
#28
Aku menarik nafas,
Akhirnya... sepertinya semua pertanyaan ku selama ini akan segera terjawab.
Sambil merubah posisi duduk, aku memajukan kepalaku, memasang telinga agar menangkap suara Shinta lebih jelas lagi.
Shinta menoleh ke arahku lalu tertawa,
“Dari ekspresi serius-mu itu, aku tahu... moment ini yang kamu tunggu-tunggu selama lebih dari satu bulan ini, bukan?”
“Aku tahu, pasti ada alasan kuat mengapa kamu berbohong padaku..”
Shinta menjentikkan jarinya, “Kamu... memang sahabatku, Naya...”
“Setelah apa yang kamu lakukan padanya?” Andy memotong kalimat Shinta, menoleh ke arahnya sambil memasang wajah kesal.
Aku mengerutkan kening, mencoba menerka apa yang sedang terjadi saat ini.
“Aku hanya berusaha semampuku...”
Shinta mengangkat kedua tangannya, menandakan seperti tidak merasa apa yang telah dilakukannya adalah sebuah kesalahan.
“Itu bukan usaha, Maya... Itu kejahatan namanya! Kamu bodoh, Maya! Sangat kontras untuk ukuran Mahasiswa peraih IPK tertinggi di jurusan mu!” lagi-lagi Andy memotong kalimat Shinta
“Itu diaa...! Apa kekuranganku, Kaak?! Kenapa Kakak gak mau nerima aku?!”
“Jadi kejadian lima tahun lalu itu benar, kan?!”
Hengky berdiri lalu berjalan penuh emosi ke arah Andy. Tangannya mengepal, bersiap untuk menghajar laki-laki di depannya.
“Benar, kecuali fakta bahwa Kak Andy yang mencoba melecehkan ku.”
“Apa?!” Hengky menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Shinta lalu tertawa kaku, “Jangan pernah mencoba melindungi bajingan ini, Ta!” Jari telunjuknya di arahkan ke Andy.
“Maaf sudah membohongimu selama ini...”
__ADS_1
Hengky mengerutkan kening sambil sedikit memiringkan kepalanya, berusaha mencerna perkataan Shinta.
“Gak usah bertele-tele, Maya! Kamu membuang-buang waktu!”
“Selama ini Kakak selalu sabar, kenapa sekarang jadi terburu-buru?” Shinta tertawa, ia mematikan rokoknya.
“Aku bisa sabar, tapi tidak dengan adikku!”
Andy berdiri, ia membalikkan badannya lalu berjalan ke arah Hengky, berusaha membimbing tubuhnya agar duduk kembali.
Hengky menepis tangan Andy, ia berjalan mendekati Shinta dengan mata penuh emosi, “Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?!”
“Aku membohongimu selama ini, Hengky Widiyanto! Kak Andy tidak pernah melecehkanku. Aku... aku yang memaksanya untuk menikmati tubuhku, aku melakukan segala cara agar dia mau bersamaku!
Tapi, dasar bodoh! Dia malah memintaku untuk kembali memakai baju dan pergi dari hadapannya!
Hey.. aku tahu...aku tahu itu hampir berhasil saat tiba-tiba kamu datang melewati mobil Andy!
Ah, siaalll!! Kenapa kamu harus lewat pada saat itu??!!
Aku mengarang cerita, berusaha meresapi peran sebagai wanita yang akan dilecehkan oleh Andy Nugroho! Dan kamu.... HAHAHA... kamu dengan bodohnya tertipu!
Kamu terus menghajarnya tanpa ampun!!
Ah, siaalll! Kenapa kamu harus membuat wajah Kak Andy babak belur?
Kamu tahu? Aku menangis melihat wajah tampannya rusak karena dihajar habis-habisan olehmu!”
Punggung Hengky langsung terlihat lemas. Kakinya secara tidak beraturan mundur kebelakang. Ia terduduk di kursi lalu menarik rambutnya keras, berteriak sambil meninju udara.
“Dan kamu, Naya... Ah, maafkan aku, Sahabatku yang malang... Bagaimana mungkin aku bisa bercerita bahwa aku mengenal Andy saat melihat tatapan matanya berbeda sewaktu melihatmu?
Bagaimana bisa dia langsung jatuh cinta padamu padahal kalian baru pertama kali bertemu?!
Aku tidak mungkin memberitahumu bahwa Andy adalah sahabatku dari kecil lalu memberi tahu tentang apa yang dia suka, sifatnya seperti apa, serta kebiasaan apapun yang akan makin mendekatkan kamu padanya.
Lagipula, aku akan kacau saat kamu tahu tentang kejadian yang sebenarnya lima tahun lalu.
__ADS_1
Apakah aku malu? Demi Tuhaann aku tidak perdulii jika itu bisa membuat Andy bisa bersamaku tapi faktanya... dia... dia lebih memilihmu!
Saat kalian berpacaran, Ah.. aku kira kalian hanya bertahan paling lama tiga bulan. Tidak akan lama...
TAPI APA YANG KAMU LAKUKAN HINGGA MEMBUATNYA BERTAHAN HINGGA DELAPAN BULAN, NAYA?!!
Aku... aku bahkan tidak bisa membuatnya tetap bersamaku walau hanya setengah hari saja.
Lalu kamu... kamu orang asing yang baru pertama kali bertemu dengannya bisa mengambil hatinya secepat itu??
Aku stress, Naya! Aku terus memikirkan bagaimana caranya agar kalian tidak membuatku makin sakit kepala!
Ah. Yaa... kamu dan peraturan bodohmu itu... HAHAHAHA... kamu tidak akan pernah menyangka bahwa aku memanfaatkan itu menuju kehancuran hidupmu!”
Shinta berjalan ke arahku, suara tawanya makin keras. Ia memegangi perutnya sambil memukul pundakku.
Aku tidak melepaskan tatapan mataku darinya. Tidak. Tidak ada kesedihan yang aku rasakan. Aku hanya merasakan nafasku makin memburu. Wajahku terasa panas dan rasanya ingin sekali menampar wajahnya saat ini juga.
Shinta kembali berjalan ke tempat duduknya, ia menggoyangkan kakinya, lalu menyalakan rokoknya kembali,
“Kamu tahu, Naya? Kamu dan peraturan bodohmu itu... benar-benar membuatku muak. Kalau kamu membuat peraturan seperti itu, lalu kenapa kamu harus berpacaran? Pacaran tanpa nafsu? OMONG KOSONG, NAYA!
Kamu hanya seorang wanita sok suci yang berlindung dibalik jilbabmu!
Hey.. tunggu dulu... lihat wajahmu saat ini? kamu marah, Naya? Kamu ingin menghajarku? Ooh.. kita bahkan belum masuk ke cerita inti... HAHAHAHA...!”
Shinta kembali tertawa. Ia menoleh ke arahku, suara tawanya makin keras.
Aku menarik nafas panjang, lalu ku hembuskan perlahan. Terus ku ulangi sampai aku bisa mengendalikan kemarahan yang hampir mengendalikan tubuh dan pikiran ku.
Tenang, Naya... Tenang... Kamu tidak akan bisa melewati situasi ini jika dirimu di kendalikan emosi...
“Aku membohongi Andy. Aku bilang padanya, kamu sudah pernah tidur dengan laki-laki lain sebelumnya dan aku bilang bahwa kamu...kamu penasaran bagaimana rasanya mencicipi tubuhnya... HAHAHAHA...
Bagaimana mungkin dia tidak mempercayaiku sedangkan ia tahu bahwa aku adalah sahabat baikmu?
Menurutmu bagaimana reaksi Andy saat itu? Ooh... dia...”
__ADS_1
“Aku sangat marah, Naya! Aku sangat marah sampai rasanya saat itu aku bisa membunuh siapa saja yang lewat di hadapanku!”
Andy memotong kalimat Shinta. Ia berjalan ke arahku, menatap mataku penuh dengan kesedihan.