Penjara Cinta

Penjara Cinta
Acting Sempurna


__ADS_3

...Sebelum membaca please tinggalkan like & komentar yaa......


...Like & komentar dari kalian berarti banget buat aku... ☺️...


...Terima Kasiih......


...Selamat Membacaaa 🙏...


#25


“Ooh.. I...Iyaa, Tante... Waktu itu Shinta pernah cerita sama aku...”


Aku menggigit bibirku kuat-kuat, berusaha menahan kabut dimata agar tidak tumpah menjadi air mata.


Kenapa? Kenapa mereka menyembunyikannya dariku?


Kenapa Shinta membohongiku?


Kenapa acting mereka sempurna sekali di mataku?


Hengky memegang tanganku namun kutepis dengan kasar. Ia nampak gelisah.


Sementara Andy? Ia tertawa pelan lalu dengan santai duduk di sofa sambil meminta izin pada Ayah Shinta untuk memakan buah di atas meja.


“Na...Naya... “ Tatapan Shinta nampak khawatir, Ia berusaha bangun namun seketika ia menjerit pelan, rasa nyeri di tubuhnya membuatnya tidak bisa bergerak leluasa.


“Kamu...kamu istirahat aja, Ta. Aku mau keluar sebentar... Permisi, Om... Tante...”


Tanpa menunggu reaksi dari Ayah dan Ibu Shinta aku sudah berlari ke luar pintu.


Apapun alasan mereka, tapi kenapa rasanya sakit sekali?


Hengky berlari menyusul, Ia menarik tanganku, “Kita bicara di mobil, Naya”


“Lepasin aku. Kalian... kalian menganggapku sangat bodoh selama ini kan? Kalian... menertawakan ku di belakangku...”


Air mata tidak bisa ku bendung. Ah, Sial. Kenapa aku se-cengeng ini??


“Ikut aku. Kita bicara di mobil.”


Tanpa banyak bicara Hengky menarik tanganku, memaksaku untuk diam dan mengikutinya ke dalam mobil.

__ADS_1


Aku sudah tidak mempedulikan tatapan setiap orang yang kami lewati. Apapun yang mereka fikirkan, aku tidak perduli.


“Hey, lihat aku. Kamu sudah bisa mendengar penjelasanku sekarang?”


Setelah menutup pintu mobil, Hengky meraih wajahku lalu diarahkan menghadap wajahnya.


“Ya. Biar kudengar apa penjelasanmu.” Aku menatap matanya, mencari kebenaran dari tiap kata yang akan di ucapkan olehnya.


“Shinta yang memintaku berbohong, Naya. Dari awal kita masuk kuliah sebagai mahasiswa baru, Dia memintaku untuk berpura-pura tidak mengenalnya.


Aku tidak tahu apa alasannya, hanya saja melihatnya memohon seperti itu, siapa yang tidak tersentuh olehnya?”


“Ah, ya. Ditambah lagi kamu punya perasaan padanya.”


Hengky menghela nafasnya, “Demi Tuhan, Naya. Stop membahas kejadian yang sudah sangat lamaa itu. Bukan itu point intinya.”


“Jelas saja itu pointnya! Kalian bertiga. Kalian... tertawa melihatku menjadi korban Andy selanjutnya, bukan? Kalian... kalian....”


Tangisanku kembali meledak. Aku sangat mempercayai Shinta. Aku sangat menyayanginya. Aku... Aku belum pernah mempunyai sahabat sebaik dirinya.


Tapi... apa sekarang?


Hengky berusaha meraih tubuhku namun kutepis tangannya dengan kasar.


“Naya... aku gak tahu kalau kamu bakal sesakit ini. Maaf... maafkan aku... aku tidak berfikir sejauh itu...”


“Saat hampir seminggu aku di rumah Shinta, kalian tahu? Kamu dan Andy?”


Hengky menghela nafas dengan berat, ia mengangguk lemah, “Shinta memberi tahuku bahwa kamu ada dirumahnya tapi melarangku bertemu. Aku tidak tahu dengan Andy, Shinta dan Andy sudah lama tidak berhubungan sejak kejadian itu...”


“Shinta tahu... dia tahu... dia tahu Andy se brengsek itu... Kenapa... kenapa dia tidak memberitahuku...?”


Tangisan membuatku kesulitan menyelesaikan kalimatku. Aku terus mengutuk diriku mengapa tangisan ini tidak juga mau berhenti,


“Dan juga... saat... saat aku kaget mengetahui bahwa Kamu dan Andy adalah saudara sepupu. Bukannya... bukannya Shinta memarahimu... bukannya saat itu dia pun baru tahu?”


“Dia....”


“Dia memintamu untuk berpura-pura bahwa dia pun baru tahu??” Aku memotong kalimat Hengky.


Melihat anggukan Hengky membuat tangisanku makin keras.

__ADS_1


“Kenapa... kenapa Shinta membohongiku... Apakah dia menertawakanku selama ini? Menertawakan bahwa aku dengan bodohnya jatuh kedalam perangkap Andy? Dengan bodohnya... kehilangan... kehilangan...”


Hengky menarik tubuhku dengan cepat, memelukku dengan erat.


“Sayang... ya Tuhan... Maaf.... Maafin aku....”


Makin Hengky mengeratkan pelukannya, air mataku semakin deras keluar.


...-------------------------------------------------------------...


Setelah kejadian itu, aku berusaha untuk bersikap seperti biasa didepan Ayah dan Ibu Shinta. Seolah tidak ada apa-apa.


Namun tidak bisa kubohongi, aku menatap Shinta penuh luka, penuh rasa kecewa.


Shinta beberapa kali memintaku untuk duduk di sampingnya, namun ku tolak dengan berbagai alasan.


Sampai akhirnya saat kedua orang tua Shinta memberi kabar bahwa Shinta akan dipindahkan ke rumah sakit dekat rumah mereka. Aku menarik nafas lega akhirnya bisa pulang.


Aku tidak tahu apa yang membuatku sangat kecewa. Lebih tepatnya lagi, aku tidak tahu di bagian mana.


Bagian saat dia membohongiku seperti baru saja mengenal Andy?


Atau saat Shinta tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi antara mereka kepadaku?


Namun, jika itu terjadi padaku, apakah aku bisa menceritakannya pada orang lain?


Tapi, Ya Tuhan... aku bukan orang lain! Aku sahabatnya! Tidak ada yang tidak kuceritakan padanya, bahkan... bahkan kejadian sore itu bersama Andy ku ceritakan dengan detail kepadanya.


Apakah.... apakah dia menertawakanku dalam hatinya saat itu?


Menertawakan nasibku yang tidak sebaik dirinya?


Atau... jangan jangan... dia dan Andy membicarakan ku dibelakang ku?


Ah, rasanya kepalaku mau pecah.


Sepanjang perjalanan pulang aku hanya terdiam sambil memandangi keluar jendela. Hengky pun seolah memaklumi dan tidak banyak bicara saat ini.


Mataku menatap mobil ambulance yang membawa Shinta di depan kami,


Shintaa... kenapa... kenapa kamu menyembunyikannya dengan sangat baik?

__ADS_1


__ADS_2