
Edwin masih diam membisu, tak menjawab pertanyaan dari ibunya.
"Ayo, Nak, temani istri kamu. Kasihan Aluv, dan juga bayi yang akan dilahirkan. Bayi itu tak lagi mempunyai seorang ayah, apakah kamu akan setega itu dengan bayi yang tak berdosa?"
Bunda Holena yang merasa tidak tega melihat menantunya berjuang sendirian, Beliau berusaha untuk mengingatkan putranya. Berharap, hatinya akan terketuk dan mau menerima kehadiran anak yang dilahirkan oleh istrinya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari ibunya, Edwin bergegas masuk ke ruang persalinan istrinya.
Aluv yang sedari tadi menahan rasa sakit yang begitu benar karena kontraksi, sebisa mungkin untuk tetap tegar walaupun terasa begitu pahit melebihi pahitnya obat.
Segala resikonya, Aluv sudah siap menerima takdirnya. Tidak peduli baginya jika tidak mendapatkan perhatian dari sang suami, Aluv tetap pada tujuannya untuk melahirkan calon anaknya dengan selamat, meskipun nyawa yang harus dijadikan taruhannya.
"Ayo, tarik napasnya perlahan. Jangan terburu-buru, atur dulu pernapasan kamu." Ucap seorang dokter yang tengah membantu persalinan pasiennya.
Saat itu juga, Edwin sudah berada di dekatnya.
"Kamu, dari mana saja. Lihatlah istrimu, sedari tadi menahan kontraksi dan kamu tidak mendampinginya." Ucap Dokter Elsa yang merasa geram ketika melihat temannya tidak begitu perhatian dengan istrinya.
"Aku ada urusan, makanya aku baru bisa masuk." Jawab Edwin beralasan.
"Suami macam apa, kamu ini." Tuduh Dokter Elsa dan kembali mengurus persalinan istri temannya.
Edwin yang berada di dekat istrinya, hanya bisa diam sedingin es batu.
"A! ya." Kata Edwin dengan reflek saat Dokter Elsa menepuk punggungnya.
"Berpeganglah pada tanganku, agar kamu leluasa untuk meng*ejan." Ucap Edwin pada istrinya, Dokter Elsa hanya melirik dengan sekilas.
Karena memang temannya itu mempunyai sikap yang dingin dan juga karakter yang keras kepala, Dokter Elsa tidak begitu mencurigai dengan hubungan pernikahan diantara Edwin dengan Aluv.
Aluv mengangguk ketika suaminya memberikan lengannya untuk pegangan. Dengan fokus, semua yang ada di ruangan tengah menangani pasien yang sedang melakukan persalinan.
Aluv terus meng*ejan disertai dengan kontraksi yang terasa durasinya sangat cepat dan semakin cepat kontraksinya.
Dengan sabar, Dokter Elsa menuntun dan memberi arahan pada pasiennya untuk meng*ejan.
Sedangkan Aluv terus mengikuti arahan dari Dokter Elsa dan tak lepas mencengkram lengan suaminya cukup kuat dan menyisakan luka karena kukunya yang menekan saat menahan rasa sakit ketika meng*ejan.
Seketika, Aluv merasa lega dan badan terasa lemas ketika bayinya lahir dengan selamat dan suara tangisan yang cukup melengking.
Edwin yang mendengar tangisan bayi, hatinya terasa teriris perih. Harapan yang pernah ia nanti nantikan, rupanya pupus begitu saja tanpa meninggalkan kenangan indah walau hanya sekedar tangisan bayi.
Edwin yang tidak kuasa menahan kesedihannya sendiri, ia langsung pergi meninggalkan sang istri. Aluv kaget dibuatnya, tapi dirinya tak mempunyai hak atas sikap suaminya sendiri.
__ADS_1
Bahkan, Aluv sendiri tidak bisa menyimpulkan apa yang menjadikan suaminya keluar dan meninggalkan sendirian di kamar bersalin.
Menangis, percuma. Aluv berusaha untuk tetap tegar, setidaknya suaminya sudah menemaninya hingga anak dikandungnya lahir ke dunia dengan selamat.
Aluv sendiri menyadari, karena anak yang dilahirkannya itu bukanlah anaknya. Melainkan anak dari adik kandungnya sendiri.
Lain lagi dengan Dokter Elsa, dirinya merasa heran dan juga mencurigai temannya sendiri yang tiba-tiba pergi begitu saja. Bahkan kebahagiaan saja tidak nampak dari raut wajahnya.
"Selamat ya Nona, sekarang sudah menjadi seorang ibu, bayinya lahir dengan sempurna dan sehat. Bayi Nona telah lahir dengan berjenis kelamin laki-laki." Ucap Dokter Elsa sambil menunjukkan bayinya.
Seketika, Aluv meneteskan air matanya. Tidak tahu harus berkata apa, dirinya sulit untuk mengungkapkan perasaan bahagia maupun perasaan bersedih.
Bahagia, karena bayinya telah lahir dengan selamat. Bahkan, wajahnya begitu mirip dengan ayah biologisnya. Ingatannya pun kembali pada kekasihnya yang bernama Erwan.
Rasa sedih, bayi yang dilahirkan tidak lagi mempunyai seorang ayah. Tentu saja, hati seorang ibu akan cenderung bersedih ketika melihat bayinya tak seberuntung bayi yang lainnya. Meski ada juga yang nasibnya jauh lebih menyakitkan.
Dokter Elsa yang mendapati pasiennya menangis, segera menyerahkan bayinya pada perawat.
"Nona, kenapa menangis?"
"Tidak apa-apa kok, Dok. Saya hanya terharu karena sekarang ini sudah resmi menjadi seorang ibu." Jawabnya dengan senyum yang terpaksa.
'Apakah pernikahannya tidak bahagia? sampai-sampai harus ada air mata oleh istrinya Edwin.' Batin Dokter Elsa penuh tanda tanya.
Sedangkan Edwin yang sudah keluar dari ruang bersalin, ia langsung duduk dengan posisi menunduk sambil memijat pelipisnya.
"Bagaimana keadaan istri kamu? bayinya lahir dengan selamat, 'kan? laki-laki atau perempuan." Tanya sang ibu penuh khawatir.
"Bayinya selamat dan juga sehat, serta tidak ada kekurangan apapun, untuk jenis kelaminnya laki-laki." Sahut Dokter Elsa yang akhirnya mewakilkan jawaban dari Edwin.
"Dokter Elsa, kamu rupanya, Nak. Sudah lama tidak pernah bertemu, bagaimana kabarmu dan Viktor, suami kamu? Tante tidak menyangka jika kita akan bertemu lagi." Ucap Bunda Holena yang tiba-tiba dikejutkan dengan sosok Dokter Elsa.
"Tante Holen, kabar saya sangat baik, begitu juga dengan suami. Selama ya, Tante, sekarang sudah mempunyai cucu laki-laki." Jawab Dokter Elsa dengan senyumnya yang ramah.
"Ya, terimakasih atas ucapannya. Kabar menantu Tante, bagaimana kondisinya? Tante sangat khawatir."
"Keadaan menantu Tante, baik-baik saja. Sekarang sedang ditangani. Tante tidak perlu cemas dan juga khawatir. Kalau begitu, saya tinggal dulu, Tante."
"Ya, silakan. Terimakasih banyak sudah membantu persalinan menantu Tante."
"Sama-sama, Tante."
Setelah itu, Dokter Elsa segera kembali melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Kini, tinggallah Edwin dan ibunya.
"Kenapa kamu tinggalkan istri kamu, Edwin? seharusnya kamu temani Aluv."
"Edwin sudah bilang sama Mama, bahwa Edwin tidak sanggup melihatnya. Apalagi mendengar tangisan bayi, Edwin tak kuasa, Ma."
"Setidaknya kamu memberi perhatian untuk istrimu, kasihan Aluv."
"Ada apa ini? dimana putriku?"
"Tenang dulu, Tuan Gentaram. Mungkin saja putrimu sedang ditangani oleh perawat atau Dokter, sabar dulu jangan terburu-buru." Sahut Tuan Topan Galeyandra ikut menimpali.
"Bagaimana aku bisa tenang, melihat keadaan putriku saja belum." Ucap Tuan Gentaram.
"Tenang. Tenang dulu, Aluv dan bayinya baik-baik saja." Timpal Bunda Holena ikut bicara.
"Dan kamu suaminya, kenapa kamu tidak menemani istrimu?"
Dengan perasaan dongkol ketika mendapati menantunya tengah duduk di hadapannya, Tuan Gentaram memaki menantunya.
Tidak menjawab pertanyaan dari ayah mertuanya, Edwin lagsung bangkit dari posisinya dan pergi begitu saja.
"Da*sar! menantu tidak mempunyai etika." Tuan Gentaram yang merasa geram, tidak peduli jika harus memberi umpatan untuk menantunya.
Tuan Topan yang malas ribut, Beliau hanya diam saja.
"Maaf, pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat. Jadi, sekarang juga boleh menemuinya di ruang rawat anggrek nomor tiga kosong lima." Ucap seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang bersalin.
"Terimakasih." Jawab Bunda Holena dan ibunya Aluv.
Edwin yang merasa penat, ia memilih ke suatu tempat yang dapat membuatnya bisa menenangkan pikirannya.
"Hei! Bro. Kamu ngapain disini? aku dengar, bahwa istrimu melahirkan. Bukannya menemani, ini duduk sendiri dan termenung. Kenapa lagi denganmu? apa ada masalah dengan istrimu? kasihan istrimu jika sampai kesehatannya terganggu, Bro."
Edwin menoleh, lalu kembali ke posisi semula.
"Yah! cuman menoleh doang, cerita kenapa. Ada masalah apa kamu ini sebenarnya? jangan dipendam, nanti tidak bisa muncul."
"Jangan melucu, aku sedang tidak ingin melihatmu melawak."
"Terus, masalah kamu itu apa? bukannya senang istrinya melahirkan, justru kamu merenung begini. Kasihan istrimu jika sampai terjadi babby blouse, bisa fatal dan imbasnya pada bayinya dan juga istri kamu sendiri."
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu, haruskah aku bahagia atau bersedih. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku saja, dan aku tidak ingin meluapkan segala emosiku di depan mereka, keluargaku dan juga keluarga istriku." Jawab Edwin yang masih merasa dilema dengan apa yang harus ia terima.
__ADS_1