Penjara Cinta

Penjara Cinta
"Masya Allah"


__ADS_3

74


“APA??” kedua alisku bersatu, suaraku meninggi, “Gak bisa dadakan gitu dong, Bu! Naya gak ada persiapan!”


Ibu melanjutkan sarapannya dengan santai, bahkan bibirnya malah tersenyum, “Kenapa? Cuman jadi Moderator acara seminar biasa kok. Kamu kan sudah ahli.”


“Ahli sih ahli, tapi kan pengisinya bukan orang ini juga,” aku melipat tanganku ke depan dada dengan kesal.


“Namanya Fatih, Naya. Bukan orang itu.”


“Aku tahu, Bu. Itu yang ngebuat aku kesel!”


“Cuman acara seminar pendidikan biasa, Naya. Pesertanya juga cuman staff dan seluruh dewan guru. Gak ada orang luar,” jelas Ibu sambil mengunyah nasi terakhir di piringnya.


“Cuman?? Kedatangan Fatih yang tiba-tiba lalu menjadi pemateri itu bukan ‘cuman’, Buuu!”


“Jaga nada bicaramu, Naya! Kamu sedang berbicara dengan ibumu!” Abah berdehem kuat lalu menatapku tajam.


Aku menunduk. Jika sudah seperti ini, maka tidak akan ada kesempatan untukku berkelit lagi.


“Sudahlah, daripada kamu sibuk menyanggah ucapan Ibu. Lebih baik kamu cepat habiskan makananmu lalu bersiap-siap. Karena kamu moderatornya maka jam delapan tepat sudah harus ada di Aula ya,”


Ibu berdiri sambil menggeser ke belakang kursi dengan kedua belakang kakinya, ia sekali lagi tersenyum padaku lalu mencolek Abah, “Abah mau hadir juga?”


“Apa Abah harus datang?” Abah justru bertanya balik, tatapan mereka mencurigakan.


Ibu mengangkat kedua bahunya, “Terserah Abah sih. Tapi kalau Abah mau ngeliat calon anak mantu, Ibu sarankan Abah datang.”


Abah buru-buru berdiri, meletakkan piring kotornya di atas piring ibu, “Abah pakai baju yang mana ya, Bu?”


Melihat Abah dan Ibu yang sangat bersemangat berjalan ke kamar sambil berdiskusi tentang baju mana yang akan dipakai membuatku semakin kesal.


Bukankah kata mereka aku adalah pemegang keputusan dari proses taaruf ini? Lalu mengapa mereka sudah secara terang-terangan menyebut Fatih sebagai calon anak mantu?


Menyebalkan. Ah, rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya.


---------------------------------------------


Saat memasuki aula, semuanya telah tertata rapi. Banner besar bertuliskan, ‘SEMINAR PENDIDIKAN, Membangun Komunikasi Empatik Kepada Peserta Didik Berbasis Al-Qur’an’ tertulis besar beserta foto Fatih yang terpampang sangat jelas.

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang, sepertinya hanya aku yang baru saja diberi kabar pagi ini. Lihatlah, panitia sudah memakai name tag yang sama. Beberapa sedang sibuk mengatur hidangan di atas meja pemateri dan moderator, beberapa sedang mengatur kursi peserta seminar, beberapa juga ada yang sedang mengatur sound dan di balik laptop mengatur beberapa backsound musik.


Baiklah, hanya aku yang masih bingung harus bicara apa nanti.


“Naya!” Latifah, sekretaris Yayasan berlari ke arahku sambil tersenyum lebar.


Aku menatapnya sambil tersenyum, menunggunya berbicara.


“Kamu tahu pemateri kita hari ini? Dia dari Depok, katanya guaanteengggg puoolllll!” Lathifah menarikku duduk, “dan hebatnya, dia masih single!”


“O-okay...” aku memundurkan kepalaku, keningku mengkerut, “Trus kenapa?”


“Astagaa..! Kamu kok pake nanya kenapa siih? Siapa tau jodoh looh...”


“Jodoh siapa?”


“Aku!” Lathifah tertawa keras sambil memukul pundakku, “Duh, jadi maaluuu...”


Aku membuka mulutku, mengeluarkan suara berpura-pura tertawa, “Kamu salah makan ya pagi ini?”


“Kamu kenal kan ya? Pasti kenal laah, kan Ibu yang mengundang Kak Fatih kesini,” sahut Lathifah masih sambil tersenyum, senyumnya terlihat mencurigakan, “Ada nomor HPnya Kak Fatih gak?”


Kali ini aku benar-benar tertawa. Sambil menggelengkan kepala aku segera berdiri, “Tantangan pertama, kenapa kamu gak tanya Ibu aja langsung?”


“Nanti coba aku tanya ya,” ujarku sambil tersenyum, “Sekarang aku mau nyiapin kata-kata dulu yaa. Bentar lagi Kak Fatih dateng, coba lihat lipstick kamu belepotan tuh!”


“Eh, serius?” wajahnya mendadak panik. Ia segera berlari menggapai tasnya lalu membuka compact powder. Matanya melotot kesal ke arahku saat dilihatnya bahwa lipsticknya baik-baik saja.


Aku tertawa sambil mengangkat kertas coretan. Kulirik jam tangan di pergelangan tanganku, sepuluh menit lagi jam delapan dan Fatih belum juga datang.


Saat baru saja perhatianku terpusat pada coretan naskah moderator, Ibu mendekatiku sambil berbisik, “Fatih sudah datang. Sekarang lagi di ruang tamu Yayasan sama Abah. Kamu jangan malu-maluin Abah sama Ibu yaa...”


Ibu berdiri ke tengah panggung, menarik microphone, “Lima menit lagi kita mulai. Pemateri sudah ada di ruang tamu Yayasan. Gimana semuanya, sudah siap?”


---------------------------------------


Aku melewati bagianku dengan baik. Entah karena ini tidak melibatkan perasaan atau memang Tuhan sedang membantuku, segala kata-kata yang keluar dari mulutku tertata dengan sangat baik. Seketika terlintas dan langsung ku katakan.


Saat sesi Pemateri tiba, Fatih datang dari arah pintu aula dengan sangat dramatis. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana chinos warna grey. Sepatu sneaker warna putih selaras dengan warna kemejanya.

__ADS_1


Senyumnya merekah, membuat siapapun yang melihatnya terpaku untuk beberapa saat. Ah, tidak, tidak semuanya, kecuali aku. Aku melihatnya dengan tatapan yang biasa saja, karena begitulah yang kurasakan. Jika ini hanya masalah ketampanan, sungguh Andy ataupun Hengky sudah membuatku mual akan ketampanan.


Fatih membuka materinya dengan sangat baik dengan beberapa pertanyaan yang memancing tawa. Ia memulai dengan sebuah game permainan kata-kata, membuat suasana seminar terdengar riuh oleh gelak tawa.


Jika kalian penasaran bagaimana ketika tatapan kami bertemu, tenang saja, ia nyaris tidak sekalipun menatapku. Sedangkan aku? tidak mungkin aku tidak melihat ke arahnya jika ia adalah pemateri yang kalimatnya harus ku rangkum dan harus ku terima dengan baik.


Saat tiba sesi tanya jawab, sesuai kesepakatan awal, pertanyan dibuka untuk lima orang. Dan sesuai prediksi, Lathifah dengan cepat mengangkat tangannya,


“Baik, silahkan sebutkan nama dan sebutkan pertanyaannya,” sahutku sambil tersenyum.


“Assalamualaikum. Nama saya Latifah Ningrum. Saya ingin bertanya kepada Kakak Pemateri kita hari ini. Tadi disebutkan komunikasi empatik adalah dengan cara memposisikan pikiran dan perasaan guru menurut persepsi siswa. Hal ini tercermin dalam bahasa yang digunakan dan cara memperlakukan siswa,”


“Lalu bagaimana jika menghadapi siswa yang selalu saja datang terlambat? Dan alasannya selalu saja karena kesiangan. Jika sekali atau dua kali, mungkin kita bisa memaklumi, jika sudah berulang kali, komunikasi empatiknya seperti apa, Kak? Karena sejujurnya kita tidak selalu berada dalam situasi hati yang baik untuk selalu memaklumi kesalahan siswa,”


“Hanya itu pertanyaan saya. Terima Kasih sebelumnya, Wassalamualaikum.”


Fatih mengangguk sambil tersenyum. Ia yang baru saja duduk menoleh padaku, menatap mataku untuk pertama kalinya, “Kakak moderator, ini pertanyaan kita tampung dulu atau langsung di jawab?”


“Sebaiknya kita tampung saja dulu, Kak. Agar lebih runut nanti menjawabnya,” jawabku namun sambil mengalihkan tatapan mata dari wajahnya.


“Baik, nanti bantu saya mengingat kembali pertanyaan tadi ya,” Ucapnya sambil tersenyum.


Aku mengangguk singkat lalu tersenyum sekedar membalas senyumannya, tidak ada yang aneh dengan kalimatnya tadi. Namun saat mengangkat kepalaku kembali, menatap peserta seminar dan melihat mereka tersenyum penuh arti sambil mengucap pelan, “Ciyee....”


Aku tahu, ada yang tidak beres dengan tatapan matanya.


Refleks aku menoleh  ke samping, bersamaan dengannya yang juga menoleh ke arahku. Tatapan kami langsung bertemu, menciptakan suasana canggung yang sangat menyengat.


Sementara aku langsung membuang pandanganku kembali ke arah audiens, Fatih tersenyum sambil berbisik, “Masya Allah...”


Kaget aku menoleh kembali ke arahnya, bersamaan dengan tatapan para audiens yang menatapnya sambil menahan tawa dan tersenyum menggoda.


Wajah Fatih mendadak pucat, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Apa yang tadi kedengeran ya?”


Abah yang duduk paling depan sontak tertawa keras, diikuti oleh suara tertawa peserta audiens lainnya.


“Luar biasa, kualitas microphone saat ini melebihi ekspektasi. Kalau saya tahu berbisik saja sudah terdengar jelas, mengapa saya harus mengeluarkan suara yang powerfull dari tadi ya?” Fatih tertawa sambil menggelengkan kepalanya. ia mengusap wajah sambil beristighfar pelan.


Apa-apaan sih dia. Ya Tuhan....

__ADS_1


Fatih menghela nafas panjang. Setelah sedikit tenang, ia meraih microphone, “Hadist Nabi memang tidak pernah salah. ‘Setiap Muslim yang melihat kecantikan seorang wanita, kemudian ia menundukkan dan memejamkan matanya, maka Allah akan menggantinya sebagai suatu ibadah,’ hadits riwayat Ahmad dari Abu Umamah,”


“Jika hadist sudah tertulis jelas dan masih kita langgar, lihatlah efeknya padaku, terlihat sangat memalukan, bukan?”


__ADS_2