah. Rasanya perasaanku gak tenang. Aku.. aku takut membiarkan Naya sendirian..”


Abah segera memeluk Hengky, ia mengusap kepala Hengky lalu berbisik lembut, “Kamu baik-baik aja, Nak... Kamu akan segera baik-baik aja...”


“Aku gak baik-baik aja, Abah. Aku tahu dengan baik apa yang kurasakan saat ini,” Hengky mengusap air matanya. Ia menunduk sambil menggelengkan kepalanya lemah.


Aku memalingkan wajah, tidak sanggup melihat raut wajah putus asa Hengky. Hatiku lebih sakit melihatnya seperti ini.


“Aku ingin, sebelum pergi, aku memastikan Naya dijaga oleh orang yang tepat. Dan kak Andy adalah orang yang tepat untuk Naya, Bah..”


“Kemanapun kamu pergi, aku ikut, Hengky! Kemanapun! Please.. aku mohon... jangan banyak bicara, kamu fokus istirahat aja yaa...” seruku memohon. Jika bisa memeluknya, aku ingin sekali memeluk dan mengusap air matanya.


Hengky memandangku putus asa, “Haruskah aku duduk dan bersimpuh di kakimu agar kamu menurut padaku, Naya?”


“Allahu Rabbi...” lututku terasa sangat lemas dan tidak mampu menopang tubuh. Tanpa kusadari aku sudah terduduk di lantai sambil menangis.


Ibu datang mendekat ke arah kami, ia mengusap pundakku lembut lalu menatap Hengky dengan penuh pengertian, “Nak, Ibu sangat mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Ketakutan dan rasa sakit bercampur satu, tapi apa kamu tahu bahwa Ibu juga membawa Bapak penghulu ikut kesini?”

__ADS_1


Wajah Hengky terangkat, ia menatap Ibu tidak percaya, “A-apa?”


“Untuk menjaga jika situasi di luar kendali, Ibu menyiapkan semuanya. Nanti, kamu harus berterima kasih sama Ibu, yaaa…” Ibu tersenyum, sedikit menyelipkan candaan dalam kalimatnya.


“Tapi Hengky..”


“You are okay, Bro! Lihat, detak jantung kamu normal, badan kamu hangat, kamu bahkan bisa lancar berbicara walau hanya omong kosong yang keluar,” Andy memaksa tertawa, ia menepuk pundah Hengky, “Ayolah! Memangnya kamu rela kalau Naya malah nikah sama aku dan ternyata kamu malah baik-baik saja?”


Dengan sekejap ekspresinya berubah cerah, dengan semangat ia menoleh ke arah Andy, “Kak, bisa panggil dokter yang menangani aku di IGD tadi? Ada beberapa hal yang ingin aku konfirmasi.”


Andy mengangguk kemudian pergi keluar ruangan. Sempat kulihat senyuman lebar di bibirnya. Ya, kalimatnya berhasil membangun kembali semangat dalam diri Hengky.


Mami memegang pundakku, membimbing untuk duduk di sofa. Aku menurut, tidak sopan menolak Mami yang berniat baik padaku. Ibu pun menyusul kami duduk di sofa.


“Hengky memang selalu seperti ini saat sakit, Naya. Selalu saja ketakutan seperti ini, dari kecil dulu...” Mami membuka obrolan, pandangan matanya lurus ke arah Hengky yang sedang berbicara dengan Abah dan Papi.


Aku tidak menjawab. Penolakan jelas terdengar jelas dalam hati. Bukankah Mami tidak pernah ada untuk Hengky? Bagaimana mungkin ia bisa menganggap remeh perasaan Hengky saat ini?


“Di dalam mobil tadi ada siapa saja, Bu?” tanya Ibu kepada Mami.


Aku yang awalnya tidak terlalu tertarik kini menoleh ke arah Mami. Ya, sampai saat ini aku belum tahu bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi.


“Andy yang membawa mobil, Hengky ada di depan bersama Andy, lalu saya dan papinya Hengky ada di belakang. Kami hanya terguncang kedepan sebentar, sementara mobil bagian kiri yang dihantam oleh mobil mini bus tadi sedikit rusak. Padahal tabrakannya gak keras, entah mengapa Hengky menjadi ketakutan seperti ini.”


“Yang ditabrak sisi sebelah kiri depan ya, Mi? Dan Hengky ada di sebelah kiri, bukan?” tanyaku pelan.


Mami mengangguk.


Aku menghela nafas. Antara lega bercampur sedih, “Hengky shock, Mi. Dia kaget. Bukan fisiknya yang butuh pertolongan.”


Mami menoleh ke arahku, wajahnya sedikit terkejut seperti baru menyadari bahwa itulah yang sedang dirasakan Hengky. Matanya mendadak memerah, ia tertunduk, “Ya Tuhan... kamu benar, Naya...”


Aku dan Ibu saling pandang. Untuk saat ini kami bisa saling mengerti arti tatapan mata walau tanpa kata-kata. Pandangan kami beralih bersamaan ke arah Hengky,


Ya Allah, Sayang...


Aku benar-benar tidak sabar mengajakmu pulang kerumah kita...

__ADS_1


__ADS_2