Penjara Cinta

Penjara Cinta
I-ini Apa?


__ADS_3

#34


Saat Hengky menjemputku ke Kampus pagi ini, wajahnya tidak bisa menyembunyikan kemarahan.


Ia segera meminta alamat email pertama yang kugunakan untuk mendaftar akun media sosial. Katanya untuk di laporkan ke pihak aplikasi bahwa akun media sosialku telah diretas.


“Paling lama seminggu. Setelah akun kembali, kita bisa lebih mudah mencari tahu siapa yang meretas akun mu.


Nanti akan ada beberapa pertanyaan dari pihak aplikasi, jadi jangan jauh-jauh dariku, Naya.”


Tidak ingin membuatnya lebih panik lagi, aku hanya tersenyum lalu menepuk pundaknya. Berkata bahwa aku baik-baik saja, bahwa semua orang pasti tahu bahwa akun ku di retas dan mereka tidak akan mempercayai begitu saja postingan story itu.


Setidaknya itu yang coba aku yakini.


Begitu sampai di Kampus, dugaan ku salah. Aku sejenak lupa bahwa manusia memakan berita hoax seperti semut yang mengendus gula. Begitu cepat tersebar, begitu cepat membuat semua orang lupa siapa diriku sebelumnya.


Banyak pasang mata yang diam-diam melirikku sambil berbisik pelan.


Terlihat sangat jelas sampai membuat Hengky hampir naik pitam. Bahkan ada yang terang-terangan membaca story-ku keras-keras sambil tertawa mengejek saat aku lewat di depannya.


Apakah aku sakit hati? Marah? Malu?


Kenapa aku harus merasa seperti itu? Itu bukan aku.


Kemarahan atau kesedihan ku akan menjadi umpan yang sempurna untuk menjadi bahan pembicaraan mereka lebih menarik lagi.


Tidak, tidak akan kuberikan sedikit pun.


“Helloo... Naya... si wanita kesepiaann...”


Seseorang menegurku lalu di sambut cekikikan teman-temannya.


Aku tersenyum lalu menghentikan langkah, menoleh ke arahnya, “Oh.. Mala? Gimana rasanya memakan berita hoax? Manis ya?”


“Dih. Jelas-jelas kamu sendiri yang update status, malah sok bilang berita hoax..!”


Mala tersenyum sinis, ia mencolek pinggang temannya lalu saling berbisik sambil menatapku.


Hengky yang sudah tidak tahan lagi bergerak maju namun ku tahan langkahnya.


Ini pertempuran ku, jika ia ikut campur, aku akan makin jadi bualan mereka.


Sambil tersenyum aku maju mendekati Mala dan tiga temannya, menarik handphone yang sedang di pegangnya, “Aku heran, kamu sudah pakai smartphone tapi kenapa kamu gak pernah denger istilah peretasan akun ya?”


“Balikin sini!” Mala merebut handphonenya kembali, ia bersungut kesal, “Tadi sok-sokan bilang berita hoax, trus sekarang sok-sok an akunnya di retas! Kalo emang murahan ya ngaku aja!”

__ADS_1


“Dengar, Saudari Mala, kamu hidup bukan untuk mengurusi hidupku saja. Apakah hidupmu lebih tidak penting dibandingkan hidupku?


Dan satu lagi, jika kamu menungguku untuk perduli terhadap omong kosongmu ini, lebih baik sekarang kamu pergi menyiapkan judul skripsi mu, karena ini akan memakan waktu yang saaangaat lama.”


Aku tersenyum lalu menepuk pundak nya. Sambil mengamit lengan Hengky, aku berjalan santai melewatinya.


Mala berteriak memaki namun di tahan oleh teman-temannya.


Melihatnya seperti kebakaran jenggot justru membuatku senang.


Mala yang malang... kamu salah mencari lawan, Sayang.


...-------------------------------------------------...


“Kamu mau diam terus seperti ini?”


“Iya. Ini gak bisa dibiarin, Nay!”


“Kamu gak usah pusing, Sayang. Biar aku yang handle semuanya.”


Aku bergantian menatap Nisa, Alfian dan Hengky di depan ku sambil tersenyum,


"Aku baik-baik aja, teman-teman... Jangan khawatir.”


Alfian menggangguk setuju, “Kamu juga lihat kan orang-orang mulai terpengaruh?”


“Kenapa aku harus perduli dengan anggapan semua orang kalau aku punya kalian?”


Hengky menggenggam tanganku, “Masalah gak se simple itu, Naya. Pengikut kamu banyak banget di media sosial. Ada saudara, temen-temen sekolah dulu, dosen juga...”


“Kalian bisa tag akun ku trus bilang kalau akun ku di retas. Se-simple itu, Guys!”


Aku tertawa lalu mengambil handphone dari dalam tas, “Aku kasih tau temen-temen yang lain dulu ya.”


Nisa menghela nafas, ia memainkan jarinya di atas meja. Mengetuk tak berirama,


“Emang sialan si Shinta! Gak nyangka aku dia bakal se-jahat ini sama kamu!”


“Kamu yakin Shinta pelakunya?” Alfian menoleh ke arah wanita disebelahnya.


“Siapa lagi?! Sewaktu dia mengirimkan pesan itu, foto profil kontaknya foto Shinta.”


Alfian terdiam. Ia menghela nafas panjang, “Seseorang tidak akan luput dari orang yang memusuhinya meskipun dia menyendiri di puncak gunung. Walau itu bukan Shinta, tapi dia pasti orang yang ada di sekitar kita selama ini.”


“Ooh ini diaaa kelasnyaa...!”

__ADS_1


Tiba-tiba tiga orang mahasiswa masuk ke kelas, kelihatannya mereka senior jika melihat dari perawakan atau cara berpakaiannya.


Salah satu dari mereka maju, tubuhnya lebih pendek dari kedua temannya, “Mana yang namanya, Naya?!”


Kami saling menoleh, tidak mengerti maksud dari pertanyaannya.


“Kamu ya?” Ia menodong jarinya ke arahku.


Hengky berdiri, ia berjalan ke arah pria itu. Saat mereka berdiri sejajar, terlihat sekali perbedaan tinggi badan yang mencolok.


Pria itu terlihat agak ciut, namun ia segera berdehem untuk menutupi rasa takutnya lalu berkacak pinggang,


“Saya gak nyari masalah sama kamu! Saya cuman nyari Naya!”


“Urusan Naya, urusan saya! Ngomong aja kenapa.”


“Hey, Naya! Kalo kamu mau jual diri jangan bawa-bawa nama kampus ya! Malu-maluin almamater kita aja!”


Salah seorang pria bertubuh lebih gemuk di belakangnya langsung mendadak maju.


“Eh? Apa?” Aku refleks bertanya, kebingungan.


BRAK!!


Alfian tiba-tiba memukul meja. Aku dan semua orang menoleh bersamaan, kaget bercampur bingung mengapa Alfian tiba-tiba marah.


“Woaahh brengsek banget orang ini!!”


Alfian berdiri, ia menyerahkan handphone nya kepada Hengky.


Hengky mengernyitkan dahinya, ia menerima handphone Alfian. Namun tiba-tiba rahangnya mengeras, sorot matanya penuh dengan kemarahan.


Nisa yang sudah sedari tadi memegang handphone menjerit kaget, ia segera menyerahkan handphonenya padaku.


Aku menarik nafas, akun media sosialku baru saja memperbaharui status story beberapa menit yang lalu,


...Open BO GRATIS cuman buat yang dateng ke kelas gue sekarang ya!...


...Tenang... gue bisa main di losmen aja....


...Gak perlu mahal-mahal....


...Udah gak tahan nich!...


Aku refleks menatap Hengky yang berlari ke arahku, sambil gemetar aku memegang tangannya, “I-ini apa maksudnya, Sayang?”

__ADS_1


__ADS_2