Penutup Noda

Penutup Noda
Kaget


__ADS_3

Sambil menunggu istrinya, Edwin menyibukkan diri dengan ponselnya. Sedangkan di kamar lain, Alisa dan Kenaya segera keluar dari kamar.


Sambil menuruni anak tangga yang sebelah, Alisa benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Edwin.


"Selamat malam, Tante ... Paman." Sapa Alisa dengan ramah, tak lupa untuk menunjukkan keceriaannya.


"Malam juga, Alisa. Silakan duduk, kita akan makan malam bersama." Sahut Ibunda Holena yang tak lupa juga tersenyum ramah pada Alisa.


"Ya Nak, silakan duduk." Ucap Tuan Topan ikut menimpali.


Alisa dan Kenaya segera duduk, sedangkan Alisa memilih tempat duduk yang biasa Edwin tempati. Berharap, dirinya bisa mencari perhatian ketika duduk bersebelahan dengan sosok lelaki yang pernah ia tolak lantaran statusnya yang sudah menduda.


"Kak Edwin kok belum turun ya, Tante. Kalau begitu, Alisa mau panggil Kak Edwin saja ya, Tan." Ucap Alisa membuka suara.


"Tidak usah kamu panggil, nanti juga turun. Mungkin sedang bersiap-siap, kita tunggu saja." Timpal Tuan Topan berusaha untuk mencegahnya.


"Sabar dikit kenapa, Lis. Bentar lagi juga bakalan turun, penasaran ya sama Kak Edwin? tambah ganteng, tau. Duren, kamu tahu duren? duda keren." Ucap Kenaya ikut berkomentar sambil membatin sendiri, lantaran kakak laki-lakinya sudah beristri.


Bahkan, Kenaya sendiri sudah pernah melihatnya langsung ketika sang kakak tengah berci*uman di ruang kerjanya.


"Gimana mau sabar, penasaran akut akunya, Nay." Jawab Alisa sambil menggigit jari telunjuknya karena geregetan.


Tuan Topan dan istrinya saling menatap satu sama lain, tentunya takut akan membuat Alisa merasa kecewa setelah mengetahui bahwa putranya telah menikah.


Didalam kamar, Edwin masih menunggu istrinya. Karena tidak sabar, Edwin segera bangkit dari posisi duduknya.


BRAK BRAK BRAK


Edwin terus menggedor pintunya berulang kali, tentu saja khawatir dengan keadaan istrinya,

__ADS_1


"Aluv! buka pintunya. Jangan bikin aku panik, atau aku dobrak pintunya. Aku hitung sampai urutan nomor tiga, jangan salahkan aku jika kamu tidak mau membuka pintunya." Panggil Edwin sembari memberi ancaman untuk istrinya.


"Ya ya, bentar." Sahut Aluv sambil membuka pintunya.


Keduanya saling menatap satu sama lain.


"Masih sakit?" tanya Edwin ingin tahu keadaan istrinya.


Aluv menggeleng pelan. "Tidak, sudah mendingan." Jawab Aluv dan menggigit bibir bawahnya.


"Jangan menggodaku, ayo kita turun."


"Siapa juga yang menggoda Kak Edwin, kepedean."


Edwin langsung memutar balikkan badannya lagi.


"Das*ar, me*sum." Celetuk Aluv dengan reflek.


Edwin langsung menatapnya tajam. "Jangan bicara, ayo kita turun."


Ucap Edwin yang langsung meraih tangannya dan mengajaknya untuk keluar dari kamar.


"Aku masih bisa jalan sendiri, jangan memanjakan-ku." Jawab Aluv berusaha untuk melepaskan tangan milik suaminya.


"Baiklah, jangan salahkan aku jika kamu kenapa-napa." Ucap sang suami sekaligus melepaskan tangannya.


Karena sebuah permintaan dari istrinya, Edwin melepaskan tangannya.


Saat hendak menuruni anak tangga, Edwin yang lebih dulu untuk turun. Sedangkan Aluv sendiri memilih berada dibelakang suaminya.

__ADS_1


Sebenarnya sangat senang ketika mendapatkan perhatian dari suaminya, tetapi Aluv menyadari jika dirinya merasa tidak pantas untuk mendapatkan perhatian lebih.


Ya ... walaupun seandainya perhatian dari suaminya itu palsu, tidak akan merubah tekad Aluv yang selalu berjaga-jaga supaya dirinya tidak mudah untuk masuk kedalam perangkap yang akan menjatuhkan nama baiknya sendiri.


Edwin dan Aluv jaraknya tidak begitu dekat saat menuruni anak tangga.


Di ruang makan, rupanya Alisa benar-benar dikejutkan dengan sosok Edwin yang sudah sekian lamanya tidak pernah bertemu.


Tentu saja, Alisa terpesona ketika melihat ketampanan dari sosok Edwin. Berkharisma tinggi, dan bertambah ketampanannya.


'Benar sekali yang dikatakan Nay, Kakaknya memang duren. Tampan, mempesona, berkharisma, duda keren. Kak Edwin benar-benar H*ot, meski tak ada kata daddy-nya.' Batin Alisa saat kedua matanya telah menangkap sosok Edwin tengah berjalan menuju meja makan.


Tidak ingin mengabaikan momen berharga dan kesempatan emas, Alisa langsung bangkit dari posisi duduknya dan lari kecil untuk memeluk Edwin.


"Kak Edwin ...."


Dengan suara cukup keras, Alisa memanggilnya sambil berlari kecil dan langsung memeluk tubuh Edwin.


Seketika, Edwin benar-benar kaget dibuatnya. Hampir jatuh, itu sudah pasti. Karena saat berjalan, tiba-tiba dirinya langsung mendapat pelukan.


Saat itu juga, Aluv sama halnya ikutan terkejut ketika melihat suaminya tengah dipeluk oleh seorang perempuan.


Penasaran, Aluv mencoba untuk mendekatinya dan rasa ingin tahu telah menguasai di benak pikirannya.


Edwin yang merasa risih, segera melepaskan pelukan dari Alisa dengan sekuat tenaganya


"Lepaskan," ucap Edwin berusaha untuk melepaskan pelukan dari Alisa.


Aluv sendiri hanya bisa menyaksikan ketika suaminya dipeluk oleh perempuan yang tidak kenalinya, lantaran tidak begitu jelas wajah ayunya.

__ADS_1


__ADS_2