Penjara Cinta

Penjara Cinta
Risotto Osman


__ADS_3

68


Abah menyelesaikan kalimatnya dengan tempo yang cepat. Jelas sekali Abah tidak bisa menahan emosinya kali ini. Aku bahkan tidak mengerti apa alasan Abah hingga menyerang Hengky habis-habisan seperti ini?


“Maaf Nak Hengky atau Andy, mungkin maksud Abah seperti ini,” Ibu berusaha menengahi, ia merubah posisi duduknya menghadap Hengky dan Andy lalu tersenyum,


“Jodoh memang tidak ada yang tahu. Tapi untuk saat ini Abah merasa bahwa Hengky tidak bisa menjadi calon laki-laki yang baik untuk Naya. Menurut Abah, latar belakang keluarga sangat penting, jadi mungkin setelah ini Hengky bisa memikirkan kembali apakah Hengky akan tetap berharap pada sesuatu yang tidak pasti atau bergerak maju meninggalkan Naya.”


Hengky mengangguk tanda mengerti. Pandangan matanya lurus ke atas meja, sambil tersenyum ia mengangkat wajahnya lalu menatap Ibu,


“Maaf Ibu, bergerak maju dalam kosakata Hengky adalah tetap berusaha apapun resikonya. Meninggalkan Naya tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiran Hengky. Jadi, jika Abah dan Ibu meminta Hengky menjaga jarak atau untuk sementara memutuskan hubungan dengan Naya, akan Hengky sanggupi. Tapi in syaa Allah, Hengky akan kembali dengan kondisi yang lebih baik lagi.”


“Bukan tentang kamu, Hengky. Tapi keluargamu!” cetus Abah mulai emosi.


Aku tertunduk. Air mata yang dari tadi kutahan kini sudah tidak ku hiraukan membasahi pipi dan jilbabku. Jika ingin membahas hal seperti ini bukankah lebih baik jika hanya antara kami saja? Tanpa melibatkan adik, nenek apalagi uwak dan paman.


Rasanya baru saja aku mendengar suara harga diri ku hancur berantakan. Selama ini aku berusaha membangun image sebagai kakak yang baik, keponakan tanpa cela atau cucu yang dapat di banggakan namun kini Abah dan Ibu memecahkan pondasi harga diriku tanpa belas kasihan.


Tatapan mataku lurus ke arah Hengky. Aku tahu ada banyak kata-kata yang ingin ia sanggah dari ucapan Abah, tapi melihatku menggeleng lemah ke arahnya ia memaksa tersenyum lalu mengangguk,


“Baik Abah jika itu yang Abah dan Ibu inginkan.”


“Abah juga ingin agar Naya dapat memiliki suami yang bisa menggantikan posisi Abah sebagai Da’i, seorang Kakak yang bisa membimbing adik-adik Naya dengan baik dari segi agama, atau nantinya yang akan berguna bagi Yayasan milik keluarga kami. tapi dilihat sekilas pun, Abah sudah sangat tahu sebatas mana kemampuanmu.”


Abah nampak masih belum puas. Melihat tidak ada tanda perlawanan atau sanggahan dari Hengky membuatnya sangat leluasa menyampaikan apapun yang terlintas dalam pikirannya.


Aku makin tertunduk. Tidak pernah menyangka bahwa Abah dapat bersikap sangat rendah seperti ini. Ya, menurutku, menyerang orang lain di kandang sendiri adalah tindakan pengecut.

__ADS_1


“Maaf jika menyela ucapan Abah,” Andy yang dari tadi menyembunyikan raut wajah penuh emosi nampak tidak bisa lagi menahan dirinya,


“Saya hanya ingin bertanya, apa Abah tahu nama lengkap Hengky?”


“Untuk apa saya tahu?” jawab Abah ketus.


“Jika nama lengkap adik saya saja Abah tidak tahu, lantas bagaimana bisa Abah begitu bebasnya menilai Adik saya hanya dari dua kali perjumpaan singkat?”


Dagu Abah yang semula terangkat mendadak seperti tersentak turun. Ia menatap Andy kesal, “Kamu tidak bisa meremehkan intuisi orang tua, Nak!”


“Tidak Abah, itu bukan intuisi. Itu hanya kalimat kosong berupa sangkaan dan tuduhan tidak berdasar. Memang benar Papi dan Mami Hengky adalah orang yang sangat sibuk hingga amat sangat jarang sekali di rumah. Namun luar biasanya, Hengky dapat tumbuh menjadi sosok yang luar biasa tanpa kehadiran Papi dan Mami nya. Dari kecil, dia sudah biasa mengurus dirinya sendiri, masalahnya sendiri bahkan hebatnya, sedikitpun dia tidak pernah terlibat masalah apapun, baik itu di sekolah ataupun di luar,”


“Abah, Ibu atau adik-adik bisa nilai sendiri, jika Hengky adalah orang yang tidak mengenal manner, apakah mungkin dia akan sangat memuliakan keluarga wanita yang dicintainya bahkan sampai mengajak mereka ke resto termewah di kota ini?”


“Sudah Abah bilang, Naya gak butuh harta kekayaan!”


Ucapan Paman Kasim yang begitu tiba-tiba membuat pandangan mata kami beralih padanya secara bersamaan.


Paman Kasim menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia menaruh tangannya di dekat dahinya, memijat pelipisnya pelan, “Pusing banget saya ngedenger ucapan Kakak yang tiba-tiba membuat saya jadi flashback ke saat waktu Kakak menjodohkan saya dan Irina dulu.”


“Kasim, stop! Kita lagi gak bahas....” Ibu menyela ucapan Paman Hakim dengan terburu-buru, membuatku semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Seorang pelayan datang mengetuk pintu. Sambil tersenyum, ia masuk ke ruangan sambil mendorong meja pengantar makanan.


Suasana makin terasa canggung. Masing-masing dari kami menutup mulut, hanya lirikan mata penuh arti dari Paman Kasim yang mengedipkan sebelah matanya padaku yang membuatku seperti mempunyai harapan baru.


Aku melirik Hengky, wajahnya masih nampak tenang. Ucapan Abah yang terus menyerang dirinya sepertinya tidak berpengaruh terhadap mental dan kepercayaan dirinya. Ia masih sama, menaruh kedua tangannya di tas meja, postur badan tegak lurus, dan tatapan penuh keyakinan.

__ADS_1


Saat pelayan selesai menaruh semua makanan dan beranjak pergi dari ruangan, Paman Kasim tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya, “Bagaimana? Bisa kita lanjutkan?”


“Jika ini tentang omong kosong yang tadi hendak kamu bahas, mending kamu diem aja deh!” jawab Ibu ketus. Tangannya sibuk menyiapkan makanan untuk Abah, sementara matanya melirik tajam ke arah Paman Kasim.


Uwak yang dari tadi hanya mendengarkan berdehem pelan, “Maaf kalau saya ikut campur urusan kalian, tapi sebaiknya, urusan masa depan Naya, tidak perlu kita bahas di sini. Bahkan Osman saja tahu, ini bukan saat yang tepat untuk membahas masalah seperti tadi. Ayolah, bukankah kita semua sedang berbahagia karena Naya telah berhasil menyelesaikan studinya dengan baik?”


Osman mengangguk cepat, “Benar sekali! Abah... adek pengen makan dengan tenang loh. Kak Hengky pinter banget milihin kita ke resto ini. Eh, ini namanya tadi apa ya menunya, kak?”


Hengky tersenyum, “Risotto, Dek. Gimana? Osman suka?”


“Banget! Kapan-kapan kita kesini lagi yaa Kak Naya?” Osman tersenyum senang sambil melahap makanannya.


Aku mengangguk lalu ikut tersenyum melihat tingkah lucunya. Osman baru berusia sembilan tahun. Mungkin karena usianya yang belum sampai satu dekade membuatnya tidak menyadari apa yang sedang kami bahas dari tadi. Atau mungkin dari tadi pikirannya hanyalah, “kapan makananku sampai?”


“Kak Hengky baik ya, dek?” Paman Kasim bertanya lembut, memancing.


Dengan cepat Osman mengangguk, ia tersenyum lebar sambil melihat ke arah hengky, “Kapan-kapan ajak aku ke sini lagi ya, Kak?”


“Osman! Cepat habiskan makananmu!”


“Abah kenapa sih? Dari Tadi marah-marah terus. Abah lupa yaa hadist Nabi yang mengatakan, ‘Janganlah kamu marah, maka bagimu syurga’,  jadi kalau kita lagi marah, sebaiknya kita diam, atau berwudhu, atau kalau masih marah juga, kita sholat dua rakaat.”


Ucapan Osman yang diluar dugaan membuat tawa terlepas begitu saja dari mulutku. Uwak bahkan sampai terbatuk karena sedang mengunyah makanan lalu mendadak tertawa.


Wajah Abah dan Ibu memerah. Mereka tidak punya pilihan lain selain diam. Memarahi anak kecil karena perkataannya yang tidak bisa disanggah adalah perbuatan sia-sia.


“Kak Hengky, kalau nanti sudah menikah dengan Kak Naya, pokoknya wajib ajakin Osman kesini lagi ya?”

__ADS_1


Aku yang sedang menyendokkan makanan tersedak tiba-tiba, Hengky bahkan terbatuk karena terkejut. Kami saling pandang, bingung harus menjawab apa.


__ADS_2