Penutup Noda

Penutup Noda
Merasa lapar


__ADS_3

Kemudian, Edwin langsung pergi begitu saja dari hadapan Tuan Gentaram.


Tuan Gentaram yang merasa dongkol, ingin rasanya melayangkan sebuah tinjuan pada Edwin yang menurutnya sangatlah sombong itu.


Saat itu juga, Tuan Gentaram baru tersadar jika lelaki yang menolong putrinya itu adalah anak dari keluarga Galeyandra.


"Bukankah tadi itu si Edwin putranya Topan yang dinyatakan gagal dalam pernikahan karena tidak bisa mempunyai keturunan? pantas saja, orang sombong seperti dia tak pantas untuk diberi kebahagiaan." Gumam Tuan Gentaram masih dengan perasaan dongkol.


Sedangkan Edwin masih dalam perjalanan pulang dengan perutnya yang terasa begitu sangat lapar.


Sampainya di rumah, Edwin langsung menuju dapur untuk mencari makanan yang sekiranya bisa dijadikan pengganjal perutnya.


"Bik Inah." Panggil Edwin dengan suaranya yang cukup keras. Bahkan, begitu nyaring nya suara Edwin.


"Ya Tuan." Sahut Bibi Inah sambil berjalan dengan langkah kakinya yang cukup gesit.


"Tolong buatkan saya makan malam, mau mie kek, nasi goreng kek, atau apalah, yang penting bisa dimakan." Perintah Edwin yang sudah terasa sangat lapar karena gagal makan malam bersama kedua orang tuanya dan adik perempuannya.

__ADS_1


Sambil menunggu masakan Bi Inah matang, Edwin masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya baju tidur.


"Edwin, kamu baru pulang?" tanya sang ibu yang mendapati putranya hendak menapaki anak tangga.


"Ya Ma, tadi akunya kena sial. Untungnya saja, tidak harus menginap." Jawab Edwin dengan lesu. Kemudian, ia segera masuk ke kamarnya.


"Tunggu."


"Ada apa lagi sih Ma? aku mau ganti baju dan juga mau mengisi perut, aku belum makan." Jawab Edwin ketus.


"Ya, Ma." Jawab Edwin dan naik ke tangga menuju kamarnya.


Sesudah itu, Edwin kembali ke ruang makan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan dan minta untuk segera diisi makanan.


Sampainya di ruang makan, Edwin melahapnya seperti orang kelaparan. Tak membutuhkan waktu lama, nasi goreng plus telor ceplok di piringnya pun tandas tak tersisa apapun di piringnya.


Kemudian, Edwin kembali lagi ke kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Rasa kantuk dan capek telah menjadi satu, dengan mudahnya Edwin langsung tidur dengan pulas. Tidak seperti biasanya yang sulit untuk tidur. Bahkan jarang sekali dirinya dapat memejamkan matanya.


Pagi hari, Edwin sudah terlihat rapi dan siap untuk berangkat ke kantor. Sambil menuruni anak tangga, Edwin mengenakan jam tangannya dengan susah payah.


"Cie ... gantengnya Kak Edwin." Ledek Kenaya saat mendapati aura yang terpencar di wajah sang kakak.


"Tidak usah ngeledek, aku lagi malas menanggapi ucapan mu itu." Jawab Edwin sambil menarik kursinya.


"Biarin aja, habisnya Kakak itu dingin banget kek es batu. Senyum kek, tebar pesona kek, ngelawak juga boleh." Ucap Kenaya sambil mengolesi roti dengan selai.


"Lebih baik kamu itu diam, habiskan dulu rotinya." Sahut Edwin sambil menyuapi diri sendiri dengan nasi goreng campur udang kesukaannya.


"Sudah, sudah. Kalian berdua ini selalu saja bikin berisik, habiskan dulu sarapannya." Timpal sang ibu yang tengah menikmati nasi goreng.


Berbeda dengan Kenaya, justru perutnya terasa mual apabila diawali paginya dengan nasi goreng. Kenaya lebih menyukai roti atau sup lainnya untuk sarapan, ketimbang harus nasi.


Sedangkan Edwin lebih menyukai Nasi goreng. Apalagi ada udangnya, semakin berselera untuk makan.

__ADS_1


__ADS_2