Penjara Cinta

Penjara Cinta
Kembali


__ADS_3

#41


Pagi ini saat Hengky menjemputku ke Kampus, wajahnya terlihat memerah malu. Ia langsung tertawa begitu melihatku masuk ke mobil.


“Sumpah aku kaget banget kemaren, Sayang. Sangking kagetnya, aku jadi kayak gak sadar sewaktu ngeluarin kata-kata. Akward banget ya Tuhaaan...!”


Hengky mengacak-acak rambutnya kesal, ia menoleh ke arahku lalu kembali tertawa,


“Kamu ingat kemarin waktu aku bilang sempet salah ngetuk pintu kosan orang? Itu alasan paling ngaco yg pernah aku buat!”


“Tapi kamu tetap normal kok. Tetap seperti Hengky yang aku kenal.”


“Normal apanya, Sayang?


Aku kemarin kayak kepergok masuk kerumah orang! Pertemuan pertama aku dengan calon mertua berakhir tragis.”


Hengky menunduk, ia menggelengkan kepalanya lemah sambil mengeluarkan suara berpura-pura menangis.


Aku tertawa sambil membenarkan posisi rambutnya kembali, “Gimana Abah aku? Jauh diluar ekspektasi kamu kan?”


Hengky mengangkat wajahnya,


“Enggak. Aku udah tahu dan persis sempurna seperti bayanganku. Aku juga sudah tahu Abah seorang Ustadz. Cuman gak nyangka aja kalau bakal ketemu tiba-tiba kayak kemaren.”


“Kamu tahu? Darimana kamu tahu? Aku gak pernah cerita sama kamu.”


Hengky kembali tertawa, “Apa yang gak aku ketahui tentang kamu, Sayang.”


“Banyak hal yang gak kamu ketahui tentangku.”


Hengky mengangkat bahunya, “Aku tidak perduli yang lainnya selama kamu tetap ada di sampingku.”


“Oh iya, gimana dengan akun ku? Apa sudah bisa kembali?”


Aku mengalihkan pembicaraan, rasanya tidak nyaman membicarakan tentang hubungan kami lebih serius.


Hengky membelai kepalaku, “Kasihan kamu pasti stress banget gara-gara orang ini ya? Sampe tadi malem aja dia masih aja update status story gak bener di akun kamu.”


Aku mengangguk, “Bahkan masih ada yang terus menerorku dengan nomor yang berbeda-beda.

__ADS_1


Tapi aku mulai ragu kalau ini Shinta. Shinta gak mungkin mengirimkan pesan, ‘Kamu selalu terlihat cantik, Naya. Semakin ku lihat, aku semakin membencimu’.”


“Ya, kamu benar. Sepertinya memang bukan Shinta.


Kita tunggu sampai akun mu dipulihkan oleh pihak aplikasi ya, Sayang. Setelahnya kita akan segera mengetahui siapa dalang dibalik semua ini.”


“Sudah tiga hari ya? Biasanya harus menunggu berapa lama?”


Hengky menyalakan mesin mobil lalu menginjak pedal gas,


“Sekitar seminggu paling lama. Kita biarkan saja. Anggap saja sambil menunggu, kita bisa lebih konsen untuk ujian tengah semester. Setelah ujian nanti, baru kita urus dia.”


“Menurutmu siapa orangnya? Apakah mereka orang yang sama?”


”Walau aku sudah mencurigai beberapa orang tapi kamu gak perlu tahu, Sayang. Kamu harus fokus untuk ujian.”


Aku terdiam. Jika Hengky sudah mengatakan ‘tidak’, itu artinya walau aku memaksa atau membujuknya sekuat tenaga, ia tetap tidak akan bergeming.


Pikiranku mulai menebak-nebak, apakah orang itu benar Shinta? Atau orang lain?


...-------------------------------------------------------...


Apakah orang yang meneror dan yang meretas akun media sosial ku adalah orang yang sama?


Sangking penasarannya, aku berusaha merayu dengan berpura-pura bersikap lebih romantis dari biasanya. Jika biasanya aku masih sering memanggilnya dengan nama, kali ini aku selalu berkata,


“Sayang, kita mau makan dimana siang nanti?”


“Sayang, aku pinjam catatan sewaktu mata kuliah Pak Darwin kemarin, boleh?”


“Duh, kamu kenapa sih akhir-akhir ini keliatan ganteeengg banget, Sayang?”


"Sayang... love you... sayaanggg banget sama kamu.”


Jika boleh jujur, aku sendiri geli mendengar kata-kata itu keluar dari mulutku. Untuk mengucapkan kalimat itu, membutuhkan mental lebih dan menekan kuat perasaan gengsi dari hati ku.


Namun, mau tahu apa jawabannya?


“Hmm....”

__ADS_1


“Iyaa... nanti.”


"Iya, sama...”


Ya Tuhan, rasanya aku ingin memakannya bulat-bulat. Ia sangat tahu bahwa aku sedang merayunya, bahwa aku sedang berpura-pura.


Dan saat aku merajuk, ia pun berpura-pura tidak tahu. Ia tetap bersikap seperti biasa padaku walau aku mendiamkannya, walau aku berkata ketus padanya, ia tetap tidak perduli sampai akhirnya aku menyerah sendiri dan melewatkan satu minggu ujian tengah semester sambil menahan rasa penasaran.


Satu hal yang membuatku heran, minggu terakhir ini sikap Hengky mulai berubah kepada setiap laki-laki yang mencoba mendekatiku. Bukan dalam artian mendekati karena menyukaiku, tapi hanya mendekat sekedar berbicara ringan, menyapa atau hanya tersenyum.


Ia akan langsung menoleh ke arah laki-laki itu dan menatap matanya tajam selama beberapa detik. Sampai laki-laki itu segera mengalihkan pandangannya dan berpura-pura tidak melihat kami.


Salah satu contohnya saat Gilang lewat di depanku, ia tersenyum sambil memanggil namaku dengan ramah. Ya, hanya berbasa-basi.


Lagipula, laki-laki itu sangat tidak mungkin berada dalam list pria berbahaya. Dengan tampilannya yang sangat rapih, ujung baju kemeja yang selalu di masukkan ke dalam celananya, selalu gemetar dan kikuk ketika berbicara dengan wanita, dan juga kaca mata tebal yang tidak pernah dilepasnya, setiap orang akan tahu bahwa ia tidak mungkin tega menyakiti bahkan seekor semut sekalipun.


Gilang sampai tertunduk saat Hengky tidak mengalihkan pandangannya selama beberapa detik. Selang satu menit, ia kembali keluar kelas dengan mengambil jalur berbeda. Tidak lagi lewat di sampingku.


Parahnya lagi, Alfian pun tidak luput dari tatapan tajamnya. Berbeda dengan Gilang atau yang lainnya, mungkin karena Alfian merasa dekat dengan kami, ia langsung menghampiri Hengky lalu berpura-pura marah sambil berkacak pinggang,


“Kenapa? Kamu mau ngajak berkelahi? Ayookk! Sini majuu!”


Seperti bukan dirinya, Hengky segera berdiri dan mendekat ke arah Alfian, sangat dekat hingga dahi mereka hampir bersentuhan.


Ia tidak mengatakan apapun tapi sorotan tajam matanya sudah sangat mewakili bahwa ia tidak main-main saat ini.


Alfian mundur sambil tertawa canggung, “Oke-oke... Aku menyerah, Oppa Hengky.”


Saat aku bertanya mengapa sikapnya menjadi seperti ini, ia hanya menjawab singkat,


“Jangan percaya pada laki-laki lain selain aku, Naya. Siapapun bisa menjadi tersangka.”


Aku yang saat itu tidak mengerti maksud dari perkataannya hanya menepuk pundaknya sambil berkata bahwa ia bersikap berlebihan.


Sampai satu minggu setelahnya, akun media sosialku telah kembali. Awalnya aku hanya iseng mencoba membuka aplikasi, saat diminta login ke alamat email dan membuat password baru saat itu aku yakin akun telah kembali.


Dan benar saja, sambil berteriak senang, aku menarik tangan Hengky dan memberi tahunya bahwa akun ku telah kembali.


Ia buru-buru mengajakku duduk di pojok kelas lalu meminta handphone ku,

__ADS_1


“Kita cari tahu, siapa bajingan yang sudah membuatmu kesusahan beberapa hari ini.”


__ADS_2