
90
“Berkunjunglah ke hatiku bukan sebagai tamu, tetapi sebagai pemilik rumah. Sebab disana kamu akan tinggal selamanya.”
Hengky pernah mengatakan kalimat itu dulu saat aku masih bersama Andy. Saat itu akan menganggapnya hanya sebagai angin lalu. Namun sekarang, aku membuktikan kebenaran kalimatnya itu. Perjuangannya yang luar biasa hingga aku merasa tidak pantas bersamanya.
Mendadak semua rasa sakit dan kesedihan yang aku alami demi memperjuangkan hubungan kami terasa seujung kuku dari perjuangan yang telah ia lakukan tanpa sepengetahuanku.
Belakangan aku pun baru tahu dari Andy bahwa Hengky berjuang sangat keras demi membangun bisnisnya. Ia tidur hanya dua jam di dua tahun pertama saat membangun bisnisnya. Terkadang ia tidur di mobil, kadang di kursi resto, dimanapun asalkan ia bisa memejamkan mata sebentar saja.
Saat Andy menegurnya untuk jangan berusaha terlalu keras, berusaha mengajaknya bercanda dengan memberi tahu bahwa tanpa ia berjuang sekeras ini, ia akan mewarisi perusahaan raksasa milik Papinya, Hengky menjawab, “Aku tidak ingin pernikahan kami nanti di atur oleh orang lain termasuk keluargaku dengan dalih uang yang kami pakai berasal dari bisnis milik orang lain.”
Aku selalu menjadi motivasi di balik kerja kerasnya.
Selama ini aku menganggap bahwa aku mengetahui segalanya, tidak ada yang tidak ku ketahui tentangnya. Namun mendengar cerita Abah dua minggu lalu membuatku tersadar, ada banyak luka dan perjuangan yang Hengky lakukan tanpa sepengetahuanku.
Ya, dua minggu telah berlalu dan dua minggu lagi menjelang hari pernikahan kami.
Tidak seperti cerita beberapa teman dan saudaraku yang bilang bahwa menjelang pernikahan akan ada banyak cobaan, aku dan Hengky melewati hari-hari dengan lancar. Ia yang sangat jarang menghubungiku kecuali tentang persiapan pernikahan kami.
Aku harus menekan erat perasaan yang tiap hari makin bertambah. Hengky bukan mengatakan omong kosong saat ia bilang ingin menjaga kesucian hubungan kami sebelum pernikahan. Ia benar-benar tidak menghubungiku kecuali benar-benar perlu.
Sejujurnya aku sangat merindukannya. Setidaknya aku hanya ingin dia mengucapkan kata itu. Hanya pengakuan bahwa bukan hanya aku yang merasakan perasaan itu.
Namun lagi-lagi aku harus belajar merelakan semuanya berjalan sesuai alurnya. Aku membiarkan perasaan ini menetap di hati, membiarkan perasaan bahagia dengan hanya membaca pesan teks singkatnya,
“Apa semua baik-baik saja?”
“Catering sudah ku pesan. Dekor sederhana sesuai dengan yang Naya mau juga sudah ku atur. Jangan banyak pikiran, ya. Jangan capek-capek.”
“Gaun Ibu dan Jas Abah besok diantar kurir ya.”
Ah, ini gila. Mengapa aku berharap ia mengatakan kalimat seperti dulu?
----------------------------------------
Seminggu sebelum acara pernikahan kami.
Karena hanya mengundang saudara dan teman terdekat, kami tidak disibukkan dengan betapa repotnya mempersiapkan undangan. Catering untuk acara di rumah yang baru dibeli Hengky dan di rumah Abah dan Ibu pun sudah di pesan oleh Hengky. Sepertinya karena tidak ada kesibukan, pikiranku malah terganggu.
Aku mulai meragukan ketulusan Hengky hanya karena pesan singkatnya yang dingin.
Astaga.. padahal jika aku berfikir menggunakan logika, aku tahu alasan mengapa ia bersikap seperti itu. Namun ada pula saat dimana sisi hati yang lain berkata,
Lihat, dia sudah tidak pernah memanggilmu ‘Sayang’ lagi, apa mungkin dia sudah tidak mencintaimu seperti dulu?
Kenapa jas Abah dan Gaun Ibu diantarkan oleh kurir? Mengapa bukan dia yang datang sendiri?
__ADS_1
Ah, sepertinya dia memang sudah tidak mencintaiku lagi.
Lambat laun pikiran negatif mulai membuat hariku menjadi gelap. Aku mulai uring-uringan, marah tanpa sebab, dan sering menangis.
Di lain waktu, aku mulai berfikir, apa aku kerasukan setan?
------------------------------
Lima hari menjelang hari pernikahan
Bukannya semakin membaik, kondisi mentalku semakin terpuruk. Lebih buruknya lagi, karena aku berusaha sebaik mungkin menyembunyikan perasaanku pada orang-orang di sekitarku.
Aku merasa dituntut sebagai calon pengantin harus menampilkan rona bahagia dan senyuman di wajah. Sementara hatiku sedang terus mengakar menebarkan kesedihan ke seluruh relung hati. Logika terasa hampir mati.
Satu jam merasa baik-baik saja, di jam berikutnya aku kembali menangis. Aku takut Hengky benar-benar seperti yang kupikirkan. Aku takut Hengky menikahi karena memang dia sudah terlanjur berjanji padaku.
Saat keadaan sedang memburuk, panggilan telepon berbunyi. Aku melirik nama penelpon,
“Assalamualaikum, Ky...”
Terdengar tawa di seberang sana, “Waalaikum salam. Apa kabar, Naya?”
“Yaa... beginilah...” jawabku lemas.
“Loh? Ada apa? Kok suaranya lemes gitu?”
Aku menghela nafas panjang, “Gak papa...”
“Tumben nelpon? Biasanya cuman nge chat pendek-pendek doang...”
Hengky terdiam sesaat, dengan hati-hati ia berkata, “Jangan bilang kalo kamu ngambek cuman gara-gara itu...”
“Jangan nahan ketawa! Aku tau kamu pasti sekarang lagi nahan ketawa!” seruku marah.
“Eh, siapa yang ketawa?”
Mendengar nada suaranya yang jelas sedang menahan tawa membuatku semakin kesal, aku membanting tubuhku ke atas tempat tidur, menghela nafas dengan keras, sengaja membiarkan Hengky tahu bahwa aku sedang kesal.
“Walau aku gak tahu kesalahan aku apa tapi aku minta maaf yaa kalau aku ada salah...”
“Kalau gak tahu ya cari tahu, dong!” balasku ketus.
“Aku kesana sekarang, ya...”
Tiba-tiba pupil mataku membesar, refleks aku langsung bangun dari tempat tidur, “Eh? Ngapain?”
“Biar kamu gak ngambek lagi...”
__ADS_1
“Aku gak perlu kamu kesini, Hengky Widiyantooo...!”
“Trus apa?”
Seketika aku terdiam, bingung harus menjelaskan perasaanku sekarang seperti apa. Karena tidak mungkin rasanya aku dengan lugas mengatakan bahwa aku merindukannya, aku ingin dia memperlakukanku seperti dulu.
“Sayang?”
Deg!
Hatiku berdesir halus. Satu kata yang berhasil memecahkan kebekuan di dalam hati. Bahkan jika ia bisa melihat wajahku saat ini, ia pasti akan mengejekku habis-habisan.
“Coba bilang lagi...” Astaga, kalimat ini keluar begitu saja dari mulutku.
“Jangan marah lagi ya, Sayang. Tunggu disana ya, aku kesana sekarang.”
“Hey, aku...” belum sempat kalimatku selesai, panggilan telepon sudah terputus.
Mendadak akal sehatku kembali.
Apa yang sudah kulakukan? Apa-apaan aku ini?
Buru-buru aku menelpon Hengky kembali. Detak jantungku menjadi memburu saat menyadari sikapku yang persis seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
Hingga tiga kali panggilan, ia tidak juga mengangkat.
Ya Tuhan... bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan kalau ia benar-benar kesini?
Membayangkan betapa malunya jika ia benar-benar kemari membuatku terus menelponnya. Sampai di panggilan yang entah keberapa, telpon diangkat,
“Iya, Sayang... Aku lagi jalan nih.”
“Jangan kesini! Aku bakal makin marah kalau kamu sampai kesini!”
Terdengar suara tawa yang cukup keras di seberang sana. mendengarnya tertawa membuatku makin malu, tapi memang sikapku pantas di tertawakan.
“Calon istri aku kalau marah lucu ya? Sudah lama gak denger kamu ngambek gini jadi lucu banget dengernya.”
Aku tertunduk, “Iyaa... aku memang pantes di ketawain...”
“Kamu mah pantesnya dinikahin, Sayang...”
Bibirku tidak dapat menahan senyum. Sambil tertunduk bibirku tersenyum malu. Entah kenapa juga aku bersikap malu-malu seperti ini? Seolah Hengky berada di depanku.
“Jadi kita ketemu lima hari lagi ya?”
“In syaa Allah...”
__ADS_1
“Iya, In syaa Allah. Semoga Allah melancarkan acara pernikahan kita ya, Sayang...”
Aku memejamkan mata, berucap kata ‘amien’ dengan penuh pengharapan padaNya.