Penjara Cinta

Penjara Cinta
Surprise


__ADS_3

#12


Hubunganku dengan Hengky makin hari makin membuatku tidak nyaman. Bukan hanya karena saat itu ia datang menjemputku secara paksa saat sedang bersama Shinta di Coffee Shop waktu itu tapi sifat over protectif nya membuatku makin sengsara.


Aku terus berfikir, bagaimana mungkin aku yang sudah sangat terkekang dirumah lalu pergi untuk mencari kebebasan di luar rumah namun kembali terjebak di kekang olehnya?


Aku yang terlalu bodoh atau aku yang sedang sukarela menjalani hubungan yang menyiksa?


Hengky benar-benar mengungkapkan rasa sayangnya dengan cara yang membuatku tersiksa.


Memang tidak ada yang berubah dengan sikapnya saat mati-matian mengejarku dulu.


Ia tetap sama.


Ia masih sering tiba-tiba mengirimkanku makanan, ia juga masih sangat menghormati diriku dengan tidak menyentuhku sembarangan, ia juga bersikap sangat romantis di depan orang-orang, seolah mengungumkan ke semua orang yang ia jumpai bahwa aku miliknya dan ia bangga akan hal itu.


Tapi aku berhak menentukan apapun atas hidupku. Aku berhak memakai baju yang kusuka, model make up yang sedang ingin kucoba, atau membagi foto apapun yang ku anggap lucu di akun media sosialku.


Dan semua itu tidak bisa kulakukan beberapa bulan terakhir ini. Hengky mengatur semuanya. Akun media sosialku, cara berpakaianku hingga model make up ku.


Tiga bulan pertama semua baik-baik saja, ia mulai menunjukkan sifat over protective nya dalam dua bulan terakhir ini.


Alasannya? Katanya ia tidak ingin aku disukai oleh laki-laki selain dirinya.


Awalnya aku menanggapinya biasa saja. Tapi lama kelamaan ini membuatku sakit kepala.


“Naahh... kalau kayak gini kaan lebih cantiik, Sayang...” Hengky tersenyum lebar menyambutku saat aku memasuki mobilnya.


Hengky mengajakku menemaninya berkunjung kerumah Sepupunya yang waktu itu menikah dan tidak ia hadiri. Karena aku mearsa bertangggung jawab atas ketidak hadiran dirinya, aku mengiyakan ajakannya.


Kalian mau tahu?


Aku sudah tiga kali mengirimkan foto pakaianku lengkap dengan pasangan sepatu dan jilbab kepada Hengky.


Dan tiga-tiganya ia tolak.


Pakaian yang kupakai saat ini adalah pakaian ke lima yang kucoba dan disetujui olehnya.


Syukurlah ia menyetujuinya, karena kalau tidak, aku lebih memilih batal ikut daripada harus membongkar lebih dalam isi lemari.


“Aku suka banget kamu pakai gaun hitam dan jilbab pashmina putih ini, Sayang. Oh iya, coba aku lihat sepatu kamu...”


Aku mengangkat gaunku sedikit agar Hengky dapat melihat sepatuku, “High heels putih dan tas putih, sesuai saran kamu...”


Senyuman lebar menghiasi bibirnya. Ia mengelus kepalaku, “Makasih yaa kamu udah mau dengerin nasihat aku...”


“Nasihat?”


“Iya doong... kamu gak terpaksa kan nurutin yang aku mau?”


“Humm... Iya....” jawabku ogah-ogahan.


Lagi-lagi ia tersenyum.


Tangan kirinya menggenggam tanganku, “Tidur aja kalau kamu ngantuk... Masih dua jam lagi perjalanan kita, nanti aku bangunin kalau sudah sampai”


Aku mengangguk lalu memposisikan senderan tempat dudukku kebelakang, bersiap untuk memejamkan mata.


...----------------------------------------------------...


Perjalanan memakan waktu lebih dari dua jam. Aku mengerjapkan mata saat wajahku dibelai Hengky, ia berkata bahwa kami sudah sampai di rumah sepupunya.


Buru-buru aku meraih tas ku, mengecheck make up, membenarkan jilbab lalu kembali mengoles lipstick warna nude ke bibirku.


“Kamu sudah cantik loh, Sayang...”


Aku tersenyum menjawab ucapannya.


Ini pertama kalinya aku bertemu saudara Hengky, aku tidak mau mempermalukan dirinya.

__ADS_1


Mataku terbelalak saat menatap rumah di depanku. Persis sekali seperti rumah yang selalu menjadi tempat tinggal para konglomerat di TV.


Aku tahu keluarga Hengky memang keluarga pengusaha yang cukup terpandang, hanya saja aku tidak menyangka jika itu termasuk seluruh keluarga besarnya.


“Kok malah bengong, ayo masuuk...”


Dengan cepat aku kembali mengusai diriku. Seperti kataku tadi, aku tidak boleh mempermalukan Hengky.


Saat pintu terbuka, kami disambut Sepupu Hengky yang baru saja menikah.


Rumahnya ramai, sepertinya memang bertepatan dengan acara keluarga.


“Sekalian acara arisan keluarga, Nay..” Bisik Hengky seolah tahu apa yang sedang aku fikirkan


Aku seperti ada di lingkungan orang asing. Semua wajah mereka hampir sama.


Tubuh Tinggi, kulit putih, mata sipit. Persis orang Korea. Aku tidak akan kaget jika saat ini mereka mengobrol dengan bahasa korea, sangking miripnya wajah mereka.


“Oh... jadi ini yang namanya Naya, yang berhasil mencuri hati Anak Tante...”


Seorang wanita yang masih cukup muda, rambut berwarna Abu-abu campur hitam, dan wajah yang sangat cantik tersenyum padaku.


“Kenalin, ini Mami aku...” Hengky tersenyum manis ke arah Mami nya lalu memeluknya erat.


“Jam berapa tadi landing pesawatnya, Mih?”


Saat ini aku sedikit heran dengan hubungan Hengky dan Ibunya,


Mengapa Hengky bertanya seperti itu?


Memangnya Ibunya tidak tinggal bersamanya?


Namun ku kunci mulutku rapat-rapat.


Jika Hengky tidak menceritakannya padaku, mungkin itu memang sesuatu yang tidak perlu ku ketahui.


“Seperti biasa...” Hengky tersenyum sinis.


“Halo, Cantik...” Ibu Hengky kembali tersenyum padaku, menganggap ucapan Hengky tadi sebagai angin lalu


Aku mengangguk sopan sambil mengulurkan tangan, mencium tangannya,


“Apa kabar, Tante...?” Tanyaku ramah


“Kabar baik, Sayang... Tadi berangkat jam berapa sama Hengky? Kena macet gak dijalan?” Ibu Hengky menarik tanganku, memintaku duduk disebelahnya.


“Berangkat jam sepuluh tadi, Tante... Lancar kok perjalanannya...” Jawabku singkat.


Jujur aku sangat tidak percaya diri saat ini. Melihat Ibu Hengky yang cantiknya luar biasa membuatku minder.


Aku gampang sekali merasa tidak percaya diri saat melihat wanita cantik di depanku.


Dan saat ini hampir seluruh wanita di ruangan ini wajahnya sama seperti Ibu-nya Hengky, cantik mempesona.


“Naya mah gak tau tadi macet atau enggak, Mih... Dia tidur tadii...” Hengky menyenggol tanganku sambil tertawa


Aku membalas tawanya dengan senyuman kaku.


Seolah seperti tahu perasaanku, Hengky menarik tanganku, memintaku berdiri,


“Aku mau ngenalin Naya sama saudara yang lainnya ya, Mih...”


“Ih, Naya baru aja duduk, Nak...”


“Nantiii bisa ngobrol lagiii...”


Hengky merangkul pundakku lalu mendekatkan bibirnya ke telinga kananku, berbisik pelan, “Kamu cantik, Sayang... kamu wanita tercantik yang pernah aku kenal...”


Aku tersenyum. Ucapannya terdengar tulus. Hatiku terasa lebih tenang setelah mendengar kalimatnya.

__ADS_1


“Hey...hey! lihat siapaaa ini...”


Hengky tertawa, ia merangkul seorang laki-laki didepannya, “My Bro...”


“Jadi, akhirnya ini yang bisa menaklukkan hati seorang Hengky Nugroho..?” Laki-laki itu melirikku sambil tertawa.


“Ah, yaa... Finally...” Hengky menggenggam tanganku lalu tersenyum, “Kenalin, ini Paman aku...”


“Paman yang selalu dianggep teman sama diaa!” Lagi-lagi ia tertawa sambil menyodorkan tangannya.


Aku menyambut uluran tangannya sambil tersenyum, “Hengky memang selalu menganggap semua orang sebagai temannya ya, Om...”


"Ooh enggak semua orang, buktinya kamu gak dianggep temennya,” Ia menghentikan kalimatnya, melirik ke arah Hengky dengan tatapan jahil, ”Taapiii kekasihnyaaa...!”


Ia kembali melanjutkan kalimatnya sambil tertawa.


Sepertinya ia memang tipe laki-laki yang suka tertawa.


Aku dan Hengky ikut tertawa kecil, basa-basi membalas candaannya.


“Apa kabar Om, Hengky, dan....Naya...?”


Deg!


Darahku seperti berhenti mengalir.


Aku sangat hafal suara ini diluar kepala.


Tidak. Tidak mungkin.


Aku pasti sedang berhalusinasi saat ini.


Mataku bertatapan dengan sosok laki-laki di depanku.


Ia tersenyum lalu menyodorkan tangannya ke arahku, “Lama gak ketemu, Naya..?”


Aku membeku.


Keringat dingin mengucur deras membasahi telapak tanganku.


Hengky menoleh ke arahku, rahangnya mengeras, jelas ia tahu aku kaget setengah mati melihat sosok laki-laki ini di depanku.


“Bukannya kamu bilang gak bisa dateng?!” Hengky menarik tanganku, menyembunyikan tubuhku di belakang punggungnya.


“Tadinya iya, tapi setelah aku mendengar kabar seorang Hengky Nugroho mau memperkenalkan Pacar Pertama nya, aku jadi tertarik untuk datang. Daan lihatlah siapa yang ada di depanku sekarang... Naya Khairunnisa...”


Hengky membalikkan badannya, menggenggam tanganku lalu menatap mataku, memaksaku untuk fokus melihat dirinya,


“Nay, Sorry... aku...”


“Oh, kamu belum pernah cerita kalau aku Kakak Sepupu kamu, Ky?”


Laki-laki itu memotong kalimat Hengky.


Tanpa memperdulikan ucapannya, Hengky terus berusaha mengalihkan perhatianku, memaksa agar aku bersikap tenang.


"Gimana ini? Pasti Naya kaget setengah mati melihatku disini”


Laki-laki itu berjalan mendekat ke arahku, ia menunduk, memposisikan kepalanya sejajar dengan tinggi badanku lalu tersenyum manis, “Surprise....!”


“Kurang ajar kamu, Andy!!”


Hengky mendorong tubuh Andy kebelakang. Nafasnya memburu, terlihat sekali kemarahan mengusai dirinya.


Sementara aku tetap membeku di tempatku. Tidak memperdulikan kerumunan yang berusaha memisahkan Andy dan Hengky yang sedang bertengkar di belakangku.


Kepalaku mendadak pusing, pandanganku kabur dan aku tidak ingat apa apa lagi.


...----------------------------------------------------------...

__ADS_1


__ADS_2