Penjara Cinta

Penjara Cinta
Calon Isteri Hengky


__ADS_3

88


Apakah pelangi terus saja muncul tanpa henti? Tentu tidak bukan? Namun mengapa mataku terus saja melihat pelangi saat memandang langit? Mengapa telingaku mendengar suara klakson mobil yang bertubi-tubi saat macet seperti suara nyanyian burung kecil? Dan hatiku, terus saja menyenandungkan irama syahdu.


Aku akan segera menikah. Tinggal hitungan hari.


Ya Tuhan, apakah kalian percaya itu? AKU AKAN MENIKAH!


Segala yang kusentuh, segala yang ku kerjakan terasa sangat mudah. Desain Abaya bisa ku kerjakan sekaligus untuk lima series, kontenku berubah menjadi lebih ceria, dan mereka bilang, aku terlihat semakin cantik.


Kebahagiaan membawa aura tersendiri, aura istimewa.


Aku selalu tidak sabar menanti hari esok. Saat hari berganti, saat menerima telepon dari Hengky, saat mendengar bahwa ia sedang dalam perjalanan kesini.


Setelah dua minggu terakhir, Hengky akhirnya datang kerumah. Ia mengajakku untuk fitting baju pengantin sekaligus melihat rumah yang baru saja dibelinya kemarin. Namun kali ini kami tidak berdua seperti dulu, Hengky mengajak Ibu turut serta.


“Rasanya lebih mendebarkan saat hubungan ini benar-benar kita jaga kesuciannya. Kamu tahu maksudku, bukan?” ucap Hengky di telepon tadi.


Aku yang berpura-pura tidak mengerti berakhir dengan mendengarnya berkata, “Jangan rusak puncak kenikmatan dengan mencuri momentnya, Naya. Aku sabar menanti selama empat tahun, mengapa sekarang menjadi tidak sabar hanya menunggu dalam hitungan hari?”


Ah, aku jadi teringat ucapan Andy saat ia berpamitan kemarin. Andy yang sengaja sekali mencari celah untuk berbicara denganku. Saat ia mendapatkannya, ia bercerita dengan penuh semangat bahwa ia dan Hengky selama empat tahun terakhir mulai memperbaiki diri sama sepertiku. Bahkan menurut ceritanya, Hengky pernah membatalkan kesepakatan penting dengan salah satu supplier daging terbaik hanya karena jadwalnya bertabrakan dengan jadwal kajian Ustadz favorite nya.


Andy sempat kesal saat itu namun Hengky meyakinkannya bahwa Allah akan menggantinya dengan lebih baik. Dan benar saja, selang dua hari, supplier lain datang dengan kualitas daging yang lebih baik dan harga yang lebih murah.


Sejak dari itu, mereka benar-benar berubah. Dan aku memang bisa melihat itu dari sikap mereka. Pandangan mereka lebih terjaga. Andy yang biasanya gemar sekali menebarkan pesona, kemarin terlihat sangat berbeda. Ia tidak sekalipun mengalihkan pandangannya ke arah saudara sepupu, karyawan wanita yang memang sedari awal sudah menghujaninya dengan tatapan penuh kekaguman.


Mereka berdalih, jika menatap Hengky, itu sama saja sia-sia karena Hengky sudah menjadi milikku, namun entah mendapat kepercayaan diri dari mana, mereka meyakini jika tatapan mata mereka mampu meluluhkan Andy.


Setelah Andy mengajakku bicara sesaat akan pulang, mereka bahkan berkerumun di belakangku hanya agar Andy menyadari keberadaan mereka.

__ADS_1


Ya Tuhan...


Aku berusaha menahan tawa melihat tingkah mereka saat itu.


“Mbaak... Itu pangeranmu sudah dateng!”


Suara Gina yang beriring tawa menyadarkanku dari lamunan, “Tolong panggil Ibu ya, Gin.”


Saat ke ruang tamu dan melihat Hengky yang duduk di sofa tiba-tiba seolah mengalirkan rasa hangat di dada. Saat ia tersenyum, aku tidak dapat menahan rona merah bersemu di wajahku.


“H-Hai...”


Duh, apa yang ku katakan?


“Assalamualaikum, Calon Istri...”


Ya Tuhan, aku meleleh...


Saat kami sampai, mulutku menganga tanpa dapat kucegah. Jika tidak disenggol oleh Ibu, mungkin air liur sudah menetes dari bibirku.


“Ayo masuk, Ibu, Naya...” ucap Hengky lembut sambil memutar gagang pintu.


“Masya Allah... kamu pinter banget milih rumahnya, Nak..” ujar Ibu sambil masuk ke dalam rumah, “Ini barang-barangnya juga kamu pilih sendiri?”


“Iya, Bu. Sesuai dengan warna kesukaan Naya, warna putih. Sebenarnya Hengky beli tanahnya sudah lama, Bu. Tapi baru terkumpul uangnya baru-baru ini untuk bangun rumahnya,” jelas Hengky masih sambil tersenyum.


“Kapan kamu beli tanahnya, Nak? Bukannya usaha kamu masih membutuhkan banyak biaya?”


Hengky menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Beli tanah sejujurnya upah dari kerja Hengky di perusahaan Papi, bangun rumahnya yang uangnya dari usaha Hengky saat ini.”

__ADS_1


“Wah, lama sekali kamu nabungnya ya, Nak? Perlu waktu berapa lama?” entah mengapa Ibu menanyakan hal yang tidak penting.


“Sebenarnya ini dari upah bulan terakhir sebelum Hengky membangun usaha sendiri, Bu.”


“Ah, upah satu bulan? Beli tanah ini upah kamu selama sebulan? Ini daerah sini tanahnya sudah mahal banget, Nak. Terakhir sepengetahuan Ibu lima ratus jutaan,” mata Ibu melotot kaget.


Hengky terlihat kebingungan harus bagaimana menjelaskan jika sebenarnya upahnya lebih dari itu, bahwa sebenarnya perusahaan Papinya dapat menghasilkan omset hingga ratusan triliun. Namun ia memilih tertawa daripada menjawab pertanyaan Ibu.


Dengan sopan ia membimbing Ibu untuk melihat ke ruangan yang belum Ibu lihat, mengalihkan perhatian Ibu agar lebih fokus mengamati isi rumah.


Sedangkan aku masih tertinggal masih di depan pintu. Masih tidak percaya bahwa rumah impianku kini berada di depan mata, kini menjadi milikku.


“Gimana? Kamu suka?” tanya Hengky lembut. Ia berjalan menyusulku ke arah pintu, “Ayo masuk...”


Dulu Hengky pernah bertanya padaku, jika ingin membangun rumah, aku menyukai rumah yang seperti apa. Apakah tipe mewah klasik seperti rumah orang tuanya atau yang glamour seperti mansion milik papinya?


Sambil menerawang aku menjawab, “Aku suka rumah yang sederhana saja. Dengan empat kamar di dalamnya. Satu kamar untuk aku dan suami, satu kamar untuk anakku nanti, satu kamar untuk tamu dan satu kamar lagi untuk asisten rumah tangga. Tidak perlu dua lantai, cukup satu lantai saja. Dengan halaman belakang luas dan eh, kamu tahu bentuk rumah jaman dahulu?”


Saat itu Hengky kebingungan, “Yang seperti apa?”


“Bentuk rumah klasik jaman dulu. Dengan sedikit sentuhan rumah panggung tapi bukan rumah panggung. Ada sentuhan klasik eropa tapi tidak sepenuhnya. Nuansa putih, halaman belakang luas dan kolam ikan kecil untuk melepas lelah sambil melihat tingkah lucu mereka.”


Mendengar penjelasanku Hengky malah tertawa, “Penjelasan kamu sungguh sangat amat tidak jelas ya?”


Namun lihatlah sekarang, bagaimana mungkin dia bisa mengerti maksudku saat itu?


Saat baru sampai tadi, aku melihat tampilan rumah klasik ala eropa namun dengan teras panggung ala rumah Indonesia jaman dahulu. Rumah dengan konsep letter L dengan atap segitiga runcing, jendela-jendela besar serta banyak, serta tambahan batu alam di sebagian dinding. Selain itu ada menara atau pilar di dekat pintu utama makin menambah sentuhan klasik ala eropa.


Yang membuat unik adalah gerbang yang bentuknya seperti kayu besar ala rumah sederhana di eropa. Terlihat sangat rapi tersusun dengan taman yang dipenuhi rumput hijau.

__ADS_1


Hengky memecahkan perhatianku. Aku menatap matanya, hampir saja mengatakan betapa hebatnya dirinya yang bisa mengerti maksud keinginanku namun segera urung saat mendengarnya berkata,


“See? Tanpa kamu jelaskan saja aku mengerti keinginanmu. Tell me, what I did not know about you? (Katakan padaku, apa yang tidak aku ketahui tentangmu?)”


__ADS_2