
#31
Setidaknya Hengky benar. Dia tidak membiarkan ku kesepian ataupun merasa sangat kehilangan Shinta. Kehadirannya sangat membantu ku memulihkan rasa sakit dan kecewa yang amat sangat.
Aku bahkan seperti tidak dibiarkan untuk beristirahat saat siang walaupun di hari libur.
Ia sibuk mengajak ku ke berbagai tempat dan terus tanpa henti mengajakku bicara tentang berbagai hal. Sepertinya ia berusaha dengan keras agar aku mengalihkan pikiranku dari kejadian bulan lalu.
Waktu sebulan yang terasa sangat lama. Melewati hari demi hari dengan helaan nafas atau tangisan di tiap malam.
Sudah hampir sebulan Shinta absent kuliah. Aku dengar dari Andy, proses hukum Fahri berjalan dengan baik, sesuai dengan yang diinginkan oleh Ayah Shinta.
Seharusnya aku merasa senang, bukan? Shinta mendapatkan keadilan.
Tapi kenapa rasanya malah semakin perih?
Shinta bukan murni sebagai korban, Ia yang memancing Fahri untuk melakukan penganiayaan.
Tapi aku...aku murni sebagai korban. Aku adalah korban dari fitnah dan sifat iri hatinya.
Dia tidak kehilangan apapun.
Apa yang tidak ia dapatkan memang dari awal memang bukan untuknya.
Tapi aku? aku kehilangan hal yang sangat berharga.
Sesuatu yang membuatku merasa bahwa aku adalah wanita yang seutuhnya, wanita tanpa cela.
__ADS_1
Semenjak sebulan dari pertemuan terakhir kami, sebulan juga kami tidak berhubungan sama sekali.
Beberapa kali aku bahkan sudah mengetik panjang sekali kata-kata makian dan sumpah serapah untuknya, namun ku baca ulang, lalu ku hapus.
Sekali lagi, emosi tidak akan bisa menyelesaikan segalanya. Dia akan makin merasa senang melihatku terpuruk atau menangis meratap.
Haruskah aku datang kerumahnya?
Bisakah aku dengan tenang menghadapi nya tanpa emosi, tanpa air mata?
“Nayaaa....!!!” Seseorang meneriakkan namaku.
Aku mendadak tersadar, “Eh, iya?”
“Ya ampuun... dari tadi dipanggilin...! Mikirin apa sih? Iniii loooh Hengky disini... gak kemana-mana...”
Hengky yang sedang mengobrol dengan teman-temannya segera menoleh ke arahku.
Ia memiringkan kepalanya lalu tersenyum ke arahku.
Senyumannya seolah berkata, ‘Kamu mikirin apa lagi siih...’
Aku membalas senyumannya singkat. Pikiranku sedang tidak fokus ke arahnya saat ini.
Seperti biasa, Hengky pandai sekali membaca isi pikiran ku.
Dengan cepat ia menghampiri lalu memegang pundak ku, “Kamu baik-baik aja, Sayang?”
__ADS_1
"AAAAAAK....!! BUBAAR LAH YOKK BUBAARR....!!”
Alfian berteriak kesal sambil berpura-pura membanting buku.
Suasana kelas mendadak riuh oleh gelak tawa. Beberapa bersiul menggoda, beberapa hanya tersenyum memaklumi.
Hengky menoleh ke arah Alfian sambil tertawa, “Makanyaaa cari pacaarr!”
"Gimana kalau aku aja yang sama Naya trus kamu yang cari lagi, Ky?” Alfian cengengesan, Ia mengangkat alisnya beberapa kali.
“Naya, kamu mau sama Alfian, Sayang?”
Ah, apa nanti sepulang dari Kampus aku ke rumah Shinta?
“Sayang?”
“Woyyy laaahh... Itu Naya nya mauuu sama akuu tapi takut sama kamuu...!”
"Sayang? Kamu denger aku ngomong, kan?!"
Ah, tidak. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku harus ke sana sekarang.
Aku segera meraih tas lalu berlari meninggalkan kelas. Membuat Alfian semakin bebas menggoda Hengky dan meninggalkan Hengky yang tanpa ku sadari menahan emosi.
Aku tidak perduli.
Aku bisa mati penasaran jika tidak segera menemui Shinta sekarang juga.
__ADS_1
Urusan Hengky bisa ku urus belakangan nanti.