
Selesai menikmati sarapan pagi, Edwin segera segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Sedangkan Kenaya sendiri belum diizinkan untuk ikut bersama sang kakak lantaran baru pulang dari Singapura.
"Edwin," panggil sang ayah sambil mengelap mulutnya dengan tissue.
"Ya Pa, ada apa?" sahut Edwin setelah minum air putih dan menoleh pada sang ayah.
"Tidak apa-apa, hanya mengingatkan kamu untuk memantapkan keputusan Papa mengenai pernikahan kamu." Jawab sang ayah penuh harap jika putranya akan menerima keputusan yang tidak bisa untuk dirubah lagi.
Mendengar ucapan dari sang ayah, Edwin berasa ingin memberontak. Tetapi dirinya sendiri tak mampu untuk membentak ataupun yang lainnya.
Bagi Edwin menolak sesuatu pada orang tuanya ya hanya waktu saja. Selanjutnya jika masih ada pemaksaan, Edwin sama sekali tak akan menolaknya walaupun hati terasa dongkol sekalipun.
"Ya, terserah Papa saja. Lebih cepat lebih baik." Ucap Edwin dan bergegas bangkit dari posisinya sekaligus langsung berangkat ke kantor.
Bunda Holena yang melihat ekspresinya pun, rasanya tidak tega jika putranya selalu dijadikan tameng oleh ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Pa, apa tidak kasihan dengan Edwin? perceraiannya saja sudah menghilangkan semangat hidupnya. Terus, sekarang Papa akan menjodohkannya dengan perempuan yang sudah hamil duluan. Mama tahu, ini memang sangat sulit. Tapi, apa tidak sebaiknya Papa pikirkan lagi? kasihan Edwin." Ucap Bunda Holena menimpali serta bernegosiasi dengan suaminya.
Kenaya yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa menjadi pendengar setia kedua orang tuanya. Ingin bertanya tetapi takut akan kena marah, pikir Kenaya yang lebih memilih untuk diam.
"Keputusan Papa sudah bulat, titik. Edwin akan tetap menikahi putrinya Tuan Gentaram, apapun alasannya. Karena aku sangat yakin jika nama Edwin akan kembali bersinar setelah menikah dan istrinya melahirkan. Lagian, anak yang di kandung oleh istrinya Edwin nanti adalah anak dari mendiang Erwan." Jawab Tuan Topan yang tetap pada pendiriannya yang sudah bulat untuk menikahkan putranya dengan putri dari keluarga Praja.
"Pa, kalau kenyataannya anaknya Tuan Gentaram tidak hamil anaknya Erwan, kita bisa apa?"
Bunda Holena yang terus waspada, tak henti-hentinya untuk mengingatkan sang suami agar tidak masuk dalam perangkap keluarga Praja.
Bunda Holena yang tidak lagi punya alasan yang cukup akurat, Beliau lebih memilih mengalah.
"Ya sudah kalau keputusan Papa tidak bisa diganggu gugat, Mama bisa apa? hanya bisa berdoa agar putra kita baik-baik saja dan tidak untuk dijadikan umpan oleh keluarga Praja." Ucap Bunda Holena yang tak bosan untuk terus mengingatkan sang suami agar tidak ceroboh, pikirnya.
Tuan Topan justru tersenyum pada sang istri. Berbeda dengan Bunda Holena tidak begitu menanggapinya dan memilih untuk nurut pada suaminya.
__ADS_1
"Mama tidak usah memikirkan sesuatunya sampai sejauh itu. Ya sudah kalau begitu, Papa mau berangkat ke kantor. Kalau Mama dan Kenaya suntuk dirumah, kalian bisa keluar untuk jalan-jalan. Sepertinya Papa tidak bisa pulang cepat, hari ini kerjaan di kantor sangat padat dan tidak bisa ditinggal. Jadi, Papa dan Edwin absen untuk tidak makan malam di rumah." Ucap Tuan Topan memilih untuk segera berangkat ke kantor.
Bunda Holena tidak banyak untuk bicara, lebih memilih untuk banyak diam.
Tuan Topan yang sudah tidak ada lagi di dalam rumah, kini tinggal lah Bunda Holena dan Kenaya saja.
Karena sifat yang serba ingin tahu, Kenaya segera menghampiri ibundanya dan mengajak sang ibu untuk mengobrol.
"Ma," panggil Kenaya sambil berjalan mendekati sang ibu.
"Ya Ken, kenapa sayang?" sahut sang ibu dan bertanya.
Kenaya pun, segera mendekati ibundanya tercinta.
"Papa dan Mama tadi itu ngomongin apaan sih Ma? Kak Edwin mau menikah? atau ... mau balik lagi dengan Kak Sora." Tanya Kenaya yang serba ingin tahu.
__ADS_1
"Ya, Kakak kamu diminta untuk menikah dengan perempuan yang dihamili Kakak kamu, Erwan." Jawab Bunda Holena dengan terpaksa menceritakannya pada putrinya. Meski sebenarnya Beliau tidak ingin membicarakannya dengan putrinya sendiri.