
Edwin yang penasaran, sejenak dirinya berpikir.
"Kalau boleh tahu, siapa namanya?" tanya Edwin.
"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak mengenalinya, karena saya sendiri belum lama bekerja di kantor Tuan." Jawabnya.
"Ah ya, aku sampai lupa. Ya sudah, suruh dia masuk." Ucapnya memberi perintah.
"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi." Jawabnya yang langsung balik badan dan segera keluar dari ruangan tersebut.
Edwin yang penasaran, tiba-tiba ponselnya bergetar. Yang berarti ada sebuah pesan masuk ke nomor ponselnya.
Karena rasa penasaran, Edwin membuka pesan yang masuk.
"Edwan, tumben sekali itu anak mengirim pesan padaku." Gumamnya dan langsung membaca pesan darinya.
"Reuni besok malam, buang-buang waktuku saja." Gerutunya dan langsung meletakkan kembali ponselnya.
__ADS_1
Saat ponselnya diletakkan di atas meja, terdengar kembali suara getarannya. Karena Edwin pikir yang kirim pesan yang tidak lain adalah Edwan, dirinya memilih untuk mengabaikannya.
"Apa kabarnya, sayangku." Ucap seorang perempuan dengan suara manja yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya dan juga langsung mencium pipi sebelah kanan milik Edwin tanpa disadarinya akibat fokus dengan sebuah pesan dari Edwan.
Seketika, Edwin langsung bangkit dari posisi duduknya sambil meraih tissue di atas meja kerjanya dan tanpa canggung untuk mengelap pipinya yang baru saja mendapat ciuman dari seorang perempuan.
"Sora, rupanya kau. Ada perlu apa kamu datang menemui-ku? cepat, keluarlah."
"Sayang, aku kangen banget sama kamu. Kedatanganku kesini mau minta maaf sama kamu, dan kita kembali lagi seperti dulu. Aku akan menerima kamu apa adanya, aku benar-benar sangat menyesal." Jawabnya sambil menatap Edwin dengan tatapan memohon.
Edwin yang mendengarkannya pun, menatapnya dengan sinis.
"Aku tidak peduli dengan yang aku lakukan ini, aku hanya ingin kita kembali. Aku mengaku salah, dan aku akan berubah menjadi lebih baik lagi hanya untukmu, sayang." Jawabnya sambil memainkan dasi yang dikenakan Edwin.
"Lepaskan tanganmu ini, jangan memancingku." Ucap Edwin yang mulai terasa bergemuruh didalam dadanya karena harus mendapati sosok perempuan yang berpenampilan sangat se*ksi itu.
Has*rat yang tidak pernah tersalurkan yang cukup lama, tiba-tiba dirinya harus mendapatkan godaan. Ditambah lagi hanya dua insan didalam ruang kerjanya, tentu saja otaknya terasa panas. Rasa benci dan tergoda harus menjadi satu, pastinya seperti bom yang akan meledak.
__ADS_1
Perempuan yang ada dihadapannya itu terus bermain dengan kedua tangannya untuk menggoda mantan suaminya yang sudah pernah ia lakukan saat menginginkan hal lebih dari mantan suaminya dulu.
Detak jantung milik Edwin mulai tidak terkontrol, dan otak kotornya bekerja dengan sangat aktif.
"Ayolah sayang, kita kembali lagi seperti dulu. Aku yakin, kamu merindukan kepu*asan dariku. Aku akan melakukannya sekarang juga jika kamu sudah tidak tahan dan sangat menginginkan." Ucap Sora berbisik didekat telinga Edwin, lantaran tinggi badan diantara keduanya hampir sama, karena Sora adalah seorang model.
Edwin yang mendapatkan bisikan dari mantan istrinya itu, otak kotornya terus bekerja dengan sangat cepat. Bahkan napasnya terasa memburu, dan tentunya mulai tergoda dengan mantan istrinya itu.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa Sora memiliki tubuh yang sangat se*ksi dan juga lihai dalam menggoda. Ditambah lagi dengan sosok Edwin yang sudah sekian lama tidak mendapatkan sent*uhan dari seorang perempuan, yang pastinya Edwin merasa tergoda karena dirinya sendiri tidak satu kali dua kali melakukan hubungan suami istri.
Sedangkan di luaran sana, Aluv dan Naya baru saja sampai di kantor. Dengan langkah yang terburu-buru karena takut berkasnya sudah ditunggu, dengan hati-hati Aluv berjalan.
Karena sudah mengetahui sosok Kenaya, satupun tidak ada yang berani melarang kehadiran Naya di kantor kakaknya. Tanpa meminta izin pun, Naya sah-sah saja masuk ke ruang kerja Edwin.
"Nay, masih jauh ya, ruangannya?" tanya Aluv sambil berjalan beriringan dengan adik iparnya.
"Sebentar lagi sampai kok, Kak." Jawab Naya sambil menunjuk arah menuju ruang kerja kakaknya.
__ADS_1
Sedangkan didalam ruang kerja, Edwin terus mencoba untuk menahan diri dari godaan dari mantan istrinya. Mau bagaimanapun, Edwin sadar diri jika statusnya saat ini ada sudah beristri.