Penjara Cinta

Penjara Cinta
Hacker


__ADS_3

#33


Aku sudah menduga, mobil Hengky akan terparkir di depan gerbang Kosan begitu aku tiba. Mengingat tadi aku pergi terburu-buru tanpa memperdulikan teriakannya, sudah pasti sekarang dia akan marah padaku.


Benar saja, saat ini Ia sudah duduk di depan Kosan, dengan sorot mata penuh kekesalan sambil berpura-pura tidak melihat kedatanganku.


Seolah tanpa merasa bersalah, aku tersenyum lalu mengamit lengannya, “Sudah lama disini?”


“Ngapain kamu ke tempat cewek itu?!”


“Cuman ngobrol biasa aja kok...”


Hengky mendengus kesal, “Kamu pikir sopan pergi begitu saja tanpa pamit sama aku?”


“Kamu marah ya?” Aku mendekatkan wajah ke arahnya, memainkan mata.


“Siapa coba yang gak marah? Nanti kebiasaan pas kamu udah jadi istri aku trus bersikap gak sopan kayak gitu!” Hengky masih bersungut kesal.


“Maaf yaa, Sayang...”


“Hmm...”


“Ehm... tadi kamu bilang jadi istri? Istri kamu?”


“Hmmm.....”


Aku menahan tawa melihat wajahnya memerah. Hidungnya yang kembang kempis jelas menandakan ia sudah tidak marah tapi di tahan olehnya. Gengsi laki-laki memang luar biasa.


“Sayang sudah makan?” kataku sambil memainkan rambutnya


"Sudah.”


“Aku belum...”


“Ya makan sana loh...”


Luar biasa. Ia masih terus mempertahankan nada suara yang sama sejak awal. Nada suara dingin dan ber-pura-pura tidak perduli.


Aku segera meraih tas ku lalu berdiri.

__ADS_1


Hengky segera menarik tanganku, “Mau kemana?”


“Mau makan. Kan tadi katanya di suruh makan.”


“Jadi mau ninggalin aku sendiri disini?”


Aku mengerjapkan mata, lalu tersenyum iseng, “Ooh... sudah gak ngambek lagi?”


Dengan cepat Hengky membuang wajah, menyembunyikan tawa yang hampir lepas.


Ya Tuhan, kenapa dia se lucu ini?


“Sayang... temenin aku makan yuk...”


Tanpa menunggu perkataan ku dua kali, Hengky segera berdiri, “Kenapa gak ngomong dari tadi sih?” ucapnya sambil berpura-pura kesal lalu berjalan terlebih dahulu, mendahuluiku.


Sengaja menggodanya, aku tidak mengikuti langkahnya. Aku ingin melihat bagaimana reaksinya.


Sadar bahwa aku masih berdiri di tempatku, ia segera membalikkan badannya, “Ayook...!”


“Ngomong yang bagus dong... yang mesra...”


“Buruan! Katanya laper...”


“Sayang... ayo cepetan. Aku temenin makan, yuk.”


Aku tertawa puas. Sementara Hengky justru segera membalikkan badannya berjalan terburu-buru ke arah mobilnya, ber pura-pura tidak mendengar gelak tawa ku.


...----------------------------...


Kegiatan kampus yang sangat padat menyelamatkan ku dari over thinking yang hampir perlahan membunuh ku.


Aku tidak lagi menangis saat malam atau bengong sendirian di kelas saat jam kosong. Kepadatan jadwal menyibukkan pikiranku, mengalihkan ku dari melewati hari yang panjang.


Aku sengaja mendaftarkan diri sebagai asisten dosen, mendaftarkan diri sebagai ketua kelompok KKN dan banyak kegiatan yang lain.


Tujuanku hanya satu, aku tidak ingin berlarut dalam kesedihan atau kekecewaan yang hanya menyebabkan kerugian. Jika ada yang merugi, maka orang itu tidak boleh aku.


Kegiatan KKN selama hampir dua bulan sangat ku nikmati.

__ADS_1


Berbaur dengan orang baru, membaur bersama masyarakat, mengadakan kegiatan sosial. Secara mengejutkan aku menikmati semua prosesnya.


Bagaimana tidak? Aku yang introvert ini berhasil mengalahkan ketakutan dan kecemasan ku terhadap keramaian.


Dan tentu saja, Hengky dengan uang dan keluasan koneksinya mampu memilih kelompok manapun yang ia suka. Kalian pasti sudah menebaknya, ia tidak akan membiarkanku jauh dari jangkauannya.


Pertemuan terakhir dengan Shinta membuat emosi negatif lenyap begitu saja dari pikiranku.


Aku tidak lagi merasa sedih dan kecewa. Takjubnya, aku mendapati diriku makin jauh berkembang lebih baik tanpa dirinya.


Entah Shinta sudah pindah kampus atau berhenti kuliah, tapi tidak satu-pun dari kami yang mendengar kabarnya lagi. Ia mendadak hilang, lenyap di telan bumi.


Pernah sesekali aku dan Hengky sengaja lewat di depan rumahnya. Sepi tanpa penghuni. Bahkan taman di teras depan sudah di penuhi rumput liar, banyak daun kering yang berjatuhan dan lampu teras yang selalu menyala.


Aku tidak terlalu memperdulikan ia dan keluarganya pergi kemana.


Sampai saat suatu sore, ada pesan masuk di handphone ku,


...Kamu menikmati hidupmu, Naya?...


...Nikmati lah selagi bisa, sebelum Neraka mulai menenggelamkan tawamu....


Hengky yang saat itu ada di samping ku meminta ku untuk tidak memperdulikan pesan itu. Ia hanya menyalin nomornya lalu menepuk pundak ku, berkata bahwa semua akan baik-baik saja.


Tiga malam berikutnya, pesan serupa masuk kembali,


...Apa kabar, Naya?...


...Sudah siap menerima kejutan baru?...


Sebenarnya aku tidak terlalu ambil pusing. Tapi satu yang membuatku khawatir, Shinta tahu nomor kontak Abah atau Ibu, dia juga tahu password email ku. Walau sudah ku ganti password nya, tapi tetap saja, itu membuatku khawatir. Orang secerdas dirinya, apa yang tidak bisa di lakukannya jika ia sudah bertekad.


Dan pagi ini, saat aku terbangun karena dering Handphone yang tidak mau berhenti, saat itu lah aku menyadari, tidak semua orang belajar dari kesalahannya.


Beberapa justru sibuk menyalahkan orang lain atas kemalangan yang terjadi dalam hidupnya seolah lupa untuk sejenak berdiri ke depan kaca, merefleksikan diri.


Ya. Ketakutan ku terbukti. Sepertinya Shinta meretas akun media sosialku.


Sambil menarik nafas panjang, aku membaca screenshoot story dari media sosialku tengah malam tadi. Nisa yang mengirimkannya padaku.

__ADS_1


...Duh gak bisa tidur nich. Biasanya di kelon laki-laki tapi malem ini sepi.......


...Siapa yaa yang mau nemenin aku malem ini? Gratis kok....


__ADS_2