
#16
Hengky terpana melihatku berjalan ke arah Mobil. Ia buru-buru keluar lalu membukakan pintu untukku.
Sambil mengusap kepalanya ia tersenyum, “Gimana ini? Aku jadi gak percaya diri kalau kamu secantik ini...”
Aku ikut tersenyum, “Kamu suka?”
“Banget! Kamu tahu aku sukaaa banget ngeliat kamu pakai Gaun”
“Karena aku tahu makanya aku pakai ini buat kamu...”
“Aduh hatikuuu...!” Hengky memegang dada kirinya sambil pura-pura meringis kesakitan.
Aku tertawa sambil mencubit pipinya, “Kita mau kemana malem ini?”
“Mm... kamu maunya kemana? Eh, jangan bilang terserah aku ya...”
“Sapphire Restaurant?”
“Okey! Kita berangkaatt...!”
Hengky menginjak pedal gas sambil bersiul riang.
Mulutnya tidak henti bercerita tentang banyak hal. Tentang dijalan tadi ada seorang Ibu-ibu yang terjatuh dari motor, atau seorang pengamen yang sangat menyentuh hatinya atau tentang seorang teman yang ia jumpai di jalan.
Ia suka bercerita banyak hal. Tapi bukan tentang keluarganya, bukan tentang kekayaannya, bukan pula tentang dirinya. Sangat bertolak belakang dengan Andy, Kakak Sepupunya.
Karena ia menceritakan sedikit sekali tentang dirinya, aku jadi tidak mengenal dengan baik siapa dirinya.
Bahkan saat kutanyakan tentang alamat rumahnya, ia hanya tersenyum lalu menggodaku, bertanya apakah aku mau mengirimkan bunga ke rumahnya.
Saat kami sampai di Restaurant, ia menahanku agar tidak keluar. Setengah berlari ia berjalan ke arahku, membuka pintu mobil, lalu meraih tanganku.
Ia memperlakukanku bagai seorang puteri.
Ya Tuhan, melihat ia sesenang ini, bagaimana caranya aku mengatakan hal itu tanpa menyakiti hatinya?
Setelah masuk dan memesan beberapa minuman serta makanan, Hengky menopang pipinya dengan tangannya, lalu melihatku tanpa berkedip.
“Kamu cantik banget malem ini, Sayang...”
“Ooh... jadi...”
“Selalu. Kamu selaalu cantiikk. Maksudku, kamu terlihat lebiiihhh cantik malam ini...” Hengky memotong kalimatku. Ia sudah hafal diluar kepala bagaimana kelanjutan kalimatku tadi.
Aku tertawa pelan.
“Oh iya, katanya ada yang mau kamu omongin? Tentang apa?”
“Kita makan dulu aja yaa...” jawabku lembut.
“Aahh... aku penasaran nii... Ngomong sekarang aja siii....”
“Nanti ajaa... Tuh, makanan kita sudah datang...”,
Mataku menuntunnya melihat ke arah pegawai Restaurant yang mengantarkan pesanan kami.
__ADS_1
“Mba, boleh minta tolong fotoin gak?”
Hengky mengeryitkan dahinya, “Eh, tumben, Sayang?”
“Buat kenang-kenangan” Jawabku sambil berusaha tersenyum.
Meski merasa sedikit aneh, Hengky berdiri lalu berjalan ke arahku, memposisikan dirinya disebelahku.
“Yok, siap yaaa... 1...2...3....!”
Jepretan camera nyaris tidak terdengar. Seperti jeritan hatiku saat ini. Aku menjerit kuat-kuat dalam hati namun bibirku terus tersenyum.
Berusaha bersikap biasa saat menanggapi cerita Hengky.
Ikut tertawa saat ia tertawa, tersenyum saat ia memujiku, atau saling bertukar makanan, berseteru makanan siapa yang lebih lezat.
Hatiku masih belum bisa siap bahkan sampai makanan kami habis.
Sampai ia bertanya berulang kali, aku selalu menjawab, ‘nanti’.
...--------------------------------------------------------...
Saat kami sudah kembali ke dalam mobil, saat tidak ada lagi kesempatanku untuk menunda lagi.
Aku mulai memberanikan diri menghadap ke arahnya, menyiapkan hati ku untuk menerima apapun responnya.
Hengky sudah dibalik setir kemudi, bersiap menginjak pedal gas, saat aku memegang tangannya, menahannya agar tidak menjalankan mobil sekarang.
“Iya? Kenapa, Sayang?”
“Aku... aku mau ngomong sesuatu...”
“Aku... aku mau putus sama kamu...”
Bagai disambar petir di siang hari. Hengky terlihat sangat terkejut sampai memundurkan kepalanya kebelakang. Ia sedikit memiringkan kepalanya, berusaha mencerna kalimatku.
Aku makin salah tingkah.
Aku bahkan tidak punya alasan mengapa hubungan kami harus berakhir. Lebih tepatnya lagi, aku tidak mungkin menceritakan padanya alasan yang sebenarnya.
“Okey... Wait... Ah, aku...” Hengky terbata-bata, ia kebingungan harus mengatakan apa.
Tak lama, ia terlihat menghela nafas, berusaha bersikap tenang. Tatapannya terus ke arah mataku, mencoba menelisik apa alasanku.
Ia berusaha tersenyum sambil membelai wajahku,
“Naya... kenapa? Apa aku memperlakukanmu dengan buruk?” Tanyanya dengan sangat lembut.
Aku menggeleng lemah.
“Lalu kenapa? Kasih aku alasan...”
Kugigit bibirku kuat-kuat, menahan agar kabut dimataku tidak berubah menjadi air mata.
Ah, dadaku rasanya sesak sekali.
“Naya....” Hengky memeras tanganku, memaksaku untuk bicara.
__ADS_1
Aku menarik nafas panjang lalu kuhembuskan perlahan, ku ulangi sampai tiga kali, sampai aku merasa perasaanku mulai tenang.
“Aku bukan sosok wanita yang kamu cari, Ky. Aku juga gak seperti yang kamu kira. Aku gak pantes buat kamu...”
“Kamu sangat pantas untuk aku, Naya. Aku gak mungkin mengejar kamu selama hampir tiga tahun jika kamu tidak se berharga itu...”
“Itu masalahnya. Itu yang ngebuat aku tertekan. Aku gak bisa, aku gak bisa memenuhi ekspektasi kamu tentang aku...”
Hengky melihatku seolah tak percaya.
Ia beberapa kali menggelengkan kepalanya tanda tidak menerima perkataanku.
“Kalau hanya itu alasan kamu, Maaf, aku gak bisa melepaskan kamu, Naya...”
Pertahananku jebol. Air mataku deras keluar membasahi pipi.
Hengky yang biasanya mengelus pundakku atau memelukku, kini hanya terdiam melihatku.
“Aku anggep pembicaraan kita saat ini gak pernah terjadi. Jangan pernah berkata hal konyol seperti ini lagi, Naya. Aku gak suka! Hubungan kita bukan main-main”
Saat ia kembali bersiap menjalankan mobilnya, aku menarik nafas sambil memejamkan mata,
“Aku udah gak perawan lagi, Hengky!”
Mobil yang tadinya baru saja jalan mendadak terhenti. Ia menginjak pedal rem tiba-tiba lalu menoleh ke arahku, matanya menatapku tidak percaya,
“Jangan main-main dengan emosiku, Naya! Jangan mencari-cari alasan yang gak masuk akal cuman untuk membuatku melepaskan kamu!”
“Aku... gak...main...main....” kalimatku terbata-bata. Aku bahkan tidak sanggup menatap matanya, melihat reaksinya.
“Lihat aku!” Hengky menarik wajahku agar aku menatap matanya,
“Bilang kalo kamu bercanda tadi!”
Aku terdiam. Tangisanku makin keras, “Maaf... Maafin aku...”
Hengky membelakkan matanya tidak percaya. Ia tertawa keras. Tawa penuh kemarahan. Ia memukul setir kemudi berulang kali sambil mengumpat.
“Siapa?! Bilang sama aku siapa yang ngelakuin ini sama kamu!!”
Aku makin tertunduk. Tidak sanggup bicara apapun lagi.
“Andy??!!”
Melihatku yang tidak menyangkal pertanyaannya membuatnya makin emosi.
Ia menginjak pedal gas kuat-kuat lalu menjalankan mobilnya dengan sangat kencang.
Aku yang terus berteriak memintanya menurunkan kecepatan tidak di hiraukannya.
Ia terus menginjak pedal gas lebih dalam. Matanya terus melihat ke depan tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.
“Lihat yang sudah kamu lakukan, Naya! Kamu membuat aku gila!!”
Dan saat aku melihat jalur yang ia tempuh bukanlah ke arah Kosan ku, aku makin panik terus bertanya padanya tentang tujuan kami.
Ia tidak menjawab.
__ADS_1
Kakinya terus menginjak pedal gas lebih dalam lagi, membuat mobil melaju sangat kencang.
...--------------------------------------------------------...