
54
Sepanjang perjalanan pulang Hengky lebih banyak diam. Beberapa pertanyaan dariku atau sekedar obrolan ringan hanya dijawabnya singkat. Masalah kali ini nampaknya cukup serius. Aku tidak tahu kejadian apa yang membuat Hengky sampai sebenci itu pada ayahnya. Sejujurnya aku penasaran, namun kusimpan pertanyaan itu di dalam hati. Lidahku kelu. Aku tahu, ini bukan saat yang tepat.
“Sayang...”
Hengky tidak menjawab. Ia hanya menoleh lalu tersenyum, menunggu kelanjutan kalimatku.
“Aku cuman pengen kamu tahu, kapan pun kamu butuh aku, aku siap ada buat kamu.”
Dengan lembut aku meraih tangannya lalu kuletakkan di samping pipi, berusaha memberikan kepercayaan padanya bahwa apa yang ku katakan bukanlah sekedar tertuang dalam ucapan.
Hengky tersenyum lagi. Ia mengangguk pelan, “Iya, Sayang. Makasih yaa...”
Suasana hening kembali. Hanya terdengar suara musik yang mendayu. Alunan musik instrumental semakin menambah romansa kesedihan atau mungkin kemarahan yang Hengky rasakan.
Ia berkali-kali mengurut keningnya, pandangan matanya nampak tidak fokus ke depan.
“Kamu mau berhenti dulu, Sayang?” tanyaku khawatir.
“Gak perlu. Sebentar lagi sampe, kok.”
Aku kehabisan kata-kata. Semua cadangan basa-basi dan penyemangat sudah ku keluarkan. Pada dasarnya aku bukan termasuk orang yang pandai bicara atau pandai mengulik masalah seseorang. Karena jika orang itu ingin menceritakannya, maka ia akan cerita tanpa diminta.
Sama hal nya saat bertemu orang baru, menurutku tidak elok saat bertanya tentang orang tuanya, pekerjaannya, pekerjaan suami, tentang anak, atau tentang pernikahan. Tidak semua orang ingin membicarakannya, bukan? Dan akan menjadi dilema saat kita bertanya dan dia diharuskan untuk menjawabnya padahal saat itu ia tidak berkenan menjawab.
Aku melirik jam tangan, sudah jam sembilan malam. Sebenarnya masih banyak sekali tentang kejadian Shinta atau Gilang yang ingin kutanyakan padanya. Belum lagi tentang Nisa.
Entahlah... semenjak Shinta pergi, Nisa selalu berusaha untuk menghiburku dan untukku ini semacam hutang budi yang harus ku tunaikan.
Ciitt!!!
__ADS_1
Brakk!!
Mataku terbelalak kaget. Hengky menginjak pedal rem secara tiba-tiba. Suara ban mobil yang beradu dengan aspal disertai dengan suara benturan cukup keras terdengar. Tubuh kami secara otomatis terdorong kedepan, menghantam airbag yang sudah terisi gas nitrogen dengan sempurna di sisi depan dan samping.
Untuk sesaat aku tidak sadarkan diri. Hanya beberapa menit sampai kemudian aku mendengar teriakan Hengky memanggil namaku.
Kepalaku terasa sangat pusing. Tanganku refleks memijat kening yang terasa nyeri.
Ada apa ini? Apa mobil Hengky menabrak sesuatu?
“Sayang? Naya? Kamu bisa dengar aku?”
Hengky sudah berada di sisi kiri, ternyata ia sudah keluar dan membuka pintu mobil. Ia membantuku melepas sabuk pengaman lalu menyangga tanganku, membantuku keluar dari mobil. Dengan hati-hati ia membantuku duduk di bahu jalan. Sambil terus meminta maaf ia meluruskan kakiku, memeriksa tubuhku jika ada luka yang tidak kusadari.
Aku mencoba tersenyum, namun saat menoleh ke arahnya secara refleks aku menjerit tertahan,
“Ya Tuhan! Hengky kepalamu... kamu berdarah, Sayang! Ya Tuhan...”
Pandangan mataku segera beralih ke mobil Hengky. Mobilnya menabrak beton lajur pemisah jalan. Bagian kanan mobil Range rover Velar berwarna hitam dough itu penyok. Kulihat, bekas airbag tidak nampak di bagian kemudi.
Hengky tidak pernah melewatkan memakai safe belt sebelumnya. Bahkan walau hanya pergi sebentar ke mini market dekat kampus, ia selalu memakai safe belt. Tapi kenapa hari ini ia bisa lalai?
Rasa sakit di kepala dan dada sekejap hilang. Aku segera berdiri lalu memeriksa luka di keningnya. Darah cukup deras keluar. Bagian siku tangannya pun robek. Entah bagaimana dengan kakinya, tidak terlihat jelas karena ia memakai celana panjang.
Sambil gemetar aku panik meminta pertolongan. Berusaha mencari kain atau apapun agar menghentikan darah yang semakin banyak keluar. Semakin Hengky berusaha menenangkanku, aku malah semakin panik menatap wajah sebelah kirinya yang berlumuran darah.
Sementara orang-orang mulai berkerumun, memeriksa keadaan kami. Sudut mataku menangkap Hengky yang tetap tenang. Ia melepas kaos putihnya, membuat bahu dan pundak lebar serta otot perutnya terekspos sempurna. Dengan cepat ia menaruh kaos itu di keningnya. Ia bukan merasa kesakitan, ia hanya mulai merasa tidak nyaman darah tersebut mengenai lehernya.
Tanpa ia sadari hal itu membuat suasana menjadi sedikit riuh. Dengan melepas bajunya, ia sukses membuat beberapa wanita yang berkerumun mengeluarkan handphone, merekam diam-diam.
Yang benar saja?! Di situasi seperti ini?!
__ADS_1
Demi Tuhan, kerumunan mereka sungguh tidak menolong sama sekali.
Menyadari aku yang mulai emosi, Hengky membuang kaos putih yang hampir seluruhnya berubah warna menjadi merah, dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang handphone sambil terus berbicara dengan seseorang. Dengan cepat ia menarik tubuhku, memelukku, yang secara otomatis menutup bagian depan tubuhnya.
Mulutnya masih terus berbicara namun pandangan matanya menatap tajam ke arah orang-orang yang memegang handphone merekam kami. Seolah berita tentang kecelakaan mobil kali ini wajib diketahui oleh seluruh saudara mereka, seolah mereka adalah para pemburu berita yang mengais rezeki dari perih dan memar yang kami rasakan.
Beruntung kami tidak perlu menunggu lama. Mobil sedan hitam metalik, mobil derek, dan dua mobil ambulance berhenti di dekat kami. Om Hari keluar dari mobil sedan dengan tatapan penuh kekhawatiran. Setengah berlari ia menghampiri kami.
Dengan sigap ia segera meminta petugas mobil derek untuk mengurus mobil Hengky. Tangan sebelah kanannya membimbing Hengky untuk segera naik ke ambulance.
“Anton, cepat ambil baju kaos di bagasi, kasih ke Pak Hengky!” perintah Om Hari kepada asistennya.
“Dan kamu,” ia menunjuk laki-laki yang sedang berdiri membantu Hengky, “Jangan biarkan foto atau video apapun tersebar!”
Laki-laki itu dengan sigap mengangguk. Dia sangat tahu apa yang harus dilakukannya. Pengalaman bekerja dengan keluarga Hengky selama puluhan tahun membuatnya tidak kesulitan menghandle situasi.
“Naya, kamu bisa naik ke mobil ambulance yang disana.” Om Hari menunjuk mobil ambulance di sebelah Hengky.
“Naya naik bersamaku, Om.”
“Tapi luka kamu harus segera diobati, kamu juga harus istirahat. Benturan tadi lumayan keras. Lihat! Sisi kanan mobilmu penyok!”
“Aku bertanggung jawab sama Naya, Om. Aku yang menyebabkan kecelakaan ini. Bagaimana bisa aku meninggalkannya?”
“Ya Tuhan, kalian kan menuju ke rumah sakit yang sama?!” suara Om Hari terdengar setengah jengkel. Pandangan matanya menatap tajam ke arah Hengky.
Tanpa menunggu persetujuan Om Hari, Hengky menarik tanganku, memintaku untuk mengikuti langkahnya.
Om Heri mengangguk ke arah perawat yang menatapnya meminta persetujuan, “Bawa mereka ke rumah sakit.”
“Tidak, bawa kami pulang ke rumahku.”
__ADS_1
“Hengky, Please...”
Hengky membalikkan badan, “Om lupa? Aku sangat membenci rumah sakit.”