Penutup Noda

Penutup Noda
Tidak ingin gagal


__ADS_3

Acara lahirnya cucu pertama dari keluarga Galeyandra dan keluarga Praja telah di rayakan di kediaman Tuan Topan Galeyandra.


Waktu pun telah berganti hari dan juga sudah beberapa minggu telah dilewati oleh sepasang suami-istri. Karena tidak ingin adanya perdebatan dan menyimpan banyak pertanyaan, Edwin dan Aluv akhirnya menikah ulang di Kantor Agama dan hanya para saksi yang hadir. Tidak terasa juga waktu yang sudah dilewatinya sudah melebihi dari empat puluh hari lamanya.


Waktu yang begitu lama bagi Edwin, yakni penantian dimalam pertamanya. Dengan kesabarannya, Edwin siap menunggu hingga istrinya sudah siap untuk melayaninya.


Tidak dapat dipungkiri, Edwin sendiri merasa tidak sabar, yang mana dirinya seperti anak yang kurangnya kasih sayang. Rayuan berbagai macam rayuan tidak juga membuahkan hasil yang maksimal, justru seperti anak kecil yang terus merengek.


"Sayang, bangun." Bisik Edwin di dekat telinga istrinya.


Seketika, Radien terbangun dari tidurnya.


Entah kenapa, pendengaran bayi Radien sangat jelas ketika mendengar sesuatu. Bahkan, langkah kaki saja dapat membangunkannya.


"Kan, jadi terbangun." Kata Aluv mendengus.


"Aku sudah tidak sabar, sayang. Masa ya, harus duet rasa solo terus." Ucap Edwin sambil mempermainkan tangannya dengan lihai.


"Bukannya begitu, dari kemarin kan, Radien demam. Tidak mungkin juga aku melakukan ritual."


"Ya, aku lupa. Malam ini bisa, 'kan?"


"Lihat kondisi, soalnya Radien kan, mudah terbangun."


'Andai saja obat tidur baik untuk anak bayi, udah aku kasih obat tidur. Cih! ayah sambung macam apa ini, tapi masa ya, aku harus bersaing dengan ini bayi.' Batin Edwin.


Aluv yang merasa terganggu dan merasa tidak nyaman ketika menyu*sui putranya, berkali-kali ia menyingkirkan tangan suaminya yang sudah mulai aktif tidak karuan.


Karena tidak ingin putranya terganggu saat hendak tidur, Aluv menyempatkan diri untuk menoleh pada suaminya.


"Lepasin dulu ini tangannya, kalau begini terus, Radien tidak mau tidur, sayangku, cintaku, suamiku tersayang ...."


Bukannya marah, Edwin seperti tidak percaya ketika istrinya berucap yang selama ini tidak pernah di dengarnya.


"Kamu bilang apa tadi? sayangku, cintaku, suamiku tersayang, itu modus atau bohongan?"


"Modus." Jawab Aluv dengan santai.

__ADS_1


"Kok modus, bohong berarti."


"Kalau Kak Edwin terus bertanya, Radien kapan tidurnya?"


"Hem, baiklah aku akan menunggunya di ruang kerja. Jika Radien sudah tidur, jangan lupa tekan tombol ruang kerjaku." Ucap Edwin yang pada akhirnya menyerah.


"Ya, nanti aku akan panggil kalau Radien sudah tidur." Jawab Aluv.


"Ya sudah, aku mau ke ruang kerjaku." Kata Edwin dan bergegas keluar dari kamar.


Sedangkan Aluv merasa lega karena putranya tidak lagi terganggu tidurnya termasuk Aluv sendiri yang juga merasa ngantuk yang amat berat untuk ditahan.


Bukannya tidak mau memanfaatkan adanya baby sitter, Aluv hanya ingin merawat putranya sendiri. Capek, letih, dan juga waktu yang terkuras untuk merawat putranya, tidak membuat Aluv mengeluh menjadi seorang ibu.


Justru, Aluv begitu semangat untuk membesarkan putranya. Bahkan, Aluv mencukupinya dengan ASI.


Rasa kantuk yang sudah tidak tertahan lagi, bersama putranya tidur dengan pulas. Bahkan, Aluv sendiri lupa dengan pesan dari suaminya.


Edwin yang sedari tadi menunggu sambil menyibukkan diri di ruang kerjanya, rasa kantuk juga ikut mengganggu dirinya.


"Sialan, kenapa aku jadi ngantuk begini. Edwin, ingat diingat, kapan lagi kalau bukan malam ini, coba. Udah lima puluh hari lebih, apa ya mau sampai seratus hari." Gerutu Edwin sambil mengacak-acak rambutnya yang tidak gatal.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktunya, Edwin segera bergegas masuk ke kamar.


Alangkah terkejutnya saat melihat istrinya tengah tidur pulas bersama Radien, putranya.


PLAK!


Edwin menepuk keningnya karena kesialan dirinya sendiri.


"Gagal lagi, gagal lagi. Sepertinya aku perlu mengungsikan itu anak, tapi sama siapa? ah! ya, ada Mama. Tapi ... tidak mungkin juga kalau sekarang." Gumam Edwin dengan posisi tangan yang berkacak pinggang.


Karena tidak ingin menyerah begitu saja, Edwin mencoba untuk membangunkan istrinya. Berharap, kali ini tidak akan gagal, pikirnya yang tanpa mengenal kata menyerah.


Tapi sebelumnya, Edwin menata tempat yang akan dijadikan ritual panjangnya. Setelah itu, dengan pelan-pelan, Edwin membangunkan istrinya agar Radien tidak terbangun.


"Sayang," panggil Edwin berbisik didekat daun telinga istrinya.

__ADS_1


Aluv tidak merespon, lantaran rasa kantuk nya jauh lebih besar dari pada mengumpulkan kesadarannya.


"Aku pingin itu , sayang. Sayang, ayo bangun." Bisik-nya yang begitu lirih dengan suaranya, agar tidak membangunkan Radien yang tengah tidur dengan pulasnya.


Aluv sontak kaget saat sesuatunya tersentuh oleh tangan suaminya yang mulai aktif. Kemudian, ia segera menoleh sambil menyempurnakan penglihatannya.


"Sayang, ayo bangun."


"Ngapain?" tanya Aluv yang mendadak lupa karena rasa kantuk nya itu yang sulit untuk di tahan.


"Aku udah siapkan tempatnya." Kata Edwin sambil mengedipkan matanya.


Aluv yang masih sangat mengantuk, berkali-kali mengucek kedua matanya dan juga menguap. Sesekali ia mencoba mengingatnya, tetap saja hasilnya nihil.


Edwin yang sudah tidak sabar, ia langsung menggendong tubuh istrinya itu ke kamar mandi.


Memberontak pun, tidak mungkin dilakukan oleh Aluv. Karena sedikit saja terdengar suara cukup keras, pastinya Radien akan terbangun dari tidurnya.


Saat sudah berada di kamar mandi, Aluv merasa bingung dengan suaminya sendiri.


"Mau ngapain di kamar mandi? aku sedang tidak kebelet, sayang." Tanya Aluv yang masih tidak mengerti, antara rasa kantuk dan juga belum tersadar penuh dari ingatannya.


"Cuci muka kamu dulu, terus lanjut gosok gigi. Habis itu, kamu akan menyadari semuanya, sayang." Jawab Edwin sambil mengambilkan cuci mukanya, dan menyodorkannya.


Dengan mata yang mengantuk, Aluv nurut saja dengan perintah suaminya yang menurutnya sangatlah konyol. Kemudian, Edwin lanjut mengambilkan sikat dan pesta giginya sekaligus dan memberikannya pada sang istri.


Lagi-lagi Aluv tak memikirkannya lebih jauh, karena batinnya akan diberi kejutan dari suaminya.


Selesai semuanya termasuk buang air kecil, Edwin langsung menggendong istrinya sampai di tempat yang sudah disediakan sejak masuk ke kamar.


Sampai di kamar, Aluv tersadar semuanya dan langsung menoleh pada suaminya yang tengah berdiri di sampingnya dengan posisi sedikit menyerong.


Tanpa aba-aba, Edwin langsung mendaratkan sebuah ciu*man hangat di tengah malam yang sudah sunyi dan juga sepi. Aluv sendiri tidak bisa menolaknya.


Dengan lihai dengan begitu leluasa, Edwin mengangkat tubuh istrinya dan menidurkan ditempat yang sudah disiapkan oleh Edwin, suaminya. Meski masih tinggian tempat tidurnya, setidaknya dapat menikmati malamnya yang sudah sekian lama menunggu.


Kini, posisi Aluv sudah berbaring. Edwin mulai memb*elai istrinya begitu mesra.

__ADS_1


__ADS_2