Penjara Cinta

Penjara Cinta
Hari H


__ADS_3

91


Malam ini terasa sangat panjang. Entah mengapa aku merasa jarum jam tidak bergerak sedikitpun dari tadi. Pandangan mataku selalu tertuju pada kebaya putih yang tergantung di samping cermin.


Besok aku akan menikah?


Berbagai macam perasaan bercampur tanpa bisa ku cegah. Mengapa aku merasa khawatir? Mengapa aku juga merasakan kesedihan? Mengapa aku tidak hanya merasakan kebahagiaan?


Semua Paman, Bibi, dan saudara sepupu dari pihak Abah dan Ibu sudah berkumpul di rumah sejak dua hari yang lalu. Semua sudah selesai dipersiapkan termasuk dengan seragam keluarga, catering, mobil pengantin, janji dengan petugas di KUA, dan sistem kedatangan keluarga kami nantinya.


Anak yatim yang akan diundang ke acara pesta kecil pernikahan kami pun sudah siap berangkat besok sore. Karena mereka hanya akan datang pada acara perayaan kecil-kecilan pernikahan kami maka mereka diundang pada sore harinya.


Karena perjalanan dari rumah Hengky menuju rumahku memakan waktu sekitar tiga jam, maka Hengky dan keluarga juga sudah menginap di hotel dekat rumah kami. Semua berjalan persis seperti yang kami inginkan, tanpa kendala yang berarti.


Lalu mengapa aku merasa resah? Mengapa tanganku dari tadi mengeluarkan keringat dingin?


Tok! Tok!


“Kamu sudah tidur, Nak?” Suara Abah terdengar dari luar pintu.


Aku segera menyambar jilbab, karena aku tahu diluar kamar ada banyak saudara sepupu yang bukan mahram. Dengan gontai aku berjalan membuka pintu, “Belum, Bah...”


Abah mengerutkan keningnya saat melihat wajahku yang nampak muram, “Ada apa, Nak?”


Iya, sebenarnya ada apa denganku? Mengapa aku merasa gundah?


“Gak papa, Bah...” jawabku pelan, berusaha menyamarkan perasaan hati.


Abah berjalan masuk ke kamar lalu duduk di sofa. Ia menepuk sofa di sebelahnya, “Duduk sini...”


Aku menurut, menyeret langkah dengan gontai ke sebelah Abah.


“Perasaan kamu lagi gak nyaman ya?”


Tidak ada jawaban dariku. Aku hanya tertunduk, secara acak memandangi semut yang mondar mandir di lantai.

__ADS_1


“Ini perasaan wajar, Nak. Besok kamu secara resmi melangkah ke kehidupan baru yang belum pernah kamu bayangkan sebelumnya. Rasa takut, khawatir, itu sangat wajar. Jangankan kamu, Abah pun merasa seperti itu pada malam sebelum pernikahan Abah dan Ibu. Dan Abah juga yakin, saat ini, Hengky pun merasakan perasaan yang sama.”


Aku menoleh ke arah Abah, “Tidak apa-apa kalau aku menangis?”


Abah tersenyum, ia mengangguk lembut, “Asalkan bukan tangisan penyesalan...”


“Hengky itu bagaikan dunia yang menaungi hidupku, Bah. Aku tidak tahu jika tidak bersamanya, mungkin aku tidak akan menikah selamanya...”


“Hus! Gak boleh ngomong gitu.”


“Aku serius, Abah.”


Terdengar helaan nafas Abah. Pandangan matanya menatapku dengan serius, “Tidak ada yang bisa menjamin kehidupan kita, Naya. Bahkan lima menit yang akan datang, bisa saja gempa bumi datang dan meluluhlantakkan semuanya.”


“Ih, Abah... gak boleh ngomong gituu...” seruku memotong kalimat Abah.


“Maksud Abah, jangan menggantungkan kehidupan pada manusia. Manusia itu tidak abadi, Naya. Ada kalanya juga sifatnya akan mengecewakan kita, ada kalanya ia menghempaskan ekspektasi kita. Saat kamu terlalu berharap pada manusia, kamu harus siap suatu saat akan merasakan kecewa,”


“Abah tahu, Hengky adalah laki-laki yang baik untuk kamu. Tapi jangan lupakan, Hengky juga manusia yang mempunyai banyak keterbatasan sebagai makhlukNya. Akan ada banyak sikap dan sifatnya yang belum kamu ketahui dan akan terungkap setelah menikah nantinya. Saat kamu menggantungkan harapan terlalu tinggi padanya, kamu akan merasakan sakit yang amat sangat saat kecewa.”


“Apalagi pernikahan, Nak. Kamu mau tahu mengapa menikah disebut sebagai penyempurna agama?”


Lagi-lagi tidak ada jawaban yang keluar dari bibirku, tatapan mataku menunggu Abah melanjutkan kalimatnya.


“Karena menikah itu adalah ibadah yang paling lama dan mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Apa yang Hengky perlihatkan saat ini belum ada setengahnya dari sifat aslinya dan Abah berani bertaruh, kamu pun begitu, bukan?”


Keningku berkerut, “Tapi teman-teman Naya yang menikah terlihat baik-baik saja, Bah. Mereka jauh lebih bahagia dibandingkan sebelum menikah dulu..”


“Tapi, apa kamu bisa melihat ke dalam hati mereka? Apakah yang mereka tunjukkan di media sosial mewakili waktu 24 jam mereka bersama pasangannya?”


Ah, Abah kembali membuatku bungkam.


“Menikah tidak selamanya manis, Nak. Namun ketika kamu berumah tangga dengan agama, ilmu, dan sifat saling percaya sebagai pilarnya, menjauhi kecemburuan tidak berdasar dan saling curiga, percayalah, kamu telah membangun bangunan yang kokoh dari gigitan rayap pengganggu,”


“Ingat hadist yang menyebutkan, ‘Barangsiapa yang menikah karena ingin menumpang kemuliaan dari pasangannya, bersiaplah untuk mereguk pahitnya piala kehinaan. Barangsiapa yang menikah karena harta, bersiaplah meraih kemiskinan. Barangsiapa yang menikah karena baiknya agama seseorang, niscaya Allah akan kumpulkan baginya kemuliaan, harta, dan agama’.”

__ADS_1


-------------------------------------


Hari ini akhirnya tiba. Hari pernikahanku dan Hengky.


Tadi malam aku nyaris tidak bisa tidur. Setelah Abah keluar dari kamarku, dua orang adik sepupuku masuk ke kamar dan kami mengobrol hingga tidak menyadari suara kokok ayam telah terdengar. Saat menyadari, waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi.


Ibu yang baru bangun setelah baru tidur jam dua dini hari tadi mengomel pada dua sepupuku dan memerintahkan mereka untuk keluar. Setelahnya, matanya melotot sambil memerintahkanku untuk tidur.


Tidur selama satu jam yang tidak benar-benar tidur. Mataku terpejam namun pikiranku melalang buana entah kemana.


Sampai kemudian aku justru bangun lalu sholat malam dan tidak lama adzan subuh terdengar. Hanya berselang setengah jam dari adzan subuh, Ibu sudah mengetuk pintu kamarku lalu mengatakan bahwa MUA dan Henna artist sudah menunggu.


Dan pukul delapan pagi ini, aku sudah rapih duduk di ruang tamu, dengan kebaya putih berbahan brokat jenis french lace, serta kain songket palembang yang lumayan membuat langkah kakiku melambat.


“Ya Allaah Mbaakk... Cantik banget siih ya Allah...” Anita, karyawanku bagian admin langsung terperangah begitu melihatku.


“Kayak gak nyata gitu loh mbaak cantiknyaa....” seru Resti menambahkan.


Aku tertawa pelan, “Trus aku kayak hantu gitu?”


Anita dan Resti berebutan menjelaskan. Sementara rumah sudah penuh oleh para saudara dan tetangga. Ibu seperti biasa sangat sibuk mondar-mandir mempersiapkan kepergian kami. Abah nampak santai mengobrol bersama Paman-pamanku.


Sedangkan adikku Ali sudah hampir satu jam mematut dirinya di depan cermin besar di samping Rak TV. Tadi mengatur gaya rambut, lalu mengatur dasi kupu-kupunya, lalu sekarang ia mengubah kembali gaya rambutnya. Sifat perfeksionisnya memang mengkhawatirkan.


Sedangkan Osman nampak sangat gembira berlari keluar dan masuk rumah. Beberapa kali ia tertegun melihatku lalu bertanya polos, “Kak Naya? Kok jadi cantik banget gini?”


---------------------------------------------


Haaaii, Pembaca Setia PENJARA CINTA.... ^^


Hari ini author bakal UP sampai TAMAT.


Yuhuuuuu.... Sudah siap membaca BAB terakhir dari kisah perjalanan cinta Naya dan Hengky Season 1?


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar-nya yaa...

__ADS_1


di BAB terakkhir nanti aku menyiapkan BAB khusus loh. Baca sampai akhir yaa... ^^


__ADS_2