
Dengan terpaksa, Naya mengajak Nuza ke belakang rumah. Dengan santai, Nuza mengikutinya.
Ketika sudah berada di belakang rumah, Naya memilih tempat yang cocok untuknya bersantai. Tidak peduli dengan Nuza yang mau mengikutinya atau tidak, Naya memilih tempat yang ia sukai.
"Hei, tunggu."
Nuza langsung menghentikan langkah kaki Naya tanpa menyebut namanya.
"Namaku Naya, bukan Hei." Ketus Naya sambil berkacak pinggang dan tanpa disadari, di dekatnya ada kolam renang.
Dengan berani, Nuza mendekatkan diri dihadapan Naya. Bahkan, jarak diantara keduanya sangatlah dekat.
Menggeser posisinya sedikit saja, Naya jatuh ke kolam renang.
"Jangan mendekat." Kata Naya memberi peringatan, meski kenyataannya sudah begitu dekat jaraknya.
Bukannya mundur, justru Nuza semakin mendekat.
"Aaaaa!" teriak Naya saat kakinya terpleset.
Dengan sigap, Nuza langsung menangkap dan menarik kuat tubuh milik Naya yang hampir saja terjatuh ke kolam renang. Tanpa sengaja, bibir Naya menempel pada bibir milik Nuza karena tarikan yang cukup kuat.
Detak jantung Naya berdegup sangat kencang. Bukan karena jatuh cinta, melainkan ketakutan karena kakinya yang terpleset dan mengakibatkan dirinya menc*ium bibir milik Nuza tanpa disengaja.
Bukannya saling melepaskan, justru keduanya masih tercengang satu sama lain. Nuza memejamkan kedua matanya, seakan menikmati sent*uhan itu.
"Aw! sakit, tau. Aw! sialan, kamu. Ini bibir, bukan daging, main gigit saja bibirku." Pekik Nuza kesakitan. Kemudian memeganginya, ia mendapatkan darah segar yang keluar akibat gigitan dari perempuan yang akan menjadi istrinya.
"Ganas juga kamu ini, sudah kek drakula aja." Tuding Nuza sambil menahan sakit pada bibirnya yang pecah karena ulah calon istrinya itu.
"Bodoh amat, salah sendiri narik kuat. Bilang aja kalau kamu itu sengaja agar aku menc*ium kamu, das*ar mes*um."
"Ngatai aku me*sum segala, yang me*sum tuh kamu. Kamu sudah mencuri bibirku, dan kamu harus bertanggung jawab. Lihatlah, bibirku sudah ternodai dan terluka karenamu."
"Dih, harus bertanggung jawab. Aku tidak mau, itu kesalahan kamu sendiri. Enak aja, minta aku bertanggung jawab."
"Ekhem! kalian berdua kenapa?"
__ADS_1
"Papa, Mama."
"Papa, Mama."
Keduanya sama terkejutnya saat dipergoki oleh kedua orang tuanya masing-masing.
Malu, itu sudah pasti. Ditambah lagi dengan kejadian yang sudah dilewati oleh Naya dan juga Nuza, tentunya membuat keduanya merasa sangat malu. Lebih lagi Naya sendiri, yang mana dirinya sudah melakukan kesalahan karena sudah mengigit bibir milik Nuza, lelaki yang akan dijadikan suaminya nanti.
'Mam*pus, aku. Pasti mereka berempat sudah melihat semuanya lewat rekaman CCTV. Sialan, kenapa aku tidak memikirkannya sampai disitu. Bodohnya aku ini, oooh Naya, Naya.' Batin Naya menyalahkan diri sendiri karena kecerobohannya.
"Kalian berdua sangat cocok untuk dijadikan pasangan suami istri." Ucap Tuan Daka dan tersenyum.
"Pa, apa-apaan sih."
"Sudahlah, ayo kita masuk kedalam rumah. Kita akan bicarakan semuanya, termasuk pernikahan kalian berdua." Ucap Tuan Daka pada putranya.
Mau tidak mau, tidak ada yang berani menentang keputusan yang sudah tidak bisa untuk diganggu gugat.
'Yang benar saja, aku akan menjadi ipar seseorang yang sangat aku cintai.' Batin Nuza sambil berjalan dibelakang orang tuanya.
Saat sudah berada di ruang tamu, semuanya kembali duduk dan melanjutkan obrolannya mengenai keputusan untuk menjodohkan putra-putrinya.
.
.
.
Sedangkan dalam perjalanan pulang, Aluv tengah sibuk memikirkan kondisinya yang sedang hamil yang menurutnya tidak masuk akal. Sekilas, Aluv menoleh pada suaminya.
Saat itu pun, Edwin juga menoleh pada istrinya dan keduanya saling menatap satu sama lain meski hanya sekilas, karena posisi Edwin yang harus fokus dengan setirnya.
Karena ingin terjadi sesuatu perdebatan didalam rumah, Edwin memilih untuk menepikan mobilnya.
Kemudian, Edwin menoleh istrinya sedikit menyerong dengan posisi duduknya.
"Sayang, kamu kenapa? kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Edwin khawatir.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, kenapa berhenti?"
"Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu, katakan saja padaku, apa yang sedang kamu pikirkan? apakah karena jawabanku di rumah sakit tadi telah melukai hatimu?"
Aluv menggelengkan kepalanya. Kali ini, perasaannya lebih sensitif dari sebelumnya.
"Katanya Kak Edwin tidak bisa mempunyai keturunan, kenapa hasilnya positif? Kak Edwin sedang tidak membohongiku, 'kan?"
"Justru itu, aku sendiri bingung. Bahkan, aku dan Sora sudah melakukan pemeriksaan di luar negri. Tapi, hasilnya tetap sama dengan yang di dalam negri." Jawab Edwin yang masih belum bisa untuk memecahkan permasalahannya sendiri.
Aluv sendiri masih diam, dirinya sendiri juga ikutan merasa bingung. Antara harus percaya atau tidak, jika pernikahannya baik-baik saja ataukah ada dalang dalam selimut sendiri.
"Aku akan melakukan pemeriksaan ulang di rumah sakit yang belum pernah aku datangi dan aku akan melakukan penyamaran, itu jalan satu-satunya dengan menyembunyikan identitas diriku. Kalau kenyataannya aku benar-benar sehat tanpa ada riwayat apapun, berarti Sora lah dalangnya." Ucap Edwin yang mulai menebaknya.
"Kamu yakin jika mantan istri kamu pelakunya?" tanya Aluv.
"Ya, siapa lagi? memangnya kamu bisa menebaknya? karena aku merasa hanya ada hubungan dengannya saja, tentu saja aku menebaknya dia dalangnya." Jawabnya dan balik memberi pertanyaan untuk istrinya.
"Aku rasa bukan, karena seorang dalang tidak akan menampakkan wajahnya dan tetap fokus dengan jalan ceritanya yang sudah dibuat." Kata Aluv dengan cara berpikirnya.
"Sudahlah, kamu tidak perlu ikut pusing memikirkan masalah ini. Biarkan aku sendiri yang akan mencari tahu siapa yang sudah menghancurkan-ku. Yang jelas aku sangat bahagia mendengar kabar bahwa kamu hamil, karena ini adalah penantian aku dari dulu. Terimakasih banyak ya, sayang, atas hadiah yang sangat berharga darimu." Jawab Edwin yang tidak ingin kesehatan istrinya terganggu, lebih lagi dengan kondisinya yang dinyatakan hamil.
Saat itu juga, Edwin langsung mendaratkan ciu*mannya tepat pada kening milik istrinya.
Aluv tersenyum bahagia pada suaminya, lantaran perhatian yang begitu besar ia dapatkan.
Begitu juga dengan Edwin, dirinya harus menjaga baik-baik kandungan istrinya. Ditambah lagi hasil beni*hnya sendiri, tidak mungkin juga seorang Edwin menyia-nyiakannya karena sebuah enantian yang sudah lama dinantikannya.
"Selagi masih dalam perjalanan, apakah kamu ingin membeli sesuatu? buah segar atau makanan kesukaan-mu."
"Aku sedang tidak ingin apa-apa, kita pulang saja. Kasihan Radien, aku takut dia menangis karena mencariku."
"Baiklah, jika tidak ada yang kamu inginkan. Kalau begitu, kita pulang."
Karena jarak antara rumahnya dengan rumah sakit tidak terlalu jauh, Aluv dan Edwin telah sampai di depan rumah.
Dilihatnya ada mobil yang tidak begitu asing, keduanya bertanya-tanya didalam benak pikirannya masing-masing.
__ADS_1
'Itu kan, mobilnya Paman Daka, ada perlu apa Paman datang ke sini?' batin Aluv bertanya-tanya.
'Seharusnya tidak didepan rumah aku menghentikan mobilku, mereka berdua pasti akan bertemu lagi.' Batin Edwin yang mulai cemas dan juga cemburu pastinya.