Penjara Cinta

Penjara Cinta
Tolong aku


__ADS_3

#21


Sudah tiga hari aku berada dirumah Hengky.


Ia benar-benar tidak memberi celah untukku agar bisa pulang. Jangankan pulang, keluar kamar pun tidak ia izinkan. Makanan, minuman, bahkan pakaianku di sediakan olehnya, diantarkan ke kamarnya.


Sudah tidak terhitung lagi aku memohon dan memelas padanya untuk dapat pulang dan keluar dari sini.


Saat aku memelas meminta pulang, ia akan mengatakan,


“Kamu sudah memutuskan untuk kembali padaku?”


Dan saat aku bilang, ‘Tidak!’ atau aku hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya, dia akan tersenyum lalu membelai kepalaku,


“Masih ada dua hari lagi... aku bisa menunggu...”


Sejujurnya aku tidak mengerti perasaan apa yang berkecamuk di dalam hati dan fikiranku saat ini. Aku seharusnya marah tapi ia memperlakukanku dengan sangat baik disini.


Hengky yang ku kenal sudah kembali.


Hengky yang memperlakukan ku bagai seorang puteri.


Pada malam hari-pun, ia tidur di sofa, sedangkan aku tidur di atas tempat tidurnya. Tanpa sentuhan fisik yang berarti.


Selalu seperti itu selama beberapa malam terakhir ini.


Ini membuatku mulai berfikir bahwa apa yang dilakukannya malam itu benar seperti apa yang dikatakan olehnya, bahwa itu bukanlah keinginannya.


Apakah aku harus memberikannya kesempatan lagi?


Atau haruskah aku berpura-pura ingin kembali agar dapat keluar dari sini?


Tapi kejadian malam itu tidak bisa ku biarkan begitu saja. Apa yang sudah dilakukannya tidak bisa ku maafkan.


Tapi... Ah, entah kenapa hati ini makin melemah tiap melihat senyumannya.


Apakah aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya?


Apakah tidak apa-apa jika aku kembali padanya?


Hengky mengaku menyesalinya. Dia pun membuktikan penyesalannya lewat perbuatannya.


Ada banyak sekali kesempatan jika ia ingin mengulangi kesalahan itu lagi, tapi dia tidak melakukannya, bukan?


Aku menghela nafas panjang. Pandangan mataku tiba-tiba tertuju ke ruangan di samping ruang tidur Hengky, ruangan yang penuh dengan fotoku.


Ya... sebaiknya kuberikan dia kesempatan lagi...


Bukankah semua orang pernah melakukan kesalahan?

__ADS_1


...-------------------------------------------------------------...


“Apa? Aku gak salah denger kan, Sayang?”


Aku mengangguk, “Kita bisa mulai lagi dari awal...”


Hengky tertawa, matanya mengerjap beberapa kali, “Kamu...sudah memaafkan aku?”


“Hanya jika kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”


“Aku janji, Naya! Aku janji!”


Aku tersenyum lalu membelai rambutnya, “Anak pintaar...”


Wajah Hengky memerah, ia mengalihkan pandangan sambil menahan senyuman di wajahnya.


“Aku sudah boleh pulang?”


Dengan cepat Hengky mengangguk. Ia berdiri lalu berjalan terburu-buru ke arah pintu, “Kamu tunggu disini. Pakaianmu sedang di siapkan”


“Pakaian? Aku gak bawa pakaian apapun kesini, Ky...”


Hengky membalikkan badannya, “Lalu menurutmu pakaian yang aku belikan selama tiga hari ini harus kubuang?”


“Oh... itu... Yaaa... terserah kamu aja siiih...”


“Tunggu yaa... lima menit lagi kita jalan”


Aku mengangguk.


Semoga kali ini aku tidak salah lagi mengambil keputusan.


Sejujurnya aku membutuhkan Hengky, aku perlu seseorang yang melindungiku setidaknya dari Andy atau seseorang yang membuatku menerima kembali diriku, membuatku kembali sadar bahwa aku masih berhak untuk bahagia.


Ya. Tidak ada salahnya jika aku ingin hidup tenang setelah semua yang terjadi.


Fikiranku tertuju pada Handphone yang sudah tiga hari tidak kulihat.


Semogaa.... semoga Abah dan Ibu tidak menghubungiku selama tiga hari ini.


...--------------------------------------------------------------------------...


Dalam perjalanan pulang Hengky sibuk mengajakku mampir kesana dan kesini.


Ia memaksa ke Supermarket untuk membeli makanan dan beberapa kebutuhan untukku (walau sebenarnya aku tidak membutuhkan barang-barang itu), ke Bioskop untuk menonton film yang sedang viral (katanya ini sebagai ganti aku terkurung dirumah selama tiga hari), lalu ke salon.


Ya. Kalian tidak salah membaca. Ia menyuruhku ke salon.


Ia meminta agar aku memotong rambutku pendek sampai sebatas bahu lalu mewarnai rambutku.

__ADS_1


Entahlah, dia bilang agar aku bisa melangkah lebih maju.


Tapi aku curiga, bukan itu alasan yang sebenarnya.


Tidak ingin memperpanjang masalah, aku menurut saja. Aku fikir tidak ada salahnya sesekali merubah penampilan.


Aku sampai di Kosan hampir jam Dua Belas malam. Yang membuatku terkejut, Hengky bilang dia akan menginap di kamar sebelah.


“Aku tidak perlu menyembunyikan fakta bahwa aku sudah membayar uang sewa kamar ini selama tiga tahun kedepan, bukan? Kamu sudah tahu itu.”


Dia berkata dengan entengnya sambil meminta kunci kamar ke Pos Satpam.


Dan seperti Hengky yang ku kenal, dia bisa dengan sangat cepat akrab bahkan dengan Pak Satpam yang selalu tampak menyeramkan.


Aku kaget.


Jelas aku kaget mendengar perkataannya tadi.


Ya.. aku sudah tahu dari perkataanya waktu itu bahwa ia menyewa tiga kamar sebelum dan sesudah kamarku agar membuatku aman. Tapi, aku tidak tahu ia sampai membayar lunas uang sewa bahkan sampai aku wisuda.


Astaga. Orang kaya memang sungguh diluar nalar manusia biasa seperti ku.


Setelah berganti pakaian tidur dan membereskan kamar, akhirnya aku bisa merebahkan badan. Aku menghirup aroma bantal kesayanganku, rasanya sangat nyaman berada di tempat sendiri.


Masih seperti mimpi, kejadian tiga hari lalu seperti tidak pernah terjadi.


Jika kufikirkan, alasan Hengky melarangku pulang saat itu bukan hanya untuk membuatku kembali padanya, ia memintaku untuk menenangkan diri bersamanya.


Karena benar saja, jika aku pulang pada hari itu juga, mungkin aku sudah menabrakkan diri ke kereta api yang sedang lewat. Mengakhiri hidup dengan penuh kesedihan.


Keberadaanku selama tiga hari disana menyadarkanku bahwa aku masih layak dicintai, masih layak dihargai sebagai seorang wanita utuh, terlepas dari apa yang telah ku alami.


Aku menghela nafas lalu tersenyum.


Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara nyaring Handphone.


Astaga... aku sampai lupa memeriksa isi ponselku selama tiga hari ini.


Buru-buru kuperiksa nama yang menelfon, Ah, ini Shinta. Ia pasti khawatir sekali denganku.


Sambil tersenyum aku mengangkat telfonnya, “Iyaa Bebep Sayang.... Jangan khawatir... Aku baik-baik ajaa...”


Aliran darahku terasa terhenti saat justru mendengar suara tangisan.


"Halo?? Shintaa?? Ada apa??”


“Naya... tolong... tolong aku....”


...--------------------------------------------------------------------...

__ADS_1


__ADS_2