
Edwin akhirnya tersenyum tanpa sepengetahuan istrinya, dan segera ia mengunci pintunya.
"Sudah sore, lebih baik kamu mandi duluan saja. Handuknya sudah ada di kamar mandi." Ucap Edwin dengan santai.
"Ya, Kak." Jawabnya singkat.
Karena tidak ingin memiliki banyak urusan dengan suaminya, Aluv bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena badan terasa lengket.
Ketika sudah berada didalam kamar mandi dan tak lupa melepaskan semuanya tanpa berpikiran yang tidak-tidak, dengan santainya Aluv membersihkan badannya hingga selesai.
Aluv pun tersadar atas kelalaiannya, sangat menyesalinya.
"Bodohnya aku, kenapa aku langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Seharusnya aku mengambil baju gantinya dulu, terus aku harus bagaimana? oh tidak." Gumamnya sambil mengenakan handuk biasa.
Aluv benar-benar frustrasi karena kelalaiannya, dan tidak seharusnya bersikap ceroboh. Tidak ada pilihan lain, Aluv terpaksa keluar hanya mengenakan handuk yang bisa dililitkan.
Dengan hati-hati ketika membuka pintu kamar mandi, berharap tidak akan memancing naf*su suaminya. Hanya karena sebuah ciu*man, Aluv harus memu*askan has*rat suaminya.
Apalagi yang sekarang ini hanya mengenakan handuk yang dililitkan saja, yang pasti sangat menggoda suaminya, pikir Aluv dengan segala ketakutannya.
Dengan percaya diri dan memberanikan diri, Aluv akhirnya membuka pintu kamarnya.
Berapa terkejutnya saat mendapati suaminya tengah duduk di atas tempat tidur sambil meluruskan kedua kakinya.
Aluv dan suami sama-sama saling menatap satu sama lain. Malu, itu pasti. Meski anggota tubu*hnya sudah dinikmati oleh suaminya, tetap saja menyisakan rasa malu walaupun hanya bermain saja.
"Cepat kamu pakai pakaianmu, jangan sampai aku yang memakaikan baju untukmu." Ucap Edwin dan bergegas bangkit dan pergi ke kamar mandi.
Acuh tak acuh, Edwin berusaha untuk menghindari istrinya yang hanya menggunakan handuk saja. Takut, jika dirinya menginginkan sesuatu yang tengah ia tahan.
__ADS_1
Aluv yang merasa lega ketika melihat suaminya masuk ke kamar mandi, segera mengenakan baju ganti.
Takut, itu sudah pasti. Dengan terburu-buru, Aluv mengenakan pakaiannya.
Sedangkan Edwin sendiri tak mampu menepis apa yang sudah dilihatnya, sebisa mungkin untuk tidak terbawa arus oleh otak kotornya.
Aluv yang mengenakan baju ganti, lanjut untuk menyisir rambutnya yang lurus sebahu dan mengucirnya serta menyisakan lehernya yang begitu mulus.
Edwin yang sudah selesai membersihkan diri, ia berjalan menuju lemari untuk mengambil baju gantinya serta mengenakannya sambil berjalan mendekati istrinya. Aluv sendiri tidak menyadarinya, jika sang suami sudah berdiri di dekatnya.
Pandangan Edwin tidak tertuju pada cermin, melainkan pada sesuatu yang menggoda.
'Ah! sial, kenapa aku semakin menggebu ketika berada di dekatnya. Ku akui, dia ini sangat lihai ketika memanjakan diriku, terasa ingin lebih dari itu.' Batinnya yang mulai tergoda naf*sunya.
Bagaimana tidak tergoda, selain lelaki normal, sudah sekian lamanya tidak pernah mendapatkan sent*uhan dari seorang perempuan.
"Kalau sudah selesai dan tidak ada lagi yang mau dilakukan, lebih baik kamu pindah dari posisimu yang sekarang." Ucap Edwin mengagetkan istrinya.
Aluv pun terperanjat, sampai dirinya lupa tengah hamil.
"Maaf, aku tidak tahu jika Kak Edwin sudah selesai mandinya." Jawab Aluv dengan gugup.
'Sial! sial! perempuan ini benar-benar sangat cantik dan juga menggodaku. Edwin, kamu harus sadar.' Batinnya mengutuk dirinya sendiri.
"Sudah cepetan pindah." Perintah Edwin sejutek mungkin, karena dirinya tidak ingin tergoda pada istri yang benar-benar membuat napas Edwin terasa sesak menahan sesuatu.
Sedangkan di ruang makan masih sepi, belum ada tanda-tanda Kenaya dan ayahnya pulang. Sedangkan istri Tuan Topan sendiri masih berada di kamarnya.
Karena tidak ingin berlama-lama menunggu didalam kamar, Beliau segera keluar.
__ADS_1
"Tante Holena ...."
Seru sosok gadis cantik yang usianya masih terlihat muda, setara dengan usia Aluv.
Istri Tuan Topan yang mendengar namanya dipanggil, Beliau mengarahkan pandangannya pada sosok yang sangat dikenalinya.
"Alisa, kamu sudah datang rupanya. Apa kabarnya, sayang? sudah lama Tante tidak pernah bertemu denganmu." Sapa Beliau dan memeluk sosok Alisa.
Dirasa sudah cukup, keduanya melepaskan pelukannya.
"Kabar Alisa sangat baik, Tante. Kalau Tante sendiri, bagaimana?" jawab Alisa dan balik menyapa.
"Kabar Tante juga sangat baik, seperti yang kamu lihat sekarang. Oh ya, kabar Mama dan Papa di Paris, bagaimana? kok tidak ikut."
"Kabar Mama dan Papa juga sangat baik, Tante. Alisa ikut turut berdukacita ya Tante, atas meninggalnya Kak Erwan."
"Syukurlah, kalau kedua orang tua kamu baik-baik saja. Terimakasih atas bela sungkawanya."
"Ngomong-ngomong, Kak Edwin mana Tante? kok tidak kelihatan."
"Kak Edwin lagi di kamar mungkin, bentar lagi juga turun. Mungkin sedang mandi." Sahut Kenaya ikut menimpali.
"Lagian ini kan, sore. Ya sudah kalau gitu, Paman juga mau mandi. Setelah itu, kita makan malam bersama." Timpal Tuan Topan.
"Kenaya, ajak Alisa ke kamarnya. Kalau tidak mau tidur sendirian, kamu bisa tidur dengannya." Ucap ibunya, Kenaya mengangguk.
"Ya, Ma." Jawab Kenaya.
"Alisa mau tidur bareng Kenaya saja, Tante." Ucap Alisa yang akhirnya memilih untuk tidur bareng Kenaya dari pada harus tidur sendirian di kamar tamu.
__ADS_1