
65
Hengky menghela nafas lega lalu menaruh tangan kanannya di pipi bagian yang sama, matanya tanpa berkedip menatapku, “Jadi, kamu mau cerita apa tadi, Sayang?”
“Sayang? Naya, kamu...” Mata Yusuf melebar, mulutnya menganga tanda tak percaya.
“Seluruh mahasiswa di kampus tahu bahwa Hengky dan Naya adalah pasangan yang tidak terpisahkan, Bro! Jadi waktu kamu ngomong hal konyol di kantin tadi, menurut kamu, kamu lagi bermain peran sebagai apa?” Andy menyeringai.
Mataku terus menatap Andy, mencoba mencari tahu permainan apa yang sedang ia coba jalankan pada kami. Tidak mungkin ia tiba-tiba mendukung hubungan kami seperti ini.
Tidak, Andy pasti memiliki motif tersembunyi.
“Tunggu dulu. Apa Abah tahu tentang penampilanmu yang berubah 90 derajat seprti ini? Lalu sekarang kamu bilang kamu berpacaran?” raut wajah Yusuf nampak kesal. Ia tidak memperdulikan ucapan Andy yang sangat jelas menyudutkan dirinya.
“Kenapa? Ada masalah dengan itu?” Hengky berkata pelan sambil tersenyum. Senyuman mendominasi yang ia keluarkan sama persis saat ia tersenyum sewaktu mengintrogasi Gilang.
“Tentu saja ini masalah besar untukku! Kamu mau tahu, Naya? Aku bahkan rela tidak ikut Ayah dan Ibu pindah ke Bandung saat kelas 2 SMA hanya karena tahu bahwa kamu akan bersekolah di SMA yang sama denganku. Aku...aku hampir mendapatkan kamu jika Abah tidak mendatangi rumahku waktu itu lalu mengancamku sambil mengatakan bahwa sampai kapanpun kamu tidak akan diperbolehkan berpacaran dengan lelaki manapun!”
“Dan sekarang, di depan mataku, tiba-tiba kamu berjalan bergandengan tangan dengan laki-laki asing dengan penampilan yang... berubah drastis!”
__ADS_1
“Penantianku selama puluhan tahun tiba-tiba kandas, Naya! Demi Tuhan, rasanya aku ingin menarikmu pergi dari sini sekarang juga!!” nada suara Yusuf naik tiga oktaf. Saat ia berbicara tadi, urat lehernya terlihat menegang. Nampaknya ia sudah tidak bisa menahan emosinya.
Saat ini rasanya aku tidak mempercayai telingaku. Apa yang baru saja kudengar bagai terjangan ombak tinggi yang menghanyutkanku bersama kenangan lima tahun silam. Slide kebersamaan selama di SMA dulu bagai menari-nari di pelupuk mataku.
Usapan lembut tangan Hengky pada punggung tanganku seketika menarikku kembali. Menyadarkanku bahwa apapun yang Yusuf katakan tidak akan pernah menggantikan posisi Hengky di dalam hatiku.
“Apakah sekarang Kakak mencoba menyalahkanku? Kakak yang bersikap pengecut tapi kenapa jadi aku yang disalahkan?”
“Apa? Pengecut?” Rona wajah Yusuf makin memerah. Alisnya bertaut seolah menyatu, sedangkan dadanya naik turun mengikuti irama jantungnya yang mendadak cepat diburu oleh emosi.
“Aku bukan cenayang yang bisa meramal atau mengetahui isi hati seseorang, Kak. Lagipula, bagaimana bisa Kakak bisa berpikir untuk marah? bahkan perjuangan saja belum dimulai. Kakak tadi bilang menungguku? Menunggu untuk apa? Apa aku yang meminta Kakak menunggu?”
“C’mon, Kak. Kakak pikir aku bisa ada disini, bisa bersama orang yang benar-benar mencintaiku karena Abah menyetujui hubungan kami?”
Aku menoleh ke arah Hengky, “Cinta bukan tentang siapa yang kita kenal paling lama, bukan yang datang paling pertama atau yang paling perhatian, tetapi tentang siapa yang datang dan tidak pergi.”
Hengky tersenyum, ia mengelus kepalaku lembut. Tanpa ia membalas ucapanku, sorot matanya sudah mewakili semuanya.
“Ini gak adil, Naya. Bagaimana bisa... ? Kamu gak tahu berapa banyak hal yang telah aku korbankan,” suara Yusuf terdengar lirih. Ia menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Dunia gak pernah bersikap adil pada sesuatu yang Tuhan tahu bukan pada tempatnya, Bro. Trust me, cinta akan selalu menang saat kamu berusaha melepaskan,”
Andy menatapku, “Dan hatimu akan lebih lega saat masih bisa melihat senyuman bahagia terukir di bibirnya dibandingkan air mata yang akan terus mengalir jika kamu memaksakan kehadiranmu dalam hidupnya.”
Saat tatapan mataku dan Andy bertemu, saat itu aku mengerti mengapa ia ingin kami duduk bersama disini. Ia hanya ingin aku tidak mencurigainya lagi, ia hanya ingin aku tahu bahwa ia sudah melepaskan uluran tangannya pada tanganku, membiarkanku pergi mendayung kehidupan bersama Hengky.
Secara otomatis bibirku tersenyum padanya. Senyuman yang kuharap ketika guratan pada bibirku hilang, maka kenangan buruk beserta trauma yang menyertainya ikut pergi.
“Mau bagaimana lagi? Aku sudah sangat terlambat,” Yusuf mengangkat kepalanya, ia menatap Hengky sambil tersenyum, “Kamu sedang bersama wanita yang sangat dicintai di keluarga besar kami. Maka jika kamu menyakitinya, itu artinya kamu menyakiti kami.”
“Kamu bisa mempercayaiku,” jawab Hengky singkat namun penuh keyakinan.
Waiters datang mengantarkan pesanan kami. Ia dengan sopan mempersilahkan kami menikmati hidangan lalu tersenyum ramah sebelum akhirnya pergi.
Andy mengunyah makanannya lahap. Namun tiba-tiba ia terhenti, “Ngomong-ngomong kamu jauh-jauh datang dari Bandung ke Lampung mau ngapain, Bro? Ada urusan di Kampus kami?”
Yusuf tersenyum getir, ”Mengejar mimpi tapi ternyata sudah keburu di bawa pergi.”
Masing-masing dari kami terdiam. Banyak pertanyaan yang ingin ku ajukan pada Yusuf namun ku tahan di bibirku. Lain kali saat kami bertemu lagi, aku akan bertanya banyak hal padanya. Dengan kondisi yang lebih baik, keadaan yang lebih lapang dan hati yang lebih tenang.
__ADS_1
Sebelum pamit pergi, Yusuf mengusap kepalaku lembut lalu berkata, “Kamu tenang saja, Naya. Aku tidak akan menceritakan kejadian hari ini pada siapapun. Kamu bisa mengandalkan aku, kapanpun kamu mau.”