
43
Teman sekelas ku di dominasi oleh perempuan. Laki-laki ada sepuluh orang, sedangkan perempuan ada tujuh belas orang. Hal itu membuatku lebih tertarik untuk memperhatikan karakter teman laki-laki dibanding perempuan.
Menurutku, perempuan lebih mudah di tebak. Mereka seringkali tidak bisa menyembunyikan dengan baik isi hatinya. Saat ia marah, sedih, kecewa, semua itu dapat dengan mudah diketahui dari ekspresi wajahnya.
Karena lebih mudah di tebak, maka aku lebih senang memperhatikan ekspresi wajah laki-laki. Aku juga selalu tahu kapan mereka menunjukkan emosi aslinya walau hanya sepersekian detik saja. Para Ahli menyebutnya sebagai Ekspresi Mikro.
Ekspresi wajah yang hanya berlangsung sangat cepat, bahkan hanya setengah detik, sehingga sangat mungkin dilewatkan oleh kebanyakan orang. Ekspresi mikro bisa menjadi pertanda adanya perasaan atau emosi yang disembunyikan oleh seseorang.
Membaca ekspresi wajah seseorang, terutama ekspresi mikro, bukan hanya dilakukan untuk membongkar rahasia atau menemukan kebohongan dalam diri seseorang. Lebih dari itu, membaca ekspresi orang lain dapat dilakukan agar kita lebih berempati terhadap kondisi emosional yang sedang dialami oleh orang tersebut.
Karena kemampuan itu, aku jadi merasa lebih mengetahui hampir seluruh karakter teman-temanku. Walau sebelumnya aku jelas tertipu oleh Shinta tapi sampai saat ini aku tidak mengubah keyakinanku bahwa aku mengenal mereka lewat ekspresi mikro yang kutangkap dari tatapan mata dan mulut mereka.
Shinta jelas melewatinya dengan baik karena dari awal aku sangat mempercayai dirinya. Ya, aku lengah saat itu. Tapi lewat kemampuan ku ini, aku bisa memperlakukan semua teman-temanku dengan baik lewat ekspresi mikro yang mereka perlihatkan padaku.
Ya, itu dulu. Sebelum kejadian ini seolah menamparku, menyadarkanku bahwa aku bukanlah pemerhati yang baik. Kesombonganku jelas kalah telak dengan kenyataan yang kini bagai menari mengejekku di depan sana. Mungkin inilah saatnya mengakui bahwa aku kalah, bahwa aku tidak memiliki kemampuan melihat micro expression seseorang.
Gilang teman sekelas ku, yang selalu ku perlakukan dengan baik, yang selalu ku tegur dimanapun aku bertemu dengannya. Saat tidak ada teman-teman yang mengajaknya berbicara, aku menarik kursi dan berbicara padanya. Saat ia menjadi bahan lelucon Mala dan teman-temannya, aku yang membelanya.
Bahkan sewaktu saat dia kecelakaan motor, aku yang menggerakkan teman-teman agar mau menjenguknya ke rumah sakit. Awalnya mereka menolak, karena Gilang jarang mau membaur dan terkesan menarik diri dari lingkungan.
Tapi mengingat kembali tatapan matanya yang selalu berbinar saat aku mendekatinya membuatku kasihan dan meyakini bahwa hidupnya sangat kesepian, bahwa sebenarnya ia butuh teman.
Apakah ini adalah definisi nyata dari pepatah air susu di balas air toba?
Aku dan Nisa saling berpandangan, tatapan mata kami jelas terkejut luar biasa. Fakta bahwa Gilang adalah pelaku yang selama ini kami cari, jelas membuat kami tidak percaya.
__ADS_1
Apa salahku? Kenapa Gilang memperlakukanku seperti ini?
Ekspresi kaget bercampur marah menghasilkan ekspresi wajah yang aneh. Mata ku naik dan menegang. Alis mata juga ikut naik dan menyatu secara bersamaan. Sedangkan mulutku menganga dengan suksesnya.
Aku benar-benar tidak menyangka pelakunya adalah Gilang. Orang yang menurutku bahkan tidak akan tega menyakiti seekor semut sekalipun.
Suasana kelas semakin ramai. Penuh dengan teriakan dan umpatan. Salah satunya adalah Alfian. Ia yang sedari tadi memang sudah emosi, saat ini menunjuk wajah Gilang sambil berteriak marah,
“Sialan lu, Lang!! Gue nuduh orang lain gak taunya orangnya duduk disamping kursi gue!! Dasar pengecut! Beraninya sama cewek!!”
Gilang tersenyum sinis, sorot matanya penuh dengan kemarahan, ”Kamu gak tau fakta yang sebenarnya makanya kamu belain cewek itu!!”
Hengky menghela nafas, aku tahu ia sedang menahan luapan emosi saat ini. Dengan kasar, ia mengeluarkan handphone nya, menekan layar, lalu mendekatkan handphone ke telinganya,
“Om, tolong naik aja ke kelas Hengky ya. Ini orangnya sudah dapet.”
Hengky menarik tudung hoodie hitam milik Gilang, membuat kepala dan bahunya ikut tertarik kebelakang,
“Saya kira kamu cukup pintar untuk menilai situasi yang sedang kamu hadapi. Kalau kamu menciptakan keributan lebih keras, bukan hanya teman-teman kita yang akan tahu, tapi juga seluruh mahasiswa dan semua orang di Kampus ini. Jadi, kamu mau pilih saya bawa dengan tenang atau kamu mau lebih mempermalukan diri sendiri?”
Tanpa sadar aku berjalan dengan gontai ke depan kelas, mendekati Gilang lalu berusaha tersenyum, “Hey, b-bukannya kita teman? Kita juga sering mengerjakan beberapa tugas kelompok bersama. A-aku bahkan tidak pernah ingat pernah melakukan kesalahan sekecil apapun sama kamu. Lalu kenapa? Kenapa kamu tega?”
Gilang menyeringai, tanpa ku duga ia meludah ke arahku, hampir saja mengenaiku jika Nisa tidak segera menarik tanganku menjauh darinya. Tatapan matanya melihatku seolah aku adalah kotoran sampah yang menjijikkan.
Gilang terkekeh, ia menarik tubuhnya kedepan, mendekati wajahku, “Munafik! Tipe cewek kayak kamu adalah tipe cewek yang paling saya benci!!!”
Alfian berteriak marah. Ia menendang tepat di perut Gilang hingga membuat tubuhnya terjerembab kebelakang.
__ADS_1
Jika Hengky tidak segera mencegah Alfian, mungkin ia sudah menginjak-injak badan Gilang sekarang.
“Tahan emosi mu! Kamu mau ditahan sebagai pelaku kekerasan?!”
Nafas Alfian terdengar memburu. Ia mengumpat keras sambil meninju udara.
Hengky meraih pundakku lalu di tepuknya berulang kali. Tanpa mengatakan apapun ia berusaha memberi tahu agar aku bisa bersikap tenang saat ini.
Suasana kelas menjadi semakin riuh saat dua orang laki-laki berbadan tinggi dan tegap datang mengetuk pintu kelas. Saat masuk, mereka langsung berjalan ke arah Hengky, mendengarkan Hengky berbicara beberapa kata lalu mengangguk cepat.
Dengan kasar mereka mengamit lengan Gilang. Sadar akan segera dibawa, Gilang memberontak. Ia berusaha menarik tangannya, berusaha melepaskan dirinya sambil berteriak marah.
Hengky mendengus kesal, “Oke. Kamu gak memberiku pilihan lain.”
Seperti sudah terlatih, Hengky membuka tangannya lalu dengan cepat dan akurat memukul titik vital di bawah kedua rahang secara bersamaan dan,
BRUG!!
Tubuh Gilang langsung terjatuh.
Aku menatap Hengky panik, begitu pun dengan teman-teman yang lain.
Nisa yang sedari tadi berdiri di belakangku menjerit. Ia menutup mulutnya, matanya membesar, “D-dia...m-ma-mati?”
Sambil memberi kode agar kedua laki-laki itu membopong tubuh Gilang, Hengky tersenyum, “Tenang... dia hanya pingsan. Sorry teman-teman, aku gak ada pilihan lain. Membawanya dengan kondisi memberontak dan berteriak jelas akan membuat kami menjadi pusat perhatian.”
Hengky mengamit lenganku, mengajakku ikut pergi bersama kedua laki-laki yang membopong tubuh Gilang, sebelum meninggalkan kelas ia berkata,
__ADS_1
“Kalian tahu Undang-undang ITE, bukan? Siapapun yang menyebarkan video atau foto tentang kejadian hari ini, siap-siap berurusan dengan polisi.”