
76
Pertanyaan yang tepat sasaran.
Aku menatap Ibu bingung, meminta pertolongan darinya. Namun yang ada bukannya pertolongan, mata ibu malah berbinar, seolah memintaku mengatakan, “Ya! Tunggu apa lagi, Nayaa?? Kita lanjutkan tahap selanjutnya!”
Ah, nampaknya kali ini aku harus berjuang sendirian. Sejak kapan pula aku bisa mengharapkan pertolongan dari Ibu?
“Maaf, bukannya menolak maksud baik dari Kak Fatih. Namun bukankah Kak Fatih bahkan belum mendengar giliranku untuk bicara?”
Bola mata Fatih membulat, seketika tawanya meledak. Ia beristighfar berulang kali lalu mengendalikan dirinya kembali, “Maaf... maaf. Ya Allah, entah sudah keberapa kalinya saya mempermalukan diri saya sendiri seperti ini...”
Abah dan Ibu menanggapi kalimat Hengky dengan ikut tertawa. Ibu tidak dapat menyembunyikan raut wajah senangnya, “Tidak apa-apa, Nak Fatih. Jika Fatih tidak menunjukkan perasaan Fatih yang sebenarnya, mungkin Naya bahkan tidak mau Ibu ajak kesini.”
Aku melotot ke arah Ibu.
Hey, aku bukannya menurut kesini karena aku yang menyukai Fatih! Aku hanya menuruti apa kemauan Abah dan Ibu!
Namun seperti biasa, aku hanya menyimpan kalimat itu dalam hati dan pikiranku saja. Rasa patuh dan sayang kepada Abah dan Ibu membuat mulutku bungkam. Yang ada, aku malah mendapati diriku ikut tersenyum seolah membenarkan perkataan Ibu.
“Baik, ada yang mau Naya bicarakan?” tanya Abah lembut.
Aku menarik nafas panjang lalu ku hembuskan perlahan. Memancing perbendaharaan kata-kata keluar dan berusaha untuk menyusun kalimat dengan baik.
“Naya hanya ingin nantinya mendapat seorang laki-laki yang mencintai Naya dengan kadar yang biasa-biasa saja. Mencintai secara proporsional. Karena boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal itu amat baik untuk kita, dan boleh jadi pula kita menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kita,”
“Apa yang Kak Fatih lihat saat ini hanya karena campur tangan Allah yang dengan sifatNya Yang Maha Pemurah yang berkenan menutup semua aib dan keburukan Naya. Karena percayalah, saat Kak Fatih mengetahui aib dan keburukan Naya, maka tidak ada hal lain yang ada di dalam pikiran Kakak kecuali pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan Naya,”
“Naya serius dengan perkataan Naya. Ini bukan hanya ucapan atau perkataan basa-basi belaka, atau sekedar kalimat untuk bersikap rendah hati. Demi Allah bukan,”
“Izinkan Naya bertanya, jika nantinya, saat Kak Fatih sudah bertekad mengucapkan ikrar suci sambil menjabat tangan Abah di depan Al-Qur’an nanti, saat Kak Fatih mulai mengetahui keburukan dan aib yang telah Naya tutupi, apakah Kakak akan tetap memperlakukan Naya dengan baik?”
__ADS_1
Abah yang kebingungan bercampur khawatir Fatih menangkap pertanyaanku dengan makna yang berbeda nampak berusaha membuka mulutnya ingin menambahkan beberapa kalimat, namun Fatih dengan sigap balik bertanya,
“Tentang apakah konteks keburukan yang Naya maksud?”
“Apapun. Bahkan semisal kemungkinan yang terburuk sekalipun,” jawabku dengan intonasi penekanan.
“Jika ini menyangkut hal diluar kehormatan seorang wanita, saya bisa menerimanya.”
Aku tersenyum puas. Ini yang aku maksud. Kemungkinan kami bisa bersama menjadi semakin tipis. Baiklah, saatnya mengajukan pertanyaan selanjutnya,
“Jika nanti ternyata wanita itu tidak bisa mengandung anak Kakak, bagaimana?”
Fatih terdiam beberapa saat. Ia menghela nafas berat, “Sejujurnya ini pertanyaan yang sulit untuk saya jawab. Karena salah satu tujuan pernikahan saya adalah untuk mencetak generasi unggulan. Namun jika ternyata istri yang saya pilih ternyata, maaf, mandul. Entahlah, mungkin lebih baik kami mengadopsi anak atau... berpoligami mungkin bisa menjadi solusi?”
“Poligami??” Nada suaraku meninggi. Belum apa-apa ia sudah mengungkit tentang poligami?
“Bukankah agama kita tidak melarang poligami?” wajah Fatih seperti kebingungan, “Bahkan Abi mempunyai tiga istri.”
Abah berdehem pelan. Ia menghindari tatapan mataku, merubah posisi duduknya agar aku tidak bisa melihatnya dengan leluasa.
Aku menghela nafas kesal, “Allah memang tidak melarang kita untuk berpoligami. Bahkan beberapa Nabi mempunya istri lebih dari satu. Kita tidak perlu membahas dulu tentang alasan mengapa Para Nabi yang Agung mempunyai Istri lebih dari satu, namun, sekali lagi, para Nabi adalah manusia pilihan yang secara khusus ditunjuk oleh Allah sebagai utusannya, yang kadar keimanan, ke sholihan dan ketaatannya jauh berada di level yang bahkan tidak bisa kita tengok sangking tingginya,”
“Lalu, manusia biasa seperti kita, yang bahkan jika mempunyai tiga orang anak saja tidak bisa menafikkan hati untuk tidak condong pada salah satu darinya, bersikap jumawa mengemban tanggung jawab kehidupan lebih dari satu orang wanita?”
“Jangan katakan bahwa ini adalah sunnah Nabi. Ada ribuan sunnah Nabi yang bisa kita lakukan, yang kadar pahalanya tidak kalah dari memiliki istri lebih dari satu.”
Aku menyudahi kalimat dengan masih terengah-engah menahan emosi. Sejujurnya hati dan pikiranku sedang bersorak kegirangan saat ini.
Akhirnya... akhirnya aku menemukan alasan untuk menolaknya.
“Tunggu dulu, mengapa pembahasan kita menjadi melebar kemana-mana seperti ini?” Abah tertawa pelan, bersikap formalitas untuk memecahkan suasana.
__ADS_1
“Nak Fatih tentu saja tidak berencana untuk berpoligami, bukan? Dan tentunya, Naya pun bahkan kecil kemungkinan untuk tidak bisa mempunyai keturunan. Lalu, apa yang kita perdebatkan disini?” Ibu tersenyum lebar. Ia meraih botol air mineral kemasan lalu menumpahkannya ke gelas miliknya.
Saat aku sedang berbicara tadi, seorang pelayan telah mengantarkan makanan dan minuman yang kami pesan.
“Jika mendapatkan istri secerdas dan seberani ini, apapun kekurangannya nanti, apakah ia tidak bisa mempunyai keturunan sekalipun, tidak masalah untuk Fatih, Bu.”
Hatiku yang baru saja bersantai dari pikiran berat segera mengeluarkan alarm kembali.
Apa? Apa katanya tadi?
“Apa yang baru saja Naya katakan semakin menguatkan saya untuk bisa melanjutkan tahap ini sampai ke jenjang pernikahan. Saya sangat menyukai seorang istri yang tidak hanya menuruti perintah suami, namun saya juga butuh seorang istri yang bisa dijadikan teman berdebat dan diskusi yang asyik,”
“Jawaban saya tadi hanyalah sebagai pancingan agar Naya dapat mengungkapkan pendapatnya dengan jujur. Jika menyangkut perasaan, sedikit sekali wanita yang bisa tetap mendasarkan Al-Qur’an dan Hadist sebagai acuan pendapatnya. Sekali lagi, Naya, telah membuat saya terpesona.”
Pandangan mata Fatih lurus ke arahku, ia tersenyum lembut lalu berkata pelan, “Maaf ya, Naya. Tadi pasti kamu emosi sekali yaa...”
Semantara Abah dan Ibu tertawa lega mendengar perkataan Fatih. Pundakku hampir melorot karena lemas. Laki-laki ini telah mempermainkanku.
Abah mempersilahkan Fatih untuk makan. Mereka sesekali tertawa membahas tentang persahabatan Abah dan Abinya Fatih. Sementara Ibu tersenyum lega sambil menyimak obrolan mereka.
Aku memandang makananku. Biasanya steak sapi selalu bisa membuatku memaklumi segala suasana hati namun kali ini steak tidak dapat menolongku.
Pikiranku selalu berujung pada, “Tolonglah... beri aku alasan... beri aku alasan agar aku dapat menolakmu dengan baik...”
Bayangan senyum Hengky seketika berkelebat dalam pandangan mataku. Bayangan aku menikah dengan laki-laki lain selain Hengky membuat bulu kudukku merinding.
“Naya gak makan?” suara Fatih bertanya padaku dengan lembut.
Terdengar lembut bagi orang lain namun terdengar sangat memuakkan di telingaku.
Ibu terbatuk kecil, ia melirik ke arahku sambil tertawa, “Kenapa Naya? Sudah mulai pusing memikirkan pernikahan kalian? Atau kamu bingung nanti mau pakai baju adat pengantin Lampung atau Sunda?”
__ADS_1