
Nuza yang mendapati sosok Edwin sudah duduk di dekat perempuan yang sangat dicintainya itu, hatinya terbakar api cemburu.
Ingin sekali rasanya melayangkan sebuah tinjuan pada lelaki yang ada dihadapannya itu, dirinya tak kuasa dan tentunya tak ada hak apapun untuk menghajar.
Tak ingin berlama-lama melayani, Nuza bergegas pergi.
"Tunggu," panggil Edwin pada Nuza yang hendak memutar balikkan badan. Kemudian ia kembali menoleh kebelakang.
"Maaf. Ada apa, Tuan?"
"Saya pesan menu makan yang sama seperti punya istri saya." Jawab Edwin sambil menunjuk pada makanan yang ada dihadapan sang istri.
"Ooh, baik. Tunggu sebentar, saya akan pesankan." Ucap Nuza disertai anggukan dan segera kembali.
Aluv sendiri langsung menatap pada suaminya yang terlihat aneh itu.
"Kenapa Kak Edwin tidak di kantor?" tanya Aluv karena penasaran dengan suaminya yang tiba-tiba sudah datang.
"Oooh, jadi kedatanganku ini sudah mengganggu kamu, gitu ya? bilang dong dari tadi."
"Bukan itu yang aku maksud, ya aku cuma heran saja. Bukannya Kak Edwin sedang ada di kantor? terus, kenapa tiba-tiba sudah ada di restoran? gak masuk di akal."
"Bilang aja kalau kamu ingin bertemu dengan pelayan tadi, jawab aja dengan jujur." Ucap Edwin dengan kesal atas kecemburuannya.
Ibunda Holena semakin bingung dengan sikap putranya yang begitu aneh.
Begitu juga dengan Aluv, dirinya sendiri merasa bingung dengan sikap suaminya.
"Aku. Maksud Kak Edwin itu, aku datang ke restoran ini hanya untuk bertemu dengan pelayan tadi?"
__ADS_1
"Ya, alasan apa lagi coba, kalau bukan ingin bertemu." Tuduh Edwin pada istrinya, Ibunda Holena justru tersenyum ketika mendapati putranya tengah cemburu.
"Yang ngajakin ke restoran ini itu, Mama. Aluv terlihat mau menolak, tetapi akhirnya ikut ajakan Mama. Jadi, ini bukan salah istri kamu, tetapi salah kamu yang sudah cemburu pada Aluv, istri sendiri." Ucap Ibunda Holena dengan senyum.
Edwin yang merasa terpojok dan tertangkap basah oleh ibunya, langsung menyerobot makanan milik istrinya. Aluv sendiri tersenyum bahagia ketika suaminya mulai ada rasa cemburu, yang artinya dirinya mulai berhasil untuk mengambil hatinya.
Karena apa? aluv sengaja ingin mendapatkan suaminya tidak sekedar perhatian, melainkan cintanya juga. Untuk siapakah cinta itu akan diberikan? tentu saja untuk anak yang akan dilahirkannya nanti akan mendapatkan kasih sayang dari ayah sambungnya bak ayahnya sendiri.
Semua itu pasti butuh proses, dan tidak semudah membalikkan telapak tangan, pikir Aluv yang terus terbayang dengan nasib anaknya ketika lahir.
"Maaf, jika pesanannya sedikit terlambat." Ucap seorang pelayan yang rupanya bukanlah Nuza.
Edwin mengangguk, sedangkan Aluv hanya diam.
"Sudahlah, ayo kita makan. Jangan membahas soal pribadi di tempat umum, kita jaga privasi satu sama lain." Ucap Ibunda Holena mengingatkan putranya serta menantunya juga.
Dengan diam sambil menikmati makan siangnya, tak ada satupun yang berbicara sepatah kata diantara Ibu dan anak maupun menantu.
"Aw! sialan. Siapa yang berani-beraninya melempar botol minuman di kepalaku, bakal aku hukum itu orang." Pekiknya sambil mengusap bagian kepalanya yang terasa sakit karena lemparan dari botol minuman.
Sedangkan kedua temannya tengah tertawa ketika melihat temannya ketiban sial.
"Ketawa, lagi. Tidak ada yang lucu, sakit nih."
"Gimana kita tidak tertawa, memang lucu, Bro."
"Mas, mas, yang lempar melempar botol minuman itu, mbak cantik yang sedang duduk di sana." Ucap seseorang yang melihat kejadian tersebut dan menunjukkan ke arah yang melempar botol minuman.
"Ah ya, itu dia anaknya. Terimakasih banyak ya, Pak." Jawabnya tak lupa berterima kasih.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, segera menghampirinya karena merasa tidak terima atas perbuatannya itu yang sudah melempar botol minuman padanya.
"Aw! sakit,"
Tidak kala kagetnya saat punggungnya mendapat pukulan dari botol minuman.
"Ini punya kamu, 'kan?" tanyanya sambil menunjukkan botol minuman yang sama persis dengan botol minuman yang ada didekat perempuan itu.
"Bukan punyaku, botol minuman yang merk-nya sama kan, banyak." Jawabnya dengan jutek, setidaknya berjaga-jaga agar tidak mudah untuk di bohongi.
"Sudah salah tidak mau mengaku, lagi."
"Ya memang itu botol minuman bukan milik saya, kok disuruh mengakui. Enak saja, bilang saja kalau mau cari mangsa."
"Cari mangsa, kamu bilang? enak aja. Kamu pikir, aku lelaki apaan? jaga mulutmu kalau bicara. Tinggal mengaku saja apa salahnya coba, hem."
"Dih, ogah. Punya salah juga tidak, kok disuruh mengaku salah, aku tidak akan mau."
Karena tidak sabar dan ingin membuktikan siapa yang salah, segera menarik perempuan yang juga tidak mau mengaku.
Entah kenapa, sesuatu yang sangat sepele dibuatnya masalah besar. Bahkan, seperti tidak ada kerjaan lain yang harus dikerjakan.
"Lepaskan tanganku, mau dibawa kemana akunya?"
"Diam. Nanti kamu akan tahu sendiri."
Sedangkan kedua temannya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena melihat temannya seperti orang yang kekurangan pekerjaan.
"Lihat itu, benar-benar sudah konyol teman kita, Bro."
__ADS_1
"Ya ya, mungkin efek lama jomblo kali, ya."
"Bisa jadi, doakan aja mereka berdua berjodoh." Ucapnya.